
Sisi
lai El Tari Memorial Cup XXVII
SEBUAH turnamen sepakbola sedang
berlangsung di Maumere.Event olahraga favorit di propinsi Nusa Tenggara Timur (
NTT ) ini merupakan adu genngsi dan pertarungan mendebarkan yang selalu di
tunggu penonton.Siapa yang keluar sebagai juara akan merasakan kebanggaan sebab
bisa memboyong piala El Tari Memorial Cup ke wilayahnya.
Biasanya sang pemenang
sudah dinantikan masyarakat di wilayahnya usai perhelatan dan team disambut bak
raja serta diarak keliling kota. Penjemputan team baik di bandara maupun di
perbatasan wilayah kabupaten kota bila menggunakan mobil, dilakukan semarak.
Ratusan kendaraan roda dua dan roda empat dikerhakn.Pesta semalam suntuk pun
digelar.
Pagelaran turnamen El
Tari Memorial Cup yang diadakan dua tahun sekali di bumi Flobamorata bukan saja
memberikan sebuah suguhan pertandingan sepak bola dan euforia para suporter
saat kesebelasan kebanggaan mereka lolos namun mendatangkan rejeki bagi
masyarakat kecil.
Efek turnamen El Tari
Memorial Cup ( ETMC) ke XXVII yang diselenggarakan di Maumere sejak 20 Oktober
hingga 13 November 2015 ini dirasakan Jhon, salah seorang penjual es krim. Saat
disambangi media Flores Kita, Jhon yang tak bersedia menyebutkan nama
lengkapnya merasa bersyukur sebab tahun 2015 event ini diadakan di Maumere.
Sejak pukul 13,30 wita
dirinya wajib berada di stadion Gelora Samador satu-satunya tempat pertandingan
di event ini.Dengan gerobak mini beroda dua, dirinya setia menanti pembeli es
krim miliknya. Sebuah es krim dihargai seribu rupiah.Dalam 4 jam saja dirinya
bisa mendapatkan pemasukan 300 ribu rupiah.
“ Kalau laku 300 ribu
rupiah saya bisa dapat untung 150 ribu rupiah. Sangat lumayan sebab uangnya
bisa dipakai untuk modal dan kebutuhan keluarga lainnya “ ujarnya berapi – api.
Jika tidak ada turnamen
ini, dirinya terbiasa mendorong gerobak menjajakan es krim buatannya sendiri di
beberapa penjuru kota Maumere. Sejak keluar dari rumah pukul 09.00 wita, Jhon
mengatakan dirinya mangkal terlebih dahulu di areal pertokoan Maumere dan
menunggu waktu dimulainya pertandingan sepak bola.
Sebelm jam 14.00 wita
dirinya harus sudah ada di Gelora Samador karena pertandingan partai pertama
berlangsung jam 13.45 wita sementara partai kedua berlangsung pukul 16.00 wita
dan berakhir sekitar pukul 16.00 wita.
Usai oertandingan,
dirinya pun bergegas kembali ke rumah karena harus mempersiapkan bahan – bahan
untuk mengolah es krim dan melepas penat sebentar usai santap malam. Sesudahnya
dia tidur dan sebelum subuh harus bangun untuk mengolah es krim.
Jika tidak ada event
ini sebut Jhon, paling banter dalam sehari dia bisa meraup pemasukan sebanyak
200 ribu rupiah.Dirinya bersykur sebab dengan rentang waktu penyelenggaran
pertandingan yang mendekati sebulan dia bisa terus berjualan di stadion tanpa
capek menguras tenaga mendorong gerobak keliling kota Maumere.
“ Paling setelahkeluar
rumah jam 9 pagi saya nongkrong di pertokoan dulu. Kalau sudah jam satu siang
baru bersiap ke lapangan yang cuma berjarak sekitar 500 meter saja “ ungkapnya.
Ayah dua anak yang
masih balita inimengatakan, ilmu mengolah es krim didapatnya saat berjaulan es
krim milik seorang perantau asal Jawa. Selama 5 tahunbekerja, dirinya belajar
cara mengolah es krim hingga mahir dan memberanikan mengundurkan diri tahun
2014. Dengan bekal modal yang dikumpulkan, dirinya membeli sebuah gerobak dan
mulai meracik es krim buatan sendiri untuk dicicipi pembeli.
“ Kalau es krinya saya
buatsendrii cuma kap ( wadah menaruh es krim ) nya saja yang saya beli karena
belum bisa membuatnya sendiri. Saya juga sendirian jadi tidak punya waktu untuk
membuatnya “ tuturnya.
Penulis dan seorang
teman wartawan diminta mencicipi es krim miliknya secara gratis. Jika dilihat,
dengan uang seribu rupiah, es krim yang dibeli rasanya pun lumayan enak.Saat
ditanyai apakah dirinya membayar tiket masuk dan dipungut biaya lainnya, Jhon
mengatakan dirinya hanya membeli karcis masuk seharga 5 ribu rupiah sekali
masuk.Kalau hanya bayar 5 ribu rupiah bagi Jhon tidak terlalu berat sebab
dirinya bisa meraup keuntungan besar.
Saat ditanyai
kesebelasan dari daerah mana yang dijagokannya untuk berlaga di final turnamen
ini, Jhon dengan lantang menjawab PSN Ngada dan PSk Kota Kupang.Tai baginya,
siapapun yang menang tentunya harus benar – benar bermain bagus dan layak jadi
juara bukan direkayasa.
Penulis : Ebed de
Rosary
Penulis : Ebed de Rosary Email
: ebedallan@gmail.com
Wartawan : Media NTT, Flores Kita.Com, Tiro News dan
Ombudsman Indonesia serta kontributor beberapa media nasional dan asing.
Tinggal di Maumere, Flores -NTT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar