Ende merupakan sebuah kabupaten sekaligus ibukota kabupaten di
Propinsi Nusa Tenggara Timur. Letaknya persis di Pulau Flores bagian
tengah. Sebuah kabupaten dengan luas wilayah 2.046,60 km2 ini memiliki
banyak obyek wisata alam yang menarik. Danau tiga warna Kelimutu
terdapat di sana. Pemandangan pesisir pantai yang menakjub memiliki daya
tarik tersendiri. Satu pesona yang tak bisa dilupakan adalah gunung
Meja yang berdiri perkasa. Pemandangan saat mendarat di bandara H. Hasan
Aroeboesman Ende dari sisi kiri sangat menakjubkan. Kita dapat melihat
semenanjung Ende, dengan Gunung Meja yang menjadi ciri khas Kota Ende.
Disebut Gunung Meja karena puncaknya yang rata seperti meja. Gunung ini
memiliki legenda yang menyedihkan, cinta yang tidak bersambut.
Legenda Gunung Meja
Alkisah, terdapat dua pemuda bernama Meja dan Wongge.
Meja adalah pemuda rupawan dan baik hati, sedangkan Wongge
berpenampilan buruk , baik fisik maupun watak. Kedua pemuda ini
mencintai seorang pemudi bernama Iya, kembang desa di kota Ende.
Pinangan Meja disambut dengan tangan terbuka oleh Iya, sedangkan
pinangan Wongge ditolak. Wongge marah besar. Sakit hati karena cintanya
ditolak, Wongge berencana untuk membunuh Meja. Pikirnya, Meja tidak
boleh menikah dengan Iya. Maka di suatu malam ketika Meja sedang tidur
lelap, Wongge mengendap dan memenggal kepalanya dengan parang. Pulau Koa
yang berada di timur Ende adalah pulau karang yang tidak berpenghuni
dan berbentuk mirip seperti kepala, yang diyakini sebagai potongan
kepala dari Meja. Sedangkan Pulau Ende yang berada di barat Ende dan
berbentuk seperti parang jika tampak dari atas, diyakini sebagai
perwujudan dari parang yang dibuang oleh Wongge. Gunung Ia adalah gunung
berapi yang masih aktif. Jika dia mengeluarkan asap atau mengeluarkan
semburan, maka masyarakat Ende meyakini bahwa Ia sedang menangis sedih
karena ditinggal mati oleh Meja.
Analisis Antropologis
Legenda tiga gunung, yakni gunung Meja, gunung Wongge dan gunung Iya
di atas tidak terlepas dari budaya dan kearifan lokal yang telah menjadi
denyut jantung masyarakat Ende. Kebersamaan dan gotong royong di antara
sesama masyarakat sangat dijunjung tinggi. Hal ini sangat jelas
terekspresikan dalam tarian Gawi. Tarian ini memaknai masyarakat Ende
yang sangat plural. Semua bergandengan tangan, bahu – membahu dan gotong
royong membangun “tana watu – nua ola” (kampung halaman) tercinta.
Budaya gotong royong, kebersamaan, toleransi dan menghargai orang lain
ini pula terimplikasi dalam hubungan personal antarlawan jenis.
Masyarakat Ende memaknai kehidupan ini adalah bagian dari membantu
dan menghargai sesama. Sikap menghormati sesama, termasuk lawan jenis
tidak boleh dicerai-beraikan atas dasar perbedaan apapun. Namun tak
dapat dipungkiri seperti dalam kehidupan masyarakat pada umumnya
perselisihan selalu sering terjadi. Entah itu alas an cemburu, iri hati
dan dendam. Kisah dalam legenda gunung Meja menampilkan sosok Meja,
Wongge dan Iya. Meja adalah seorang baik hati dan tidak sombong. Wongge
adalah seorang yang berwatak kurang baik. Sedangkan Iya adalah primadona
cantik dan baik hati. Kecantikan fisik dan hatinya menjadi daya tarik
maha dasyat bagi Meja dan Wongge. Tokoh Meja dalam legenda di atas mau
menampilkan sosok orang yang baik hati, jujur, tidak sombong dan
kerendahan hati masyarakat Ende. Adapun sosok Wongge mau menampilkan
orang yang sombong dan tidak mau bekerja sama. Ia selalu mau menang
sendiri, menaruh dendam dan cemburu kepada orang lain. Sementara
masyarakat Ende sangat menjunjung tinggi kebersamaan dan pluralitas,
anti terhadap cemburu dan dendam. Sikap hidup yang demikian berlaku juga
dalam urusan cinta. Seorang pemuda yang apabila pinangannya terhadap
seorang gadis tidak diterima, maka ia harus rendah hati dan menerima
dengan lapang dada. Ia tidak boleh benci dan dendam. Memakai istilah
yang lebih keren, ia harus menjunjung tinggi sportivitas. Artinya
menerima dengan rendah hati segala kekurangannya. Dengan menyadari
kekurangannya, ia dapat merefleksikan dan mampu menemukan kebaikan. Di
sinilah letak sportivitas cinta yang harus dimaknai bagi masyarakat
Ende.
