Laman

Rabu, 28 Oktober 2015

Meraup Untung Dari Turnamen EL Tari Memorial Cup


Sisi lai El Tari Memorial Cup XXVII

SEBUAH turnamen sepakbola sedang berlangsung di Maumere.Event olahraga favorit di propinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT ) ini merupakan adu genngsi dan pertarungan mendebarkan yang selalu di tunggu penonton.Siapa yang keluar sebagai juara akan merasakan kebanggaan sebab bisa memboyong piala El Tari Memorial Cup ke wilayahnya.

Biasanya sang pemenang sudah dinantikan masyarakat di wilayahnya usai perhelatan dan team disambut bak raja serta diarak keliling kota. Penjemputan team baik di bandara maupun di perbatasan wilayah kabupaten kota bila menggunakan mobil, dilakukan semarak. Ratusan kendaraan roda dua dan roda empat dikerhakn.Pesta semalam suntuk pun digelar.

Pagelaran turnamen El Tari Memorial Cup yang diadakan dua tahun sekali di bumi Flobamorata bukan saja memberikan sebuah suguhan pertandingan sepak bola dan euforia para suporter saat kesebelasan kebanggaan mereka lolos namun mendatangkan rejeki bagi masyarakat kecil.

Efek turnamen El Tari Memorial Cup ( ETMC) ke XXVII yang diselenggarakan di Maumere sejak 20 Oktober hingga 13 November 2015 ini dirasakan Jhon, salah seorang penjual es krim. Saat disambangi media Flores Kita, Jhon yang tak bersedia menyebutkan nama lengkapnya merasa bersyukur sebab tahun 2015 event ini diadakan di Maumere.

Sejak pukul 13,30 wita dirinya wajib berada di stadion Gelora Samador satu-satunya tempat pertandingan di event ini.Dengan gerobak mini beroda dua, dirinya setia menanti pembeli es krim miliknya. Sebuah es krim dihargai seribu rupiah.Dalam 4 jam saja dirinya bisa mendapatkan pemasukan 300 ribu rupiah.

“ Kalau laku 300 ribu rupiah saya bisa dapat untung 150 ribu rupiah. Sangat lumayan sebab uangnya bisa dipakai untuk modal dan kebutuhan keluarga lainnya “ ujarnya berapi – api.

Jika tidak ada turnamen ini, dirinya terbiasa mendorong gerobak menjajakan es krim buatannya sendiri di beberapa penjuru kota Maumere. Sejak keluar dari rumah pukul 09.00 wita, Jhon mengatakan dirinya mangkal terlebih dahulu di areal pertokoan Maumere dan menunggu waktu dimulainya pertandingan sepak bola.

Sebelm jam 14.00 wita dirinya harus sudah ada di Gelora Samador karena pertandingan partai pertama berlangsung jam 13.45 wita sementara partai kedua berlangsung pukul 16.00 wita dan berakhir sekitar pukul 16.00 wita.

Usai oertandingan, dirinya pun bergegas kembali ke rumah karena harus mempersiapkan bahan – bahan untuk mengolah es krim dan melepas penat sebentar usai santap malam. Sesudahnya dia tidur dan sebelum subuh harus bangun untuk mengolah es krim.

Jika tidak ada event ini sebut Jhon, paling banter dalam sehari dia bisa meraup pemasukan sebanyak 200 ribu rupiah.Dirinya bersykur sebab dengan rentang waktu penyelenggaran pertandingan yang mendekati sebulan dia bisa terus berjualan di stadion tanpa capek menguras tenaga mendorong gerobak keliling kota Maumere.

“ Paling setelahkeluar rumah jam 9 pagi saya nongkrong di pertokoan dulu. Kalau sudah jam satu siang baru bersiap ke lapangan yang cuma berjarak sekitar 500 meter saja “ ungkapnya.

Ayah dua anak yang masih balita inimengatakan, ilmu mengolah es krim didapatnya saat berjaulan es krim milik seorang perantau asal Jawa. Selama 5 tahunbekerja, dirinya belajar cara mengolah es krim hingga mahir dan memberanikan mengundurkan diri tahun 2014. Dengan bekal modal yang dikumpulkan, dirinya membeli sebuah gerobak dan mulai meracik es krim buatan sendiri untuk dicicipi pembeli.

“ Kalau es krinya saya buatsendrii cuma kap ( wadah menaruh es krim ) nya saja yang saya beli karena belum bisa membuatnya sendiri. Saya juga sendirian jadi tidak punya waktu untuk membuatnya  “ tuturnya.

Penulis dan seorang teman wartawan diminta mencicipi es krim miliknya secara gratis. Jika dilihat, dengan uang seribu rupiah, es krim yang dibeli rasanya pun lumayan enak.Saat ditanyai apakah dirinya membayar tiket masuk dan dipungut biaya lainnya, Jhon mengatakan dirinya hanya membeli karcis masuk seharga 5 ribu rupiah sekali masuk.Kalau hanya bayar 5 ribu rupiah bagi Jhon tidak terlalu berat sebab dirinya bisa meraup keuntungan besar.

Saat ditanyai kesebelasan dari daerah mana yang dijagokannya untuk berlaga di final turnamen ini, Jhon dengan lantang menjawab PSN Ngada dan PSk Kota Kupang.Tai baginya, siapapun yang menang tentunya harus benar – benar bermain bagus dan layak jadi juara bukan direkayasa.

Penulis : Ebed de Rosary

Penulis : Ebed de Rosary                               Email : ebedallan@gmail.com

Wartawan : Media NTT, Flores Kita.Com, Tiro News dan Ombudsman Indonesia serta kontributor beberapa media nasional dan asing. Tinggal di Maumere, Flores -NTT


Tidak ada komentar:

Posting Komentar