Laman

Kamis, 19 Juli 2012

Mencari Identitas Manusia Adonara-Sejak Atlantis yang Hilang Hingga Tanah Lamaholot

Belakangan ini di media online, termasuk facebook, blog pribadi dan komunitas, banyak bermunculan artikel tentang Pulau Adonara, manusianya dan peradabannya. Artikel agak ilmiah tetapi menurutku masih lemah, seperti ditulis Chris Boro Tokan (CBT), yang sejatinya seorang pakar hukum. Dalam beberapa artikel, CBT menyimpulkan Benua Atlantis Yang Hilang sebagaimana dikisahkan Plato, sesungguhnya adalah suku bangsa Lamaholot; tentu termasuk Adonara. Kesimpulan CBT ini terutama bersandar pada teori Prof. Arysio Nunes da Santos dalam bukunya “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization” (2005) dan teori Stephen Oppenheimer dalam bukunya “ Eden in the East” (1998), serta pemahaman yang sangat mendalam mengenai Adonara dan budayanya. Termasuk, dipengaruhi juga oleh iman Kristiani. Yang terakhir ini secara jelas diuraikan CBT dalam artikel “Mencermati Makna Hakiki Kata Adonara” di www.nttonlinenews.com, 22 Mei 2011. Tampaknya, ahli hukum jebolan UI ini seorang penganut aliran postmodern yang meyakni sebuah kebenaran (pendapatnya) berdasarkan analisis sangat tajam dari tiga dimensi yakni agama, kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Arysio Santos, geolog dan fisikiwanan nuklir asal Brasil menyimpulkan, Atlantis Yang Hilang itu tak lain adalah Sundaland atau daerah yang sekarang dikenal dengan Kalimantan-Jawa-Sumatra. Sebelumnya, ahli genetika dari Oxford Universuty, Inggris, Stephen Oppenheimer, menjungkirbalikan fakta selama ini bahwa induk peradaban modern adalah dari Mesir, Mesopotania dan Mediterania. Berdasarkan penelitian genetika, Oppenheimer menyimpulkan nenek moyang bangsa-bangsa yang dikenal mempunyai perdaban sangat maju tersebut adalah dari Timur, tepatnya dari Indonesia (Sundaland). Berdasarkan kedua pendapat ini, CBT yakin letak Atlantis Yang Hilang tersebut bukanlah di Sundaland melainkan daerah di sekitar Maluku – Nusa Tenggara Timur. Lalu berdasarkan analisis yang mendalam tentang budaya suku bangsa Lamaholot, khususnya masyarakat Adonara, CBT menyimpulkan masyarakat penghuni Pulau Adonara adalah sisa-sisa bangsa Atlantis yang hilang tersebut. Dari semua artikelnya, CBT ingin menegaskan bahwa peradaban bangsa-bangsa di dunia ini, cikal bakalnya adalah dari peradaban suku bangsa Lamaholot. Peradaban bangsa Yahudi, demikian CBT, bukan tidak mungkin cikal bakalnya dari peradaban Adonara. Apalagi menurut CBT, kata “Adonara” = kata “Adonai” (salah satu gelar Allah bagi bangsa Yahudi); dan beberapa persamaan ritual yang dipraktekan di Adonara dengan di Yahudi.
Pendapat CBT ini tampaknya diamini Padre Yoseph Muda (YM), SVD, seperti dikutip CBT dalam lain artikel, “Lewotanah: Surga Positivisme-Surga Empiris Bangsa Lamaholot di Nusa Tenggara Timur”, dalam www.nttonliennews.com, 21 Pebruari 2011. Dalam bukunya “Rera Wulan Tana Ekan”, sebuah penelitian tentang asal usul budaya Ata Lamaholot, YM menelusuri jejak-jejak koda nuba nara, rera wulan sebagai penunjuk arah.  Sebagai contoh, memberikan nama “Ra” terhadap matahari ditemukan di beberapa suku bangsa asli. Di Mesir “Ra” atau “Re”, di pulau Paskah “Raa”, di dunia Lamaholot “Rera” atau “Lera”….”Buku Para Raja” yang mengisahkan kehidupan raja Singasari Ken Arok: “Pararaton”, Istana di Yogyakarta “Kraton”, agama asli di Timor, Atoni (Dewa Aton Mesir?)…Jika “Yang Tertinggi”  itu disapa dengan “Rera”, nama itupun seharusnya merembes dalam nama-nama suku, nama-nama tempat dan dalam ungkapan-ungkapan lain yang bersifat religius. Dengan demikian dapat ditelusuri nama-nama seperti: Nusantara, Manggarai, Maumere, Larantuka, Lamakera, Adonara, Lamalera, Leworere, Seran dan Goran,etc (hal. 1). Benarkah demikian? Kok semudah itu ya, sekadar diplesetkan sekenanya, dan klop sudalah.
Adonara – Adonai – Adonay dan Drs. Adonara, M.Si
 
Apa Hubungannya?
Jujur saja, saya belum melihat-apalagi membaca-buku YM ini. Tetapi kesan saya, YM seperti halnya CBT hanya menghubung-hubungkan saja nama-nama tempat atau sebutan benda-benda di Adonara atau Lamaholot yang secara kebetulan sama atau mirip-mirip dengan nama-nama di luar Lamaholot.
Benarkah kata “Adonara” di Pulau Adonara ini = Adonai = Adonay di Yahudi sana? Simon Hayon (SH), saat menjabat bupati Flotim pernah mengklaim asal usulnya dari Yahudi. Karena menurutnya, kata “Hayon” berasal dari kata Yahudi “Al-Hayon” yang berarti “Yang Hidup” di tengah-tengah kita. Saya khawatir, CBT, YM dan SH adalah “murid-murid” satu “Padepokan”. Kalau analisis CBT dan YM tentang Lamaholot atau Adonara dikaitkan dengan iman Kristiani yang bersumber dari budaya Yahudi, bisa saya maklumi. Tetapi budaya Lamaholot (Adonara) yang kebetulan sama atau mirip dengan budaya Yahudi, tidaklah elok disimpulkan bahwa peradaban suku bangsa Lamaholot khususnya yang mendiami Pulau Adonara adalah ‘nenek moyang’ dari induk peradaban Yahudi bahkan di dunia ini. Tunggu dululah. Harus dibuktikan secara ilmiah. Tidak boleh dengan menghubung-hubungkan begitu saja tetapi diperkuat dengan fakta ilmiah lain yang lebih bisa dipertanggungjawabkan. Kadang saya bergumam, “Beruntunglah saya, sebagai penganut muslim, tetapi pengetahuan keislaman saya sangat dangkal. Pun, tidak memahami filsafat dan budaya Arab. Kalau tidak, bisa saja saya begitu enteng mengatakan bahwa peradaban bangsa Arab cikal bakalnya dari Adonara”.
Di Eropa, ada sebuah negara kecil bernama Andora, sebuah nama yang mirip kata Adonara. Kalau mau diutak-atik, nama ini juga mirip Adonara. Akan lebih baik lagi jika CBT atau YM bisa menganalisis Andora sehingga menambah wawasan kita semua. Pun, apa pula hubungan nama desa Kenada di daratan Flotim dengan Kanada di Amerika Utara? Atau jika itu terlalu jauh, barangkali ada orang dari suku Bali Mula di Desa Mangaaleng bisa menjelaskan apa hubungan Bali Mula dengan penduduk asli Pulau Bali yang disebut Bali Mula (baca: mule, yang berarti awal). Padahal setahu saya, suku Pepageka (di Pepageka), Bali Mula (di Mangaaleng) dan Mao Meka (di Adobala) adalah rombongan manusia dalam satu perahu saat berangkat dari Seram, Ambon, ratusan tahun lalu, sempat berlabuh sebentar di Harageka, Solor, kemudian meneruskan perjalanan ke Adonara dan menetap hingga sekarang ini. Lalu, dari mana pula asal usul seorang manusia bernama Drs. Adonara, M. Si., yang menjadi salah seorang anggota pantia persiapan kabupaten Buton Utara (waktu itu)?
Dua tahun lalu, seorang berasal dari Hinga yang hijrah tinggal di kampung saya, Pepageka, mengisahkan panjang lebar tentang sejarah lewo tanah bernama Nara Sao Sina di dekat Waiwerang sana. Dia menyebut, desa tersebut mempunyai rumah adat, koke bale, nuba nara, nobo, yang digambarkannya sebagai penjelmaan dari unsur-unsur dalam Pancasila serta simbol-simbol lain NKRI. Saya memang belum ke Nara Sao Sina sehingga hanya manggut-manggut saja. Semula, saya berpikir ceritra ini hanyalah ocehan orang mabuk sehingga tidak perlu ditanggapi. Tetapi dua hari ini saya mulai terusik manakala membaca dua posting “Komunal Adonara” (KA) di group “Adonara Fund”, yang ditulis hampir bersamaan.
KA menulis, ”Ada jejak yang setidaknya mampu menggambarkan evolusi perkembangan peradaban masyarakat Adonara”. Intinya sebagai berikut: 1. Simbol menula (tempat memanggil hujan), 2. Simbol rie hikun limana wanan (tempat mengucapkan rasa syukur kepada nenek moyang), 3. Simbol nuba nara (tempat menyebah rera wulan tana ekan). “Jejak/simbol ini menggambarkan masyarakat Adonara mulai mengenal ide-ide absolut. Ide ketuhanan, pencipta dan juga mulai menetap di sebuah wilayah dan membangun sistem sosial hingga saat ini atau yang dikenal dengan lewo. Dari penjelasan simbol-simbol ini menggambarkan evolusi orientasi hidup masyarakat Adonara mulai dari orientasinya terhadap alam, leluhur dan yang terakhir yaitu rera wulan tanah ekan,” demikian penjelasan KA.
Beberapa menit sebelumnya, KA menulis “kle lema” yang mengambil pendapat Boli Wuran Martin (BWM). Meski kenal dengan BWM, sekalipun saya tidk pernah berdiskusi dengannya atau membaca tulisannya secara utuh tentang hal ini sehingga tak jelas apa yang dimaksudkan dengan “kle lema”. Tetapi KA menyimpulkan-meski agak ragu-bahwa “kle lema” adalah Pancasila. Kle lema ike kewaat lewotana (Lima kekuatan sebagai dasar berdirinya lewo/lewotana) versi BWM adalah 1. Nuba (Kemanusiaan), 2. Nara (Persatuan), 3. Koke (Keadilan), 4. Bale (Kerakyatan), 5. Rie hikhun liman wanan (Ketuhanan). Buat saya, juga tidak tepat kalau hal ini disamakan dengan Pancasila. Bayangkan saja, kalau Pancasila versi Piagam Jakarta yang disetujui pendiri bangsa negeri kita, apa ini sama dengan ‘kle lema”?
Kedua posting ini kemudian saya kaitkan dengan puluhan artikel CBT seperti saya sebutkan di atas. Jika dicermati, suku bangsaku, Lamaholot, khususnya suku-suku di Adonara, ternyata bukanlah manusia “kacangan”. Saya tersanjung, sekaligus penasaran sehingga terus mencari dan mencari terus untuk membuktikan kebenarnnya. Sayang sekali, ilmuku tak sampai ke sana. Meski begitu, dari literatur yang saya baca, rasa-rasanya tidaklah demikian. Setidaknya untuk saat ini. Tentu masih banyak pendapat lain tentang Adonara, asal muasal masyarakat Adonara dan suku-suku di dalamnya, yang mampu menjelaskannya tapi belum sempat saya ketahui.
Hanya saja, setahu saya, pemikiran-pemikiran brilian dari CBT, YM, BWM belum sekalipun disanggah oleh para pakar. Tetapi dengan keterbatasan pengetahuan yang saya miliki, jelas saya tolak. Soal letak Benua Atlantis Yang Hilang yang oleh Arysio Santos dikatakan adalah Sundaland (Kalimaantan, Jawa, dan Sumatera) ternyata oleh CBT dikatakan di sekitar Maluku dan NTT. Bahkan di beberapa artikelnya, saya menangkap-jika tidak keliru-adalah daerah yang dikenal sekarang sebagai Tanah Lamaholot. Penolakan saya terhadap pendapat CBT ini bukan berarti saya melecehak CBT. Semata-mata karena analisisnya menurut saya terlalu lemah. Tidak ada bukti-bukti geologis, arkelogis, vulkanologis dan ilmu lain yang meyakinkan kita bahwa Tanah Lamaholot atau khususnya Adonara serta peradaban manusianya atau daerah sekitar Maluku-NTT adalah bagian dari benua yang hilang tersebut. Saya lebih setuju dengan pendapat Prof. Budi Brahmantyo, pakar geologi ITB yang secara ilmia mengupas hal ini untuk membantah buku Arysio Santos tersebut (Pikiran Rakyat, 7 Oktober 2006). Saya juga tidak sependapat dengan CBT dan YM yang mengutak-atik kata “Adonara” dan kata “Ata” (manusia) untuk memperkuat kesimpulan mereka. Menurut CBT, kata Adonara terbentuk dari suku kata Adon dan Nara (konsonan N menjadi poros untuk suku kata Adon dan Nara). Suku kata “Adon”,  “Adonay”-Ra=Dewa Matahari, maka ADONARA mengandung makna Dewa Matahari untuk surgan  positivis.  Suku kata “Nara”, “Na” bermakna “Anak”, ‘Ra” berarti “Matahari” = Putra Matahari.  Kata “Nara” sendiri dalam bahasa Jawa Kuno bermakna “Manusia”, dipadukan dengan “Adon” berarti “Dewa”, maka Adonara bermakna Putra Matahari, (Putra Tuhan) menjadi Manusia Dewa (Adam), Manusia Pertama penghuni surga empirik. Dari  kata  Adam,  mengalami perubahan  bentuk  pengucapan sesuai proses waktu menjadi Ad, Ata,  Atl, Tlan,  Atlantis, sedangkan bahasa Inggris menyebut “land” berarti  tanah. Akar kata “tanah”adalah “tlan”, dalam kata “Atlantik”. Dalam bukunya “Hombresy Estrcllas”, Oscar Fonck Sieveking mengurai arti kata “Atlantik” itu berdasarkan bahasa Polinesia: Atl: Air, Tlan: Tanah.  Sedangkan Ti: Dilingkupi. Dengan demikian Atlantik berarti tanah yang dilingkupi, dikelilingi oleh air (Idem Padre Yoseph Muda).
Membaca penjelasan begini, memang begitu adanya sebuah tanah, pastilah dikelilingi air. Entah air sungai/danau, air laut atau es. Pulau Adonara, seperti halnya pulau-pulau lain di Indonesia dikeliling laut. Kecuali, Pulau Samosir yang dikelilingi air danau Toba. Mengenai Adonara, berkembang beberapa versi. Versi pertama menyebut, terdiri kata Ado (dari kata Ado Pehang) dan Nara (kawan, klan); sehingga Adonara adalah pulau milik Kelake Ado Pehang dan klannya. Sementara kakaknya, Pati Golo sebagai pemilik Flores Timur daratan. Versi lain menyebut Adonara terdiri dari kata Adok (hasut) dan Nara; yang artinya senang menghasut kawan untuk berperang melawan orang lain. Dari perilaku dan watak orang Adonara, saya lebih setuju dengan versi terakhir ini.
Lalu apa hubungannya dengan Adam, manusia pertama penghuni bumi ini, sebagaimana dikenal dalam semua kitab suci agama Samawi? Saya tak punya kapasitas untuk menelah lebih lanjut. Yang ingin saya tegaskan, haruslah dicari benang merah antara gelombang kedatangan orang Lamaholot (Adonara) sebagaimana digambarkan CBT, dengan hipotesis Paul Arndt mengenai suku Munde dan Pangi di India Selatan yang mempengaruhi suku Demon – Paji di Kepulauan Solor. Sebab, tidak ada bukti ilmiah bahwa ada pengaruh yang sebaliknya. Pendapat Arndt lebih bisa diterima, mengacu pada masa sejarah Indonesia yang dikenal mulai tahun 400 M, bersamaan datangnya orang-orang Aria dari India yang membawa kebudayaan kontinen. Meski Menurut Radahar Panca Dhana, (sastrawan dan ahli sosiologi Universitas Indonesia), sebelumnya pelaut-pelaut Nusantara saat itu sudah menjelajah ke India, Afrika, dsb termasuk membawa kebudayaan-kebudayaannya, sehingga ditemukanlah kebudayaan-kebudayaan yang mirip Nusantara di India, Madagaskar atau Afrika Selatan. “Sayangnya mereka tak punya tradisi mencatat,” kata Radhar, seperti diktip Budi Brahmantyo dalam blog-nya. Keduanya tampil sebagai pembicara bedah buku Arysio Santos. Saya tak yakin, pelaut-pelaut ini adalah suku bangsa Lamaholot. Kalau Bugis, Makassar Ok-lah.

Mitos Atlantis yang Hilang
Seperti apa gambaran negeri Atlantis itu? Budi Brahmantyo, dalam artikelnya di Harian Pikiran Rakyat (PR), Bandung, 7 Oktober 2006 (saya download dari blog-nya), menggambar Atlantsi, selengkapnya seperti berikut:
Mitos Atlantis muncul ketika mahaguru Socrates berdialog dengan ketiga muridnya; Timaeus, Critias dan Hermocrates. Critias menuturkan kepada Socartes di hadapan Timaeus dan Hermocrates cerita tentang sebuah negeri dengan peradaban tinggi yang kemudian ditenggelamkan oleh Dewa Zeus karena penduduknya yang dianggap pendosa. Critias mengaku ceritanya adalah true story, sebagai pantun turun temurun dari kakek buyut Critias sendiri yang juga bernama Critias.
Critias, si kakek buyut, mengetahui tentang Atlantis dari seorang Yunani bernama Solon. Solon sendiri dikuliahi tentang Atlantis oleh seorang pendeta Mesir, ketika ia mengunjungi Kota Sais di delta Sungai Nil. Bayangkan cerita lisan turun temurun yang mungkin banyak terjadi distorsi ketika Critias, si cicit, menceritakan kembali kepada Socrates, sebelum ditulis oleh Plato (427 – 347 SM).
Di luar dari distorsi yang mungkin terjadi, tulisan tentang dialog Socrates, Timaeus dan Critias tentang Atlantis yang ditulis Plato adalah sumber tertulis yang menjadi referensi utama. Dari dialog itulah tergambar suatu negeri yang makmur, gemah ripah loh jinawi yang bernama Atlantis. Letak negeri berada di depan selat yang diapit pilar-pilar Hercules (the Pillars of Heracles).
Negeri itu lebih besar dari gabungan Libia dan Asia. Terdapat jalan ke pulau-pulau lain di mana dari tempat ini akan ditemui sisi lain negeri yang dikelilingi oleh lautan sejati. Laut ini yang berada pada Selat Heracles hanyalah satu-satunya pelabuhan dengan gerbang sempit. Tetapi laut yang lain adalah samudera luas di mana benua yang mengelilinginya adalah benua tanpa batas.
Di Atlantis inilah terdapat kerajaan besar yang menguasai seluruh pulau dan daerah sekitarnya, termasuk Libia, kolom-kolom Heracles, sampai sejauh Mesir, dan di Eropa sampai sejauh Tyrrhenia. Lalu terjadilah gempa bumi dan banjir yang melanda negeri itu. Dalam hanya satu hari satu malam, seluruh penghuninya ditenggelamkan ke dalam bumi, dan Atlantis menghilang ditelan laut.
Jika dicermati, kisah ini secara jelas menyebut bahwa Atlantis yang hilang itu terletak di sekitar Laut Tengah (Mediterania). Selain nama-nama Libia, Mesir, Eropa dan Tyrrhenia, disebut pula selat dengan pilar-pilar Hercules yang tidak lain adalah Selat Gibraltar (atau dalam bahasa Arab, Selat Jabaltarik), selat di Laut Tengah antara Eropa dan Afrika yang merupakan gerbang ke Samudera Atlantik. Apakah betul Atlantis sebuah benua yang lebih besar dari gabungan Libia dan Asia? Pendapat ini ditentang juga sebagai salah terjemah kata Yunani meson (lebih besar) dengan kata mezon (di antara).

24 Kriteria Lokasi Atlantis Yang Hilang
Keyakinan saya bahwa suku bangsa Lamaholot bukanlah sisa-sia manusia Atlantis Yang Hilang makin kuat setelah membaca artikel lain Budi Brahmantyo tentang 24 kriteri sebagai syarat Atlantis Yang Hilang, hasil kesepakatan para peneliti Atlantis dari 15 negara yang berkumpul di Pulau Milos, Yunani, dari 11-13 Juli 2005. Dalam konferensi bertjuk “Hipotesis Atlantis – Mencari Benua yang Hilang”, para spesialis dalam bidang arkeologi, geologi, volkanologi dan ilmu-ilmu lain ini memperesentasikan pandangannya tentang keberadaan Atlantis, waktu menghilangnya, penyebabnya, dan kebudayaannya. Berdasarkan kepada tulisan Plato, peserta konferensi akhirnya setuju pada 24 kriteria yang secara geografis harus memenuhi persyaratan keberadaan lokasi Atlantis. Yaitu: 1. Metropolis Atlantis harus terletak di suatu tempat yang tanahnya pernah ada atau sebagian masih ada. 2. Metropolis Atlantis harus mempunyai morfologi yang jelas berupa selang-seling daratan dan perairan yang berbentuk cincin memusat. 3. Atlantis harus berada di luar Pilar-pilar Hercules. 4. Metropolis Atlantis lebih besar dari Libya dan Anatolia, dan Timur Tengah dan Sinai (gabungan). 5. Atlantis harus pernah dihuni oleh masyarakat maju/beradab/cerdas (literate population) dengan ketrampilan dalam bidang metalurgi dan navigasi. 6. Metropolis Atlantis harus secara rutin dapat dicapai melalui laut dari Athena. 7. Pada waktu itu, Atlantis harus berada dalam situasi perang dengan Athena. 8. Metropolis Atlantis harus mengalami penderitaan dan kehancuran fisik parah yang tidak terperikan (unprecedented proportions). 9. Metropolis Atlantis harus tenggelam seluruhnya atau sebagian di bawah air. 10. Waktu kehancuran Metropolis Atlantis adalah 9000 tahun Mesir, sebelum abad ke-6 SM. 11. Bagian dari Atlantis berada sejauh 50 stadia (7,5 km) dari kota. 12. Atlantis padat penduduk yang cukup untuk mendukung suatu pasukan besar (10.000 kereta perang, 1.200 kapal, 1.200.000 pasukan). 13. Ciri agama penduduk Atlantis adalah mengurbankan banteng-banteng. 14. Kehancuran Atlantis dibarengi oleh adanya gempa bumi. 15. Setelah kehancuran Atlantis, jalur pelayaran tertutup. 16. Gajah-gajah hidup di Atlantis. 17. Tidak mungkin terjadi proses-proses selain proses-proses fisik atau geologis yang menyebabkan kehancuran Atlantis. 18. Banyak mata air panas dan dingin, dengan kandungan endapan mineral, terdapat di Atlantis. 19. Atlantis terletak di dataran pantai berukuran 2000 X 3000 stadia, dikelilingi oleh pegunungan yang langsung berbatasan dengan laut. 20. Atlantis menguasai negara-negara lain pada zamannya. 21. Angin di Atlantis berhembus dari arah utara (hanya terjadi di belahan bumi utara). 22. Batuan Atlantis terdiri dari bermacam warna: hitam, putih, dan merah. 23. Banyak saluran-saluran irigasi dibuat di Atlantis. 24. Setiap 5 dan 6 tahun sekali, penduduk Atlantis berkurban banteng.
Dari ke-24 kriteria di atas, jelas Atlantis yang hilang itu bukanlah Sundaland (Indonesia). Tetapi ada dua kriteria terakhir yang mirip dengan kondisi di Bali. Yakni, soal irigasi yang sudah sangat maju (Subak) dan kebiasaan umat Hindu Bali mengurbankan banteng dalam kurun waktu tetentu untuk upacara agamanya.
Mencari Identitas tanpa Provokasi
Beberapa tahun lalu, konon, di kecamatan Witihama secara diam-diam berkembang “pemikiran” saudara-saudara kita dari empat suku: Lamahhoda, Lamanepa, Rianghepat, dan Palihama yang tergabung dalam “Kelompok 4-1”. Dari informasi yang saya terima, tujuan Kelompok Empat Satu ini adalah mewacanakan pemurnian sejarah asal usul manusia Adonara, dengan setting utama –maaf jika saya terlalu vulgar-Kelompok Empat Satu sebagai manusia pertama Adonara. Sejak itu, saya ingin berdiskusi dengan mereka, sayangnya saya belum menemukan figur yang tepat. Buat saya, kelompok apapun atau siapapun dia dan dari suku mana saja sangat penting dan berhak mencari jati dirinya. Namun, akan sangat lebih elegant jika diformulasikan dalam sebuah karya ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah pula. Atau mungkin sudah waktunya gagasan semacam itu dibicarakan dalam forum ilmiah seperti seminar sehingga mendapat tanggapan balik dari para pakar. Belakangan, saya mendapat informasi, ada suku lain mengklaim Gajah Mada adalah nenek moyangnya. Saya pernah membaca berita bahwa di sebuah kampung di daratan Flores Timur ditemukan jejak raksasa yang diyakini sebagai jejak Gajah Mada. Benar atau tidak, sampai sekarang tampaknya belum ada kesimpulan dari pihak yang berkompoten. Seandainya benar-ini seandainya loh-toh tidak pernah ditemukan jejak yang sama di Adonara. Patimura dari Ambon juga mengalami ‘nasib’ yang sama. Pahlawan nasional itu malah diklaim sebagai nenek moyang suku lainnya di Adonara. Ada kesan provokatif memang!
Sebelum membaca literatur-literatur tentang Benua Atlantis Yang Hilang, saya sudah mendengar ceritra “Belebo Lebo”, “Buta Mete Walang Mara” yang dituturkan secara temurun dari suku-suku di Adonara dengan versinya masing-masing. Padahal menurut saya, kedua ceritra ini mirip kisah bencana gempa bumi disertai letusan gunung api dan tsunami mahadahsyat yang menenggelamkan Benua Atlantis hanya dalam hitungan satu hari. Cuma, tidak ada orang yang secara tegas menyatakan bahwa “Belebo Lebo” dan“Buta Mete Walang Mere” itulah Atlantis yang hilang.
Peradaban Suku Lamaholot memang tidak mengenal budaya tulis. Itulah maka tidak pernah dikenal aksara Lamaholot serta peninggalan peradaban Suku Lamaholot yang terekam dalam sastra-satra kuno, seperti halnya sastra Jawa Kuna di Jawa atau sastra Lontar di Bali. Bangsa Lamaholot hanya mengenal tradisi puisi lisan secara turun temurun. Uniknya, subsuku-subsuku di dalam Suku Lamaholot mempunyai puisi lisan tersendiri dan bisa dipastikan lebih hebat dari subsuku lainnya. Tidak berlebihan jika mitos mengenai asal usul manusia Lamaholot juga berbeda dari setiap subsuku. Raja Larantuka dan keturunannya (klan) suku Demon mengaku berasal dari Gunung (Ile) Mandiri, sebagaimana mitos Oa Wato Wele yang menikah dengan Pati Golo. Mitos ini diangkat sebagai tesis oleh Yosep Japi Taum dengan judul: “Wato Wele Lia Nurat. Dalam Tradisi Puisi Lisan Lamaholot”, yang kemudian diterbitkan dalam buku dengan judul yang sama oleh Yayasan Ilmu-ilmu Sosial.
Orang Boleng, Lamawolo, Lewo Keleng dan semua desa di kecmatan Ile Boleng di Pulau Adonara merasa sebagai ‘pemilik’ Gunung Boleng karena mereka mengaku nenek moyangnya adalah seorang putri titisan Gunung Boleng yakni Sode Boleng yang dinikahi Ado Pehang (kakak kandung Pati Golo) yang terdampar di Selat Wai Tolang, daerah sekitar Tanah Boleng. Kelake Ado Pehang dan Kewae Sode Boleng inilah yang menurunkan klan Paji (KD Lamanele: Asal Usul Manusia Adonara, dalam www.nttonlinenews.com, Selasa, 28 September 2010).
Menarik dicermati, seorang teman dari Witihama yang sekarang menetap di Pasuruan, Jawa Timur-memiliki seorang anak perempuan bernama Kewae Sode Bolen. Cuma, saya tak tahu apakah anaknya laki-laki bernama Kelake Ado Pehang atau tidak. Padahal kita tahu, Witihama dan desa-desa seperti disebutkan KD Lamanele adalah bersebalahan mengapit Ile Boleng. Lalu bagaimana “nasib” Lamatokan Ile Lodo Hau yang mengaku berasal dari gunung? Tetapi mungkin karena posisi Desa Nisakarang (Dua) di lereng Ile Boleng, seorang teman dari desa ini malah mengklaim Ile Boleng adalah milik mereka. Entah kelakar atau serius, teman saya ini tak mau berceritra lebih banyak mengenai sejarah “kepemilikan” atas “pilar langit” Adonara ini. Semoga klaim seperti ini tak membuat masyarakat Lamalota tersinggung karena saya tahu lewo alapen (alaten) di Lamalota juga mengaku sebagai ‘pemilik’ Ile Boleng. Mungkin karena posisi desa Lamalota paling tinggi mendekati puncak dibandingkan desa lain di lereng Ile Boleng? Entalah.
Jadi, menurut saya, ceritra KD Lamanele yang didengar langsung dari orangtuanya ini tentu menjadi tak nyambung dengan kisah keturuan klan Paji di Kecamatan Keluba Golit, Witihama dan Kecamatan Adonara. Lalu bagaimana dengan asal muasal manusia di Adonara Timur, Adonara Tengah, Wotan Ulu Mado dan Adonara Barat? Sejarah Desa Lamahala Jaya adalah contoh tata susunan sistim pemerintahan tradisional sejak kedatangan nenek moyang mereka dan bertahan hingga sekarang ini. Suku-suku di Lamahala mempunyai peran yang jelas. Bela Suku Telo sebagai pemimpin, dimana Suku Selolong sebagai kepala pemerintahan, Atapukan (kepala adat), dan Malakalu sebagai kepala perang. Di bawahnya ada kabinet (mentri) yang terdiri dari Kepitan Pulo, dan Pegawe Lema yang mengurus masalah keagamaan. Selengkapnya lihat: Sejarah Polu – Nipat yang ditulis oleh Abdurrahim Djafar di blog “Watan Lamahala”.
Suku Pepageka di Desa Pepageka juga mempunyai pembagian tugas yang jelas dari lima moyang mereka. Yang pertama bertugas sebagai pemimpin pemerintahan, yang kedua sebagai kepala perang, yang ketiga memegang urusan dengan “rera wulan – tana ekan”, yang keempat memegang urusan “tubak mula – hudung hubak”, dan terakhir memegang urusan “uran – wai”.
Sayangnya, saya belum menemukan literatur atau artikel yang mengupas asal usul manusia Adonara di bekas kecamatan Adonara Barat. Kalau ada tetapi luput dari perhatian saya, barangkali bisa dipublikasikan secara luas memalui jejaring sosial sehingga memperkaya wawasan kita. Dengan begitu, akan diperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai manusia Adonara. Dari sini barulah kita bisa mengungkap seperti apa identitas kita sebagai manusia Adonara. Saya kira kita sepakat bahwa semua artikel tentang Adonara bertujuan menemukan sejarah asal usul manusia Adonara yang sebenarnya kemudian menempatkannya dalam sesuai tatanan sosial masyarakat Adonara dan sedapat mungkin menghindari benturan dengan tatanan sosial yang sudah ada. 

Sebuah Simpul yang tak Sempurna
Pada bagian akhir tulisan ini, saya mencoba membuat simpul meski tak sempurna. Kita semua sepakat bahwa Pulau Adonara dan manusia serta peradabannya memiliki keunikan tersendiri. Beberapa peneliti Barat, terutama para misionaris sudah membukukan hasil penelitiannya. Seperti Ernst Vatter (Ata Kiwang), Paul Arndt (Demon dan Paji), dan lain-lain. Arndt menduga, nenek moyang suku bangsa Lamaholot berasal dari India Selatan. Kata pastor ini, di daerah ini ada dua suku yakni Munde dan Pangi yang saling bermusuhan. Persis dengan perilaku Demon dan Paji di Kepulauan Solor. Lalu apakah, pendapat Arndt ini diterima sebagai sebuah kebenaran? Adalah tugas kita-terutama para pakar- untuk membuktikannya. Tentu, kajian tentang hal ini akan lebih sempurna bila menggabungkan pendapat Arysio Santos dan Oppenheimer. Siapa tahu, kelak akan terkuak indentitas manusia Adonara.
Tetapi terlepas dari itu semua, untuk saat ini, buat saya yang terbaik adalah mengumpulkan bukti-bukti ilmiah lalu diformulasikan berdasarkan metodologi ilmiah supaya dikupas tuntas dalam forum terbuka atau semacam seminar ilmiah. Apa yang sudah dipublikasikan oleh CBT, YM, BWM, Paul Arndt, Ernst Vatter, bahkan posting-posting di jejaring sosial adalah sebuah langkah awal ke arah menemukan jati diri manusia Adonara. Mitos atau legenda, atau ceritra turun temurun yang tidak pernah dibukukan bahkan sudah dibukukan sekalipun, tetaplah sebuah ceritra. Tak ubahanya sebuah ceritra rakyat, pasti ada di manapun manusia di seluruh dunia ini. Kalau pada akhirnya kita terbentur data dan bukti ilmiah, maka garis tangan kita mungkin sudah demikian sehingga tidak perlu dipaksakan. Justru kalau dipaksakan, hanya akan menimbulkan perpecahan di antara sesama anak Adonara. Akhirnya, kita mau mencari identitas tetapi jutsru mendapatkan musuh.
Lebih dari itu, kalau ada praktek budaya Adonara yang mirip dan ditemukan di belahan dunia lain di negara yang lebih maju sekalipun, menurut saya hanyalah sebuah kebetulan saja. Sehingga tidak otomatis diklaim sebagai ‘milik’ kita. Logikanya, kalau kebudayaan itu adalah milik kita, maka seharusnya kita juga lebih maju atau setidak-tidaknya setaraf dengan mereka. Ataukah generasi yang melahirkan kita ini berada di tempat yang salah? Entalah! Pun kalau praktek seperti itu mirip simbol-simbol negara kita, menurut saya juga berlebihan. Daerah lain Indonesia juga banyak mempunyai tata cara budaya seperti kita. Yang ingin saya katakan, semua suku di Adonara, baik yang mengaku asli Adonara maupun suku yang datang belakangan, pastilah sebelumnya berasal dari suatau wilayah yang sama, entah di mana. Yang jelas bukan berasal daerah bekas Atlantis Yang Hilang atau sisa-sia manusia Atlantis. Kesamaan ini ditandai oleh adanya nuba nara, rumah adat, koke, bale yang hampir ditemukan di semua desa di Adonara; sesuatu yang tidak pernah disebutkan Plato-si filsuf beken Yunani itu, atau 24 kriteria yang dicetuskan para ilmuwan di Pulau Milos, Yunani, 11-13 Juli 2005. Yang membedakan satu suku dengan lainnya di Adonara adalah peran masing-masing, sejak era kedatangan suku tersebut dan bertahan hingga sekarang ini. Celakanya, kini ada wacana untuk melabrak tatanan sosial yang sudah ada. Kelompok antikemapanan ini menuding tatanan sosial adalah warisan kolonial sehingga perlu dienyahkan di bumi Adonara. Padahal, jika dicermati, tatanan sosial seperti ini sudah ada jauh sebelum bangsa Eropa (Portugis) tiba di Flores Timur.
Melihat tingkah polah kelompok antikemapanan adat ini, kelompok lain menuding sebagai gerakan untuk mencari identitas yang pada ujung-ujungnya ingin mendapat pengakuan masyarakat. Menurut saya, tatanan sosial adalah salah satu kearifan lokal yang tidak perlu dipertentangkan. Jika ada kelompok berusaha mencari identitasnya, maka hal yang sama juga akan bisa dilakukan kelompok lain. Semakin banyak orang atau kelompok mencari jati dirinya, justru makin bagus. Dengan begitu akan memperkaya khasanah watak dan karakter manusia Adonara. Asal saja hal itu dilakukan dengan cara-cara etis. Kalaupun ada praktek tatanan sosial oleh sekelompok orang diyakini tidak pas, atau ada perubahan peran di masyarakat adat, maka dikembalikan kepada pelaku peran tersebut. Toh hukum adat Adonara sudah jelas dan ekstra kejam. Salah menempatkan diri dalam urusan adat, maka resikonya tujuh turunan bisa habis seketika. Tanpa bermaksud membuka luka lama yang dialami keluarga saya di Desa Lamahala Jaya, konon tragedi hilangnya lima orang pemuda Lamahala 10 tahun lalu, yang sampai sekarang tidak bisa diungkap Polres Flores Timur, ada kaitannya dengan ‘kesalahan’ peran dalam struktur masyarakat Lamahala seperti dijelaskan di atas.
Nah kembali ke soal mencari identitas ini, setahu saya, sejak era reformasi, tepatnya pemilihan kepala daerah dan pemilu legislatif, makin banyak orang Adonara atau Flores Timur umumnya rajin mencari jati dirinya dengan mendatangi rumah-rumah adat yang diyakini sebagai bagian dari ceremoni adat sesuai garis keturunannya. Dengan cara sederhana ini, sebenarnya bisa menggambarkan kepada kita dari mana jati diri seseorang dan bagaimana perannya dalam struktur sosial masyarakat Adonara.*

Ditulis Oleh : Rahman Sabon Nama  
Berasal dari Pulau Adonara, Flores Timur, NTT. Tinngal di Denpasar, profesi jurnalis, sebagai Ketua Koordinator Daerah Bali PWI Reformasi 2008-sekarang