Pesan Moral
Aristoteles (384 – 322 SM), seorang filsuf Yunani kuno pernah mencetuskan istilah zoon politikon,
bahwa manusia selalu ingin bergaul dan hidup bersama serta selalu
berkumpul bersama. Manusia adalah makhluk yang bermasyarakat. Kehidupan
bermasyarakat yang ideal menurut Aristoteles, adalah masyarakat yang
peka dengan kebutuhan sesamanya. Masyarakat yang saling bekerja sama.
Tidak saling iri hati dan cemburu. Singkatnya kita mendambakan
masyarakat yang harmonis. Potret masyarakat yang demikian pula yang
menjadi dambaan masyarakat Ende.
Legenda Gunung Meja, Gunung Wongge dan Iya di atas sekiranya mau
memberikan pesan moral bagi masyarakat Ende khususnya. Masyarakat Ende
mendambakan kehidupan yang harmonis dan saling bergandengan tangan satu
sama lain. Tidak cemburu dengan kelebihan (kekayaan) orang lain dan
menerima kekurangan dengan rendah hati. Tidak memandang sesama sebagai
saingan melainkan sebagai sahabat. Masyarakat Ende menerima perbedaan
setiap orang dan menerapkan pluralitas sebagaimana manusia yang
merupakan makhluk social. Dengan demikian terbentuklah masyarakat ideal
yang harmonis dan saling menghargai. Inilah pesan moral yang mau
disampaikan dalam legenda Gunung Meja.
Catatan Kritis
Sebagaimana adanya sebuah legenda diciptakan untuk menyampaikan pesan
tertentu kepada masyarakatnya. Biasanya pesan itu mengandung moral,
etika dan etis-religius. Terlepas benar terjadi atau tidaknya, kisah
gunung Meja, gunung Wongge dan gunung Iya memberikan pendidikan nilai
tersendiri bagi putra – putri Ende. Cerita itu selalu didongengkan oleh
orang tua ketika kecil. Di bangku Sekolah Dasar pun selalu disampaikan
sebagai contoh dongeng saat pelajaran Bahasa Indonesia. Maksudnya
jelas, agar generasi muda Ende mewujudkan tana watu – nua ola Ende sare - kampung halaman yang aman dan damai.
Terpaan gelombang globalisasi dan pengaruh iklim ilmu dan teknologi
yang kian berkembang cepat memberikan dampak yang negatif bagi media
penyampaian pesan moral bagi generasi kita. Pesan moral, etika dan
etis-religius kehilangan tempat ketika kita berselanjar di dunia
informasi. Sangat mudah kita memperoleh gambar dan video porno di
internet ketimbang gambar mengandung pesan moral. Juga sangat mudah kita
menemukan gambar orang saling membunuh dan berkelahi ketimbang gambar
orang bergandengan tangan dan bekerja sama. Di sisi lain, cerita dongeng
dan legenda dipandang irrasional dan abstrak. Seorang anak lebih
memilih menonton sinetron daripada mendengar cerita dongeng. Fenomena
ini menjadi titik kesadaran baru bagi kita generasi muda, bahwa dongeng
dan cerita legenda sangat penting. Bukan karena rasional atau tidaknya,
melainkan karena dongeng adalah media penyampaian pesan moral yang masih
sangat relevan dan sesuai dengan kearifan lokal masyarakat kita.
Sumber : FloresNews.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar