BERBAGI INFORMASI,BERBAGI KECERIAAN DAN MOTIVASI DALAM MENGARUNGI KEHIDUPAN.
Laman
▼
Jumat, 25 Mei 2012
Si Gadis Cilik Tanpa Rambut Bisa Sekolah Lagi
Doratea Abi (18), gadis asal Nunpene,
Kelurahan Oesena, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara,
Nusa Tenggara Timur yang hidup tanpa rambut bahkan alis, kini dapat
melanjutkan sekolahnya. Sebelumnya, Doratea nyaris putus sekolah karena
menunggak uang sekolah, dan orang tuanya tak mampu melunasi.
"Puji Tuhan akhirnya saya bisa sekolah kembali, berkat sumbangan dari
pembaca Kompas.com yang baik hati, khususnya kepada Ibu Liani di Jakarta
yang telah dengan iklas membantu saya yang mengalami keterbatasan biaya
sekolah," kata Doratea sambil terisak menahan tangis bahagianya, Jumat
(25/5/2012).
Doratea yang selalu menjadi juara di kelasnya,
mendapat bantuan uang sebesar Rp 2.500.000. Uan itu dipakai untuk
membayar uang SPP dan Komite kelas II dan III dan uang PKN yang
ditunggaknya selama empat bulan, sebesar Rp 1.980.000. Sedangkan sisanya
dipakai untuk membeli buku dan ternak untuk dipelihara.
Dorotea pun membeli sebuah telepon selular untuk berkomunikasi, karena
menurut pengakuan Doratea, pponsel lamanya hilang dicuri orang. "Sisa
uang sebanyak Rp 520.000 akan saya pakai untuk membeli buku, ternak dan
handphone bekas karena kemarin handphone saya hilang saat saya simpan di
rumah. Saya ingin beli handphone karena mau hubungi ibu Liany yang
telah membantu saya. Untuk mengucapkan terima kasih atas bantuannya,"
kata Doratea.
Sementara itu, ayah Doratea, Fransiskus Abi tak
kuasa menahan air matanya karena tidak menyangka kalau masih ada orang
yang mau membantu anaknya bersekolah."Terima Kasih yang berlimpah kepada
Tuhan Yang Maha Esa karena telah mengabulkan doa saya selama ini.
Selain itu terima kasih saya untuk ibu Liany semoga diberi rezeki yang
berlimpah atas amal dan bantuannya untuk anak saya," kata Fransiskus.
Prestasi Doratea di sekolah juga diakui oleh wali kelasnya, Gaspar
Fernandes. "Doratea di kelas tergolong anak yang pintar, terutama kalau
pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris di dalam kelas dia yang
terbaik dan seringkali mengikuti lomba pidato pakai bahasa Inggris
antarsekolah di Kabupaten TTU dan mendapat juara pertama," kata
Fernandes.
Diberitakan sebelumnya, gadis yang sempat
mengungkapkan cita-cita ingin menjadi wartawan itu terancam putus
sekolah karena orangtuanya tidak punya biaya untuk membayar uang
sekolahnya. "Bapa dan mama menyuruh saya untuk berhenti sekolah karena
tidak punya uang lagi, padahal tanggal 4 Juni 2012 nanti saya harus
mengikuti ujian kenaikan kelas," kata Doratea belum lama ini.
Ia mengatakan, kondisi keuangan keluarganya pas-pasan karena pekerjaan
ayahnya, Fransiskus Abi, dan ibunya, Susana Sena, sebagai penjual garam
tidak bisa membantu keinginan kuatnya untuk terus bersekolah. Meskipun
begitu, hal itu tidak menjadikan penghalang baginya untuk tetap
bersekolah.
"Uang sudah tidak ada lagi kakak. Jadi, saya minta
tolong, kalau ada kerja apa saja tolong informasikan untuk saya, biar
saya bisa kerja karena yang penting saya bisa selesaikan sekolah sampai
tamat," kata Doratea.
Doratea menambahkan, uang sekolahnya
belum dibayar sejak bulan Maret sampai Juni, yakni sebanyak Rp 750.000
dan untuk uang surat pembuktian penyetoran (SPP) sebanyak Rp 700.000
belum dibayar sama sekali. Adapun uang sekolah sebelumnya dibayar dengan
menggunakan beasiswa yang didapatnya.
"Sebelumnya pada
semester I saya dapat beasiswa, jadi bisa membantu membayar uang
sekolah. Tetapi pada semester sekarang belum dapat, sehingga saya sempat
meminta bantuan kepada teman-teman dan guru-guru," ungkap Doratea.
Fransiskus Abi mengatakan, dirinya terpaksa menyuruh anaknya berhenti
sekolah karena usaha menjual garam yang dilakoninya sementara ini sepi
pelanggan. "Jangankan untuk membiayai sekolah anak, untuk makan
sehari-hari saja kita sudah susah, jadi terpaksa saya menyuruh Doratea
untuk berhenti sekolah," kata Abi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar