MAUMERE
-
Warga masyarakat nelayan pulau Pemana, sebuah pulau di sebelah utara pulau
Flores yang berada di wilayah kabupaten Sikka sejak jaman nenek moyang selalu
mengadakan ritual adat Pamanga Tamianotai guna memberi makan kepada laut.Ritual
adat ini sejak tahun 1980-an sudah hilang dan hampir punah.
Bagi warga pulau Pemana
yang masuk dalam wilayah kecamatan Alok dengan waku tempuh 2 sampai 3 jam perjalanan menggunakan kapal
penumpang dari Maumere, sebagai nelayan mereka merasa bahwa hasil tangkapan
ikan selalu berkurang setiap tahunnya.
Memberi makan kepada
laut menurut Haji Bahamid Yunus yang ditemui Cendana News Kamis ( 26/11/2015 )
saat pagelaran ritual adat, memiliki makna memberikan sedekah atau persembahan
kepada penguasa laut agar para nelayan bisa dierikan rejeki yang cukup yang
ditandai dengan meningkatnya hasil tangkapan ikan para nelayan.
\
Selain itu juga selaku
tetua adat sekaligus imam masjid desa Pemana Yunus berharap agar penguasa laut
bisa menjaga para nelayan selama mengarungi lautan guna menangkap ikan. Hasil
tangkapan nelayan ungkap Yunus, setiaptahun selalu berkurang dan ikan tangkapan
semakin sulit ditemukan.
“ Biasanya kami melaut
cuma dua tiga jam sudah dapat ikan Tuna atau Cakalang, tapi saat ini bisa butuh
waktu tujuh sampai delapan jam berlayar ke laut lepas mencari ikan, “ ujarnya.
Dengan menggelar ritual
ini tutur Yunus, para nelayan diajak untuk kembali mencintai laut dengan menjaga
ekosistem laut. Nelayan pun disatukan dan membuat janji untuk tidak menangkap
ikan dengan bom, alat penagkap ikan seperti pukat atau jaring yang dilarang
serta memakai racun dari tumbuhan lokal maupun bahan kimia.
“ Kegiatan ini juga
untuk menyadarkan mereka dan membuat mereka takut untuk menangkapikan dengan
merusak biota laut dan terumbu karang, “ ungkap Yunus.
Pantangan
Bagi Nelayan
Keseriusan para nelayan
yang mayoritas merupakan keturunan suku pendatang dari Selayar, Bone, Buton dan
Bugis di Sulawesi ini disampaikan dalam pernyataan sikap yang dibacakan
perwakilan nelayan usai ritual di tengah laut.
Dalam pernyataan sikap
yang ditandatangani kelompok nelayan dan dibacakan dihadapan wakil bupati
Sikka, Drs.Paolus Nong Susar, kepala dinas Kelutan dan Perikanan kabupaten
Sikka, Ir.Lukman,Msi, kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut
kementrian Kelautan dan Perikanan wilayah Denpasar,Ikram Sangaji, Danlanal
Maumere, Kolonel Laut ( P ) Carmadi, Dandim 1603 Sikka, Letkol ( Arh ) Settya
Wardhana serta Wakapolres Sikka, Kompol Suprihatiyanto,SIK, para nelayan
berjanji tidak akan menangkap ikan dengan cara merusak lingkungan.
Selain itu, para
nelayan juga berjanji akan bekerjasama dengan pemerintah dalam menjaga zona
laut yang menjadi zona inti pengembangan potensi keluatan. Juga para nelayan
bersedia membantu pemerintah dan aparat keamanan memerangi para penangkap ikan
baik dari kabupaten Sikka maupun dari luar daerah yang melakukan penangkapan
ikan dengan cara merusak lingkungan.
Bahrudin Yusuf salah
seorang tokoh nelayan Pemana yang dijumpai penulis di sela – sela acara ritual
menyebutkan, kegiatan ritual ini merupakan warisan dari para leluhur mereka
untuk mengikat para nelayan dalam menjaga laut dengan tidak menangkap ikan
dengan cara merusak terumbu karang.biota laut dan alam.
Sebagai masyarakat
nelayan sambungnya mereka diikat dengan ritualadat dimana didalamnya terdapat
pantangan dan larangan bagi para nelayan yang mana bila dilanggar akan
mendatangkan mala petaka bagi si nelayan.
Pasang
Rumpon
Disaksikan Cendana
News, sejak pukul 09.30 wita sekitar 40 kapal nelayan Pole and Line berbobot
mati 30 dan 40 ton ditambah puluhan perahu motor tradisonal sudah bersiap di depan perairan pulau
Kambing, pulau karang berpasir putih tanpa penghuni sepanjang kurang lebih 500
meter yang berada sekitar 3 kilometer arah timur pulau Pemana.Kapal nelayan
yang dipenuhi masyarakat ini menjemput rombongan wakil bupati yang menggunakan
kapal patrolik milik Lanal Maumere.
Setelah sampai di dekat
pulau Kambing, kapal Lanal Maumere disertai sebuah kapal motor yang mengangkut
perlengkapan ritual dan perwakilan nelayan bertolak ke arah utara pulau Kambing
sejauh kurang lebih 10 kilometer. Seekor kambing hitam berukuran besar
disembelih di atas kapal oleh Haji Yunus. Sebelumnya dilakukan pembacaan doa
dan kepala kambing pun dibuang ke laut. Di saat bersamaan ister Haji Yunus
melafalkan doa seraya menghamburkan beras ke tengah laut berulang kali. Sebuah
Rumpon juga ikut dilepas.
Menurut Haji Boy,SP
seorang tokoh pemuda Pemana yang memandu
ritual, selain menggelar ritual adat, para nelayan juga memasang beberapa
Rumpon agar ikan – ikan bisa berkumpul di sekitarnya. Rumpon yang diatasnya
diikat daun – daun kelapa ini sebut Boy menjadi tempat berkumpulnya plankton
dan ikan – ikan kecil. Plankton dan ikan – ikan kecil ini merupakan makanan
ikan – ikan besar sehingga secara otomatis ikan – ikan besar akan datang
menghampiri dan berkumpul di sekitar Rumpon.
Ritual adat ini ditutup
dengan melarungkan 7 perahu mainan berukuran panjang sekitar 1,5 sampai 2 meter
dengan lebar 50 sampai 70 senti meter. Di dalam perahu tersebut di letakan
sesajen berupa makanan, minuman dan rokok. Perahu layar ini pun dibuat
menyerupai perahu nelayan warisan nenek moyang orang Pemana dan dibuat memakai bahan gabus dan bambu.Juga di atasnya
diletakan boneka dan orang – orangan yang didandani layaknya manusia.
“ Ada 7 perahu dibuat
dimana satu perahu mewakili 10 kapal penangkap ikan. Jadi di Pemana ada sekitar
70 kapal penagkap ikan, “ ungkap Haji Boy.
Sebelum di larung ke
laut, setiap kelompok nelayan diminta berada di sekitar perahunya masing –
masing. Kembali Yunus beserta isterinya bersimpuh di dekat perahu melafalkan
doa.Satu per satu perahu pun di angkat perwakilan kelompok nelayan dan di lepas
ke laut. Anak – anak nelayan berenang mendorong perahu hingga jerak sekitar 100
meter dari bibir pantai. Satu persatu
perahu yang dilarungkan terlihat mulai terbawa angin dan arus ketengah laut di
sertai teriakan syukur masyarakat nelayan Pemana yang berderet di pinggir
pantai.
Usai santap bersama,
dilakukan berbagai acara seperti lomba perahu hias, lomba kuliner lokal, tarian
daerah serta diserahkan bantuan perahu penangkap ikan dan alat tangkap dari
dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Sikka. Juga diluncurkan peta laut dan
potensi kekayaan laut kabupaten Sikka. Hampir semua penduduk pulau Pemana
menghadiri rangkaian ritual ini dengan menumpang kapal – kapal nelayan dengan
membawa makanan dan minuman. Di areal pasir putih pulau Kambing dipasang tenda
– tenda dari terpal sebagai tempat berteduh.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar