Laman

Minggu, 25 Maret 2012

Separuh Jiwa Buton di Samudra



Kompas/A Ponco Anggoro
Sejumlah kapal motor pengangkut barang milik pelaut Buton berlabuh di Desa Tira, Kecamatan Sampolawa, Buton, Sulawesi Tenggara, pertengahan Mei lalu. Sejak abad ke-15 pelaut Buton menjadi penghubung Nusantara dengan mengangkut penumpang dan barang.

   Mimik wajah La Kassa (56) serius. Pria berkulit legam itu mengawasi setiap barang kelontong miliknya yang diangkut ke sebuah kapal kayu di dermaga Jembatan Batu, Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Selaku juragan Toko Tunas Wamena, ia adalah bagian dari denyut sejarah kemaritiman Buton, setidaknya 450 tahun terakhir.
   Aktivitas perniagaan yang dilakoni La Kassa bersama ratusan pedagang di Bau-Bau dan sekitarnya sudah berlangsung sejak masa Kesultanan Buton berdiri pada abad XVI. Bau-Bau, yang kini berstatus sebagai kota otonom, kala itu merupakan pelabuhan utama Kesultanan Buton, kerajaan maritim di timur Nusantara. Pada masa itu, dalam urusan pelayaran, Buton bersanding dengan Kerajaan Gowa dan Ternate. Kerajaan-kerajaan itu amat diperhitungkan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (Perserikatan Perusahaan Hindia Timur atau maskapai dagang Belanda alias VOC).
    Perdagangan laut menjadi urat nadi ekonomi Buton. Selain karena wilayahnya yang memang kepulauan, kondisi itu juga dimungkinkan karena letak geografis Buton di tengah lalu lintas pelayaran Indonesia timur.
 
   Jangan lupa, dari tambang aspal Pulau Buton-lah jalan raya di seantero negeri ini bisa dilintasi kendaraan dengan mulus. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Sultra mencatat, deposit aspal Buton mencapai 650 juta ton dengan produksi 20.000 ton per tahun.
 
   Dalam konteks masa lampau, Buton berdiri tepat di jalur perdagangan antara Makassar dan Jawa dengan sentra rempah- rempah di Kepulauan Maluku. Jadilah Buton, khususnya Bau-Bau, bandar transit bagi semua kapal yang hendak berniaga rempah-rempah.
   Muhammad Jadul Maula, pengasuh Pesantren Kaliopak (Pusat Studi Etika Sosial Islam), Yogyakarta, mengatakan, munculnya Buton sebagai entitas maritim dan niaga adalah dampak pergeseran arus perdagangan Asia Tenggara pada abad XIII dan XIV. Sebelumnya, perdagangan pada abad XI dan XII pada masa keemasannya, Kerajaan Sriwijaya dominan memakai rute perairan utara untuk menghubungkan Sumatera, Kalimantan, Maluku, Sulu (Filipina), dan China. Setelah Sriwijaya runtuh dan perdagangan China berhenti, Kerajaan Majapahit muncul dan membuka perdagangan di perairan selatan. ”Buton menjadi tempat transit untuk berlayar ke sentra rempah-rempah di Maluku,” kata Jadul pada diskusi tentang Festival Budaya Bahari Wolio (Buton) di Universitas Indonesia (UI), Jakarta, Mei 2011.
    Fakta itu diperkuat dengan munculnya nama Buton (Buthuuni) sebagai salah satu wilayah kekuasaan Majapahit dalam Kakawin Negarakartagama karangan Mpu Prapanca bertahun 1365 Masehi. Ekspansi Majapahit pun hingga kini abadi, menjadi nama sebuah desa di Pulau Buton.
 

Bertahan
    Kini, setengah abad pascavakumnya Kesultanan Buton, perdagangan antarpulau tetap bertahan. La Kassa, misalnya, dalam sehari bisa mengirim minimal dua mobil boks berisi barang kebutuhan pokok, seperti air galon, mi instan, beras, terigu, dan aneka makanan ringan. ”Saya kirim ke pulau-pulau sekitar Buton, Buru, dan Seram di Maluku,” ujarnya.
   Di pelabuhan Jembatan Batu, setiap hari ratusan kapal kayu rakyat berbagai ukuran bersandar untuk memuat dan membongkar bermacam komoditas, mulai dari kebutuhan pokok, hasil bumi, pakaian, hingga barang-barang elektronik. Barang-barang itu diperdagangkan ke sejumlah pulau dekat Buton, seperti Muna, Wakatobi, Kabaena, dan Talaga. Pada rute lain, kapal-kapal kayu Buton berbobot mati 20-30 ton mendistribusikan komoditas itu ke Makassar, Surabaya, Banjarmasin, kepulauan Maluku, hingga Papua.
    Selain Jembatan Batu, di pantai Bau-Bau juga terdapat Pelabuhan Murhum—sentra angkutan penumpang dan peti kemas, pelabuhan feri, dan pelabuhan ikan. Pasar dan perkantoran di tepi pantai tersebut melengkapi semaraknya denyut kemaritiman Buton.
    Peran strategis Buton itu hingga kini tak tergantikan sekalipun oleh Kendari, ibu kota Sultra, di daratan Pulau Sulawesi. Ini tecermin dari data Pemerintah Kota Bau-bau dan Kendari tahun 2009. Jumlah orang yang datang dan pergi di Pelabuhan Murhum mencapai 925.247 orang. Pelabuhan itu juga disinggahi kapal Pelni 28 kali setiap bulan. Adapun volume bongkar-muat barang mencapai 2.051.501 ton. Sebagai perbandingan, arus bongkar-muat barang di Pelabuhan Kendari pada 2009 hanya 1.010.375 ton dengan jumlah penumpang yang naik-turun 475.312 orang.
KOMPAS/A Ponco Anggoro
Beberapa kapal layar pengangkut barang sedang diperbaiki di Desa Tira, Kecamatan Sampolawa, Buton, Sulawesi Tenggara, akhir Mei lalu. Kehidupan warga setempat bergantung kepada laut.

Negeri terbuka
    Pada masa silam, daerah kekuasaan Kerajaan Buton meliputi seluruh kepulauan di selatan Sultra dan sebagian daratan Sultra. Buton telah menjadi negeri terbuka dengan beragam etnis dan bangsa.
    Karena posisi strategisnya itu, pada abad XVI hingga XVIII, Buton jadi ajang perebutan antarkekuatan regional, khususnya VOC Belanda, Kerajaan Gowa di Makassar, dan Ternate di Maluku Utara. Susanto Zuhdi lewat buku Sejarah Buton yang Terabaikan (2010) dan Pim Schoorl dalam Masyarakat, Sejarah, dan Budaya Buton (2003), menunjukkan ”pergolakan” Buton masa itu. Tak mengherankan jika Kesultanan Buton melengkapi wilayahnya dengan ratusan benteng pertahanan. Sisa benteng utama mereka, Benteng Keraton Wolio di Bau-Bau, oleh Museum Rekor Indonesia diklaim sebagai benteng terluas di dunia dengan luas 22,8 hektar dan panjang keliling tembok 2.740 meter.
   Dari segi pemerintahan, menurut pemerhati budaya dan sejarah Buton, Hazirun Kudus (77), pada masa kesultanan, Buton bisa dibilang sudah berbentuk negara modern. ”Kesultanan Buton sudah memiliki konstitusi yang disebut Murtabat Tujuh,” kata Hazirun saat ditemui di Bau-Bau.
    Murtabat Tujuh yang terdiri atas 12 bab dan 21 pasal mengatur secara rinci tata cara pemerintahan, wilayah kekuasaan, perpajakan, hak dan kewajiban pejabat, serta tata cara pemilihan sultan.
    Pada poin tata cara pemilihan sultan, misalnya, Kesultanan Buton berbeda dari kerajaan lain. Sultan tidak berkuasa secara turun-temurun, tetapi dipilih dari kalangan bangsawan oleh dewan bernama Sio Limbona yang beranggotakan sembilan tokoh masyarakat.
Kompas/Novan
    Kalau sempat berkunjung ke Benteng Wolio, di sana terpajang nama-nama sultan yang diturunkan karena melanggar konstitusi. Namun, ada pula yang menjabat dua kali.


    Dosen Pascasarjana Antropologi Budaya UI, Tony Rudyansjah, menyebut orang Buton sebagai masyarakat maritim paling dinamis di Nusantara.
    Karena itu, menurut Tony, dengan tradisi kemaritimannya, orang Buton turut andil merajut kebinekaan negeri ini. Mereka melihat laut bukan sebagai tembok penghalang, melainkan jembatan untuk saling menyatukan.
    Semestinya kebijakan pembangunan negeri ini pun berkiblat ke laut, termasuk memperkuat industri perkapalan, kepelabuhanan, dan pengolahan hasil laut.


Sumber :  Kompas,06-07-2011

WAYANG ORANG: Kaderisasi dan Amanat UNESCO



Pandawa Cilik tampil bersama para bakul dalam pagelaran wayang orang "Wangsa Barata" di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (11/12)



Apa pesan penting setelah wayang ditetapkan sebagai warisan budaya oleh UNESCO? Tidak lain adalah ia dijaga kelestariannya, dan juga dikembangkan. Untuk mencapai hal itu, kaderisasi pelaku menjadi hal niscaya. Siapa yang akan ”nguri-uri” (memelihara) kalau pelaku seni yang ada sekarang ini tak punya kader?

Faktor kedua adalah dari sisi pementasan. Tanpa ada regenerasi, banyak hal yang bisa menjadi janggal. Adegan kahyangan yang alamiahnya dipenuhi bidadari dengan sosok muda, cantik, dan ideal akan digantikan oleh bidadari sepuh dengan sosok yang sudah tidak ideal lagi. Bima yang tegap gagah perkasa akan ditampilkan oleh pemain yang posturnya tidak tegap lagi, dan boleh jadi dengan perut gendut.

Itulah tantangan yang dihadapi kelompok wayang orang (WO), termasuk yang sudah punya nama besar seperti Ngesti Pandowo di Semarang, Jawa Tengah. Jalan keluar ada, tapi bukannya tanpa tantangan. Salah satu yang sering disebut adalah pemain senior tak mudah meyakinkan putra-putri mereka untuk ikut menekuni karier sebagai pemain wayang orang. Dengan honor sekali main di daerah sekitar Rp 15.000, dan di Jakarta Rp 30.000, kesejahteraan pemain wayang umumnya masih belum bisa dikatakan baik meskipun di luar pementasan reguler mereka sering dapat job sebagai pelatih atau penari.

Dengan kondisi itu, anak para pemain wayang umumnya kurang bisa diyakinkan untuk mengikuti jejak orangtua, yang—di luar faktor dedikasi dan kecintaan terhadap seni wayang orang—masih harus menjalani hari-hari dengan kehidupan bersahaja.

Dalam konteks inilah, adanya prakarsa menggalang kader, atau generasi berikut wayang orang, tetap dibutuhkan. Sebagian dari upaya itu telah memperlihatkan hasil.

Gareng dan Pandawa Muda

Ketika merayakan hari jadi ke-37 WO Barata Jakarta menggelar lakon ”Gareng Dadi Ratu”, yang para pemainnya sebagian besar adalah putra-putri pemain Barata. Tampak bahwa WO Barata termasuk yang menyadari pentingnya regenerasi, dan relatif berhasil melakukan pekerjaan rumah ini. Dalam lakon ”Gareng Dadi Ratu”, mulai Gareng hingga tokoh-tokoh pewayangan lain dimainkan pemain-pemain muda belia.

Di luar Barata, inisiatif kaderisasi pemain WO juga muncul dari kalangan masyarakat pencinta wayang, seperti WO Indonesia Pusaka (WOIP) yang diprakarsai budayawan Jaya Suprana. Minggu, 11 Desember 2011, WOIP bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pemuda dan Olahraga, dan Matara Art Center dan Barata menyelenggarakan pergelaran wayang bocah yang mengambil lakon ”Wangsa Barata” di Gedung Kesenian Jakarta.
Pergelaran yang didukung tidak kurang dari 100 pemain ini hanya menempatkan kurang dari 10 pemain dewasa, selebihnya adalah anak-anak berusia balita hingga remaja belasan tahun.

Anak-anak melalui program seperti ini juga dapat mempelajari dua hal, yakni cerita yang berisi tuntunan agar mereka bisa meniru budi pekerti yang baik serta satu lagi tentu keterampilan menari dan menyampaikan ide melalui ucapan dan berani tampil di depan publik.

Bagi penggagas pementasan, tidak selamanya soal biasa jadi mudah. Saat akan menampilkan Dewi Madrim sebagai istri kedua Pandu Dewanata, pewaris takhta Kerajaan Hastina, panitia sempat menanyakan, jawaban apa yang harus diberikan kepada anak-anak bila mereka bertanya tentang Pandu yang beristri dua. Dari cerita ini pula anak-anak—bila mampu—bisa menangkap hal yang lebih rumit. Hal itu misalnya tentang sikap Pandawa—dalam hal ini Bima dan Arjuna—yang mempersoalkan keikutsertaan Karna—yang dianggap hanya sebagai anak kusir, bukan keturunan raja— dalam acara uji keterampilan ilmu kesaktian setelah Pandawa dan Kurawa mendapat pelajaran dari Pandita Durna.

Tidak semua mudah, hingga ketika pergelaran dapat berlangsung tanpa kekurangan berarti, maka salut harus disampaikan kepada para penggagas dan pelatih yang telah bekerja keras melatih anak-anak yang sebagian tidak sedikit pun pernah bermimpi akan pernah main wayang orang.

Yessy Riana Sutiyoso, yang memimpin Sanggar Seni Matara yang menyediakan guru dan pelatih bagi anak-anak; Jaya Suprana dan Aylawati Sarwono, yang menggagas dan menyediakan fasilitas latihan dan gamelan; dan Dewi Sulastri Suryandoro, yang dengan tekun membimbing anak-anak agar bisa menari dan membawakan peran dengan penuh penghayatan sebagaimana ia lakukan terhadap anak-anak didiknya di Sanggar Swargaloka, adalah nama-nama yang bisa disebut dalam sukses pementasan wayang lintas generasi ini.

Tentu keindahan seni WO itu sendiri hanya akan tampil bilamana ada pimpinan artistik yang berpengalaman seperti halnya Ida Soeseno yang sukses menghadirkan ”Wangsa Barata” di panggung, dan selama ini juga telah menangani berbagai pergelaran wayang dan musikal.

Karena keberlangsungan wayang juga bukan terletak hanya pada penari, kaderisasi di bidang dalang, juga pengrawit (penabuh gamelan), tidak kalah penting. Dalam konteks ini pula, apa yang dilakukan Arie Bekti Budi Hastuari melalui program ”Jelajah Budaya Jawa Bersama 1.000 Anak SD” Oktober lalu di Jakarta menjadi bagian penting upaya kaderisasi.

Hanya dengan ikhtiar bersama seperti itulah—tentu saja juga dengan dukungan penyandang dana— WO diharapkan mampu terus bertahan, hingga amanat UNESCO melalui adopsi wayang sebagai warisan budaya dunia tidak sia-sia.
(Ninok Leksono) Th R Indriaswari Pandawa cilik tampil bersama para bakul dalam pergelaran wayang orang ”Wangsa Barata” di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (11/12). Koleksi Arie BB Hastuari Berlatih gamelan dalam Program ”Jelajah Budaya Jawa Bersama 1.000 Anak SD” di Museum Nasional Jakarta, September 2011.


Sumber : Kompas,17-12-2011

Wayang Topeng Jatiduwur, 40 Tahun Terkubur


Yaud (46), buruh tani warga Desa Jatiduwur, bermandikan keringat sehabis memeragakan tarian klono dalam pementasan ”Satu Dasawarsa Kebangkitan Wayang Topeng Jatiduwur”, Minggu (4/12), di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Desa Jatiduwur, sekitar 30 meter dari bibir daerah aliran Sungai Brantas, yang biasanya sunyi senyap dari gegap gempita panggung hiburan malam itu berubah menjadi tempat keramaian bak pasar malam.
Puluhan pedagang keliling tumpah ruah di sekitar tempat pementasan wayang topeng Jatiduwur. Ada yang menjajakan aneka mainan anak-anak, arena permainan mandi bola, serta makanan dan minuman.
”Menyaksikan wayang topeng mengingatkan saya waktu sunatan nanggap wayang topeng Jatiduwur. Saya senang sekali wayang topeng Jatiduwur hidup lagi dan desa kami menjadi ramai,” kata Saripan (60), warga Jatiduwur yang asyik menikmati pertunjukan malam itu.


Tak hanya Saripan, warga lain pun memenuhi arena pergelaran, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Semua menonton pertunjukan yang sudah jarang tampil menyapa dan menghibur warga.
”Pementasan wayang topeng dalam rangka memperingati kebangkitan wayang topeng Jatiduwur ini sudah yang keempat kalinya di Desa Jatiduwur,” kata pemimpin wayang topeng Jatiduwur, Supriyo (54).
Konon, wayang topeng ini sudah ada sejak abad XIX dengan tokohnya Mbah Purwo (almarhum), asal Menganti, Gresik. Ia dan rombongannya melanglang buana sembari mengamen hingga akhirnya menetap di Desa Jatiduwur.
”Mbah Purwo itulah yang memperkenalkan wayang topeng di Jatiduwur setelah membeli seperangkat topeng dari pak lurah Anggis asal Betek, Mojoagung. Topeng itu sendiri berasal dari Trowulan, Mojokerto,” cerita Supriyo.
Supriyo, guru Agama di Sekolah Dasar Negeri Sumber Teguh, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, menambahkan, setiap kali berjalan melewati rumah salah satu pewaris topeng Jatiduwur, dia teringat masa kecilnya tatkala kesenian wayang topeng Jatiduwur warisan Mbah Purwo itu ditanggap warga yang sedang punya nazar atau ujar (janji).
”Iku nggone topeng biyen, eman banget kok yo gak enek sing nerusne (Seni wayang topeng itu sayang sekali tidak ada yang meneruskan),” kata Supriyo.
Perjalanan waktu terus bergulir sampai akhirnya salah seorang keluarga pewaris, Suhariyanto (almarhum), yang mantan ketua wayang topeng Jatiduwur, menawari dia sekaligus memintanya agar wayang topeng Jatiduwur dibangkitkan kembali.
”Tawaran itu amanah. Lalu saya kumpulkan keluarga pewaris wayang topeng Jatiduwur dan alhamdulillah mereka merestui saya untuk mengangkat kembali wayang topeng Jatiduwur,” tambahnya.


Tak mudah
Kesulitan demi kesulitan pun muncul. Pasalnya, para pelaku kesenian wayang topeng Jatiduwur sudah banyak yang meninggal dunia. Kalaupun masih ada yang tersisa, usianya sudah lanjut.
Padahal, untuk menghidupkan kembali kesenian wayang topeng Jatiduwur yang sudah terkubur cukup lama, butuh sosok pelaku yang tahu persis ekistensi wayang topeng ini. ”Saya lalu mendatangi satu demi satu tokoh wayang topeng Jatiduwur yang masih hidup, seperti Mbah Nadi, Mbah Nasri, Mbah Ngari, Mbah Sadi, dan Mbah Samid. Mereka saya minta mengajari cara menabuh gamelan dan menari topeng kepada warga yang mau menjadi wayangnya,” papar Supriyo.
Alhasil, September 2001, sebanyak 20 warga Jatiduwur tertarik dan berminat menjadi seniman wayang topeng itu.
Mereka adalah petani, buruh tani, dan kuli bangunan. Sekali dalam sepekan mereka berlatih di pendapa sederhana di depan rumah Mbah Sumarni, salah seorang pewaris topeng Jatiduwur, di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang.
Seiring perjalanan waktu, satu demi satu warga yang semula getol berlatih itu pun ”menghilang” dengan bermacam alasan. Ada yang meninggal dunia dan ada pula yang bekerja di luar Jawa.
”Sampai sekarang yang masih tetap bertahan sejak wayang topeng Jatiduwur ini dihidupkan kembali tahun 2001, tinggal saya, Suwono, Tariman, Giman, Yaud, dan Supriyono,” kata Bahrul (41), pemain wayang topeng Jatiduwur.
Bahrul, yang kesehariannya adalah buruh tani, mengaku senang bisa menjadi seniman wayang topeng itu walaupun semasa kecilnya tidak pernah bermimpi menjadi pemain wayang topeng.
”Awalnya susah sekali menggerakkan badan dan rasanya kaku. Setelah terus-menerus berlatih dengan bimbingan Mbah Nadi, akhirnya saya bisa jadi wayang,” kata Bahrul. Kebangkitan wayang topeng Jatiduwur ini tidak bisa dilepaskan dari Supriyo yang rela berkorban tenaga, pikiran, dan finansial. Wayang topeng ini sempat vakum lima tahun. Kevakuman itu terkait dengan tuduhan yang menyakitkan kepada diri Supriyo, selaku pemimpin wayang topeng, Dia dituduh oleh sebagian anggotanya melakukan ”korupsi” uang hasil undangan pentas di Taman Budaya Jawa Timur, tahun 2006.
”Saya khawatir harga diri yang saya bangun sejak kecil memudar hanya gara-gara dituduh menggelapkan uang. Lalu saya mengundurkan diri menjadi pimpinan wayang topeng Jatiduwur,” kata Supriyo.


Sejak awal membangkitkan kembali wayang topeng ini, dalam hati dan pikiran Supriyo tidak terbesit keinginan mencari keuntungan finansial, apalagi korupsi. ”Keinginan saya, bagaimana wayang topeng ini bisa bangkit dan hidup lagi sehingga anak-anak bisa melihat dan menyaksikan kembali wayang topeng Jatiduwur sebagai warisan budaya dan pusaka Desa Jatiduwur,” ujar Supriyo.
Dorongan sekaligus desakan kuat dari kalangan seniman Jombang dan keluarga pewaris agar wayang topeng itu dibangkitkan kembali akhirnya membuat Supriyo, alumnus Pondok Pesantren Tebuireng dan Pondok Pesantren Rejoso, Jombang, itu pun tergerak kembali mengomandani kelompok tersebut. ”Alhamdulillah, akhirnya semua orang tahu dengan apa yang saya lakukan untuk wayang topeng Jatiduwur,” katanya.Kesenian tradisional wayang topeng Jatiduwur yang pelakunya adalah kaum petani, buruh tani, dan kuli bangunan, boleh jadi adalah ekspresi kesahajaan dalam balutan rasa bangga menjadi seniman panggung wayang topeng.
”Walaupun capek, rasanya bangga bisa tampil menghibur masyarakat. Maklum, sejak pagi hingga sore saya nyangkul di sawah,” kata Yaud, sang penari wayang topeng Jatiduwur selepas tampil menarikan tarian topeng kelono.
Wayang topeng yang mulai surut awal rezim Orde Baru, lalu terkubur selama empat puluh tahun, kini bangkit dan hidup kembali. Selayaknya, kesenian ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan.


(Kompas,17-12-2011,Abdul Lathief)

Menunggu Pesta Dewi Anjani Usai l


Oleh: Agung Setyahadi dan Ahmad Arif


Asap dupa mengeluarkan wangi di ambang malam. Saidi (23) berdoa dalam diam diikuti belasan pemuda dari Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur. Tiba-tiba suaranya memecah deru angin, ”Tidak, tidak bisa! Jangan naik malam ini!”
Pemuda itu meminta agar rencana pendakian ke puncak Gunung Rinjani (3.726 meter di atas permukaan laut/mdpl) pada pukul 02.00 dini hari ditangguhkan. Saidi meyakini angin kencang yang mengamuk di Plawangan Sembalun merupakan pertanda bahwa Dewi Anjani tak merestui.
Menurut kepercayaan masyarakat adat sasak, Dewi Anjani merupakan penguasa Gunung Rinjani, gunung api tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Kerinci (3.805 mdpl).
Dewi Anjani dipercaya beristana di Danau Segara Anak dan kerucut Gunung Api Barujari yang tumbuh dari danau kaldera Rinjani purba.
Air danau berwarna hijau kebiruan menampilkan kontras yang memukau dengan leleran lava beku dan batuan vulkanik menghitam yang membentuk kerucut Barujari. Kaldera berbentuk elips itu dikelilingi tebing terjal tubuh Gunung Rinjani purba.
Istana Dewi Anjani itu menyihir ribuan pendaki yang setiap tahun mengunjungi Rinjani. Pada tahun 2009, jumlah pendaki ke Rinjani dari luar negeri mencapai 8.455 orang dan pendaki dalam negeri mencapai 1.668 orang.
Kemolekan alam pegunungan di batas garis Wallacea itu juga dinobatkan sebagai tujuan wisata alam terbaik oleh lembaga perlindungan alam Conservation International dan majalah National Geographic Traveler pada 2004.
Keindahan kaldera Rinjani itu tersebar hingga lima benua sejak pendakian naturalis Heinrich Zollinger pada 6 Agustus 1846. Zollinger menyaksikan keindahan Segara Anak dan kerucut Barujari dari puncak Gunung Sangkareang di sisi selatan kaldera. Namun, ia gagal mencapai puncak Rinjani karena kehabisan air.


Menanti badai reda
Sejak kami tiba di pos terakhir sebelum menuju puncak Rinjani, 28 September lalu, angin kencang menderu tak berkesudahan. ”Di puncak ada ’acara’. Angin kencang ini tidak akan berhenti jika ’acara’ itu belum selesai,” ujar Saidi.
Haji Purnipa (65), ayah Saidi, sekaligus pemimpin rombongan pendaki tradisional itu, meminta putra bungsunya kembali berdoa, meminta izin pendakian ke puncak.
Saidi kembali terpekur dalam diam. Matanya terpejam, tetapi kelopaknya berkedut-kedut cepat, seperti dahan-dahan cemara yang diamuk angin malam itu. Lalu dia berkata dengan tegas, ”Kalau besok pagi jam 04.00 baru bisa. Kalau malam ini tidak bisa. Jam 02.00 ini tetap tidak bisa.”
Ucapan Saidi itu memupus peluang menikmati puncak Rinjani menjelang matahari terbit. Namun, untuk menghormati kepercayaan warga Sembalun Bumbung itu, pendakian akhirnya ditunda.
Sepanjang malam itu, angin menderu kencang memukul tenda. Kami hanya bisa menunggu. Hingga pukul 04.00 kami bersiap mendaki puncak Rinjani. Angin masih menderu, tetapi sedikit reda. Saidi dan Purnipa memberikan restu.
Udara dingin membekukan saat kaki melangkah menyusuri jalan setapak menuju puncak Rinjani. Jalur terjal dengan kemiringan hampir 60 derajat langsung menghadang. Jalur sempit itu merupakan alur air.
Kerikil bercampur pasir di sepanjang jalur pendakian menguras tenaga pada awal pendakian menuju punggungan. Langkah kaki berkali-kali melorot saat menginjak pasir sedalam mata kaki.
Tertatih kami mencapai punggungan terbuka di ketinggian hampir 3.000 mdpl. Punggungan itu merupakan sisi timur bibir kaldera Rinjani. Di balik punggungan itu terhampar Danau Segara Anak dengan kerucut Gunung Api Barujari di sebelah timurnya.
Punggungan tipis dengan jurang menganga di kiri-kanan itu semakin terjal. Kaki berpijak pada kerikil dan pasir lepas. Di tengah jalan, kami berpapasan dengan 15 pendaki mancanegara yang kembali turun dan mengurungkan perjalanan ke puncak. Wajah mereka memancarkan keletihan.
Mereka sebenarnya berangkat lebih dahulu, tetapi tertahan karena angin sangat kencang dan jalur tertutup kabut tebal. Debu yang teraduk angin memerihkan mata. Lelah menunggu cuaca membaik, mereka akhirnya memilih turun.
Di jalur terjal ini tak ada lagi pepohonan yang menjadi tameng angin. Para pendaki harus berjalan setengah membungkuk agar tak terempas angin yang menderu. ”Angin kali ini sangat kencang,” ujar Marahidun (50), warga Sembalun yang menemani perjalanan.
Satu-satunya perlindungan paling aman dari amukan angin di punggungan itu adalah bongkahan batu di dekat tikungan di ketinggian 3.300 mdpl. Di balik batu itu ada rombongan pendaki yang meringkuk berlindung dari terpaan angin.
Saat menunggu di batu besar hasil letusan masa lampau Rinjani tua itu, keajaiban terjadi. Angin yang semula sangat kencang tiba-tiba berhenti. Kabut menipis dan sinar matahari menerobos menghangatkan tubuh yang menggigil kedinginan.
Langit seketika cerah. Pemandangan terbuka ke segala arah menguak Danau Segara Anak, Gunung Barujari, lekukan-lekukan lembah, dan laut di kejauhan. Puncak Rinjani pun terpampang jelas di depan mata.
Semangat yang nyaris padam kembali menyala. Langkah demi langkah kembali menjejaki jalur terjal dengan batuan lepas itu. Titik tertinggi Rinjani berupa petak tanah berukuran sekitar 2 meter x 3 meter dicapai pukul 09.24.
Puncak Rinjani pagi itu sangat hening. Tidak ada lagi gemuruh angin yang mengamuk. Dewi Anjani sepertinya telah kembali ke istananya yang indah di bawah sana, di Segara Anak yang menjadi tujuan perjalanan selanjutnya. 


Sumber : Kompas,17-12-2011

Terasering untuk "Ekoleta" dan Kehidupan


Oleh Samuel Oktora

Alam Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur yang berbukit dan bergunung-gunung memiliki karakter khas yang bertolak belakang. Meski musim kemaraunya lebih panjang—sekitar delapan bulan setahun—ketika memasuki musim hujan, curah hujan yang tinggi acapkali memicu bencana longsor dan banjir.
Harap maklum. Ketika kemarau, umumnya karakter tanah di daerah dengan kemiringan tertentu mengering. Butiran tanah lepas dan tanah-tanah merekah. Akibatnya, begitu musim hujan datang, air hujan yang mengguyur sering kali membuat tebing-tebing runtuh, dan terjadilah banjir dan longsor.
Ancaman erosi ini bukan hanya mengancam sumber pangan dan kekayaan alam, melainkan juga keselamatan manusia. Itu sebabnya, guna mencegah erosi, terutama di daerah dengan kemiringan tertentu atau daerah yang punya aliran sungai, penduduk umumnya mengonservasi tanah dengan sistem terasering.
Model persawahan terasering di Flores antara lain dapat dijumpai di Desa Waturaka, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, sekitar 45 kilometer dari kota Ende. Persawahan terasering mudah dijumpai di Kabupaten Ngada, Manggarai, Mbay, dan Nagekeo, semuanya di Pulau Flores.
Terasering merupakan bangunan konservasi tanah, teras-teras yang dibuat sejajar dengan garis kontur alam yang dilengkapi dengan saluran peresapan, saluran pembuangan air, dan tanaman penguat teras yang berfungsi sebagai pengendali erosi.
Dengan panorama sangat indah, hawa sejuk, dan udara yang bersih, tanaman padi yang menghijau tumbuh subur di sana bersanding dengan beberapa pohon kelapa yang menjulang. Demikian juga sejumlah lahan bisa ditanami sayur, termasuk tomat. Padi sawah di Waturaka itu tertata rapi berhektar-hektar dalam sistem terasering bertingkat-tingkat.
”Alam seperti di Flores yang berbukit-bukit dan curam, dengan tingkat kemiringan 45-65 derajat, memang yang cocok dengan pertanian model persawahan terasering,” kata mantan Kepala Dinas Pertanian Sikka Viator Parera.
Terasering yang menonjol dapat dijumpai di Ende, Ngada, atau Manggarai. Di kawasan Waturaka dapat pula dijumpai model terasering di Desa Wologai, Kecamatan Detusoko, Ende.
Luas tanaman padi sawah di desa ini mencapai 120 hektar, yang seluruhnya dibuat dengan sistem terasering. Bentuk persawahan semacam ini untuk ukuran desa tergolong paling luas di Ende, yang mempunyai total areal padi sawah 6.000 hektar.
Sekitar 60 persen areal tanaman sawah di Ende dibuka di tanah datar, sebagian besar terletak di Kecamatan Wewaria, Maurole, Maukaro, dan Kotabaru. Adapun sawah model terasering sekitar 40 persen di antaranya terdapat di Kecamatan Detusoko, Kelimutu, Detukeli, dan Ndona Timur.
”Sawah dengan terasering di desa ini sudah dibuka sekitar tahun 1955 pada masa Raja Lio dan tetap dipertahankan sampai kini dengan ditanami padi lokal Mbongawani Ekoleta,” kata Kepala Desa Wologai Blasius Don Bosco Satu.
Blasius menceritakan, awal mula dibuka persawahan di Wologai atas permintaan Raja Lio karena daerah tersebut memiliki tanah yang subur, banyak sungai, dan iklim yang cocok untuk padi sawah.
Berhubung daerah ini terletak di dataran tinggi, sebagai penahan air dibuatlah terasering. Titik tertinggi terasering di Wologai dibuat antara 800 meter dan 906 meter di atas permukaan laut. Awalnya, pembuatan terasering dengan alat yang sederhana, yaitu menggunakan tofa (semacam linggis) yang terbuat dari kayu.
Penduduk Desa Wologai yang berjumlah 749 jiwa dari 220 keluarga mayoritas adalah petani, yang terdiri dari 8 kelompok dengan anggota 141 orang.
Sampai saat ini, penduduk Wologai tetap mempertahankan budidaya padi sawah karena mereka juga mempertimbangkan aspek kelestarian alam.
Sebetulnya mereka amat memungkinkan beralih ke komoditas lain, seperti tanaman hortikultura atau tanaman perdagangan. Namun, yang dikhawatirkan, dari kondisi tanah sawah yang berlumpur, jika budidaya berganti dengan tanaman perdagangan, maka begitu masuk musim kemarau tanah akan kering dan merekah. Ketika hujan datang longsor pun mengancam.
Dengan budidaya padi sawah, tanah akan selalu basah karena senantiasa dialiri air, dan terasering turut menekan limpasan air dari gunung ke hilir. Budidaya padi sawah yang masih tetap lestari juga tak lepas dari masih taatnya masyarakat pada adat. Ketika mosalaki (tetua adat) mengawali menanam padi lewat upacara adat Paki Tana, semua masyarakat akan menurut. Begitu pula di kala panen, mosalaki akan mengawali lebih dulu.
Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Ende, Karel Kabesa Raya, mengatakan, dalam pertanian lahan kering dan basah mutlak dilakukan konservasi tanah dan air, salah satunya dengan terasering.
”Apalagi seperti di Ende yang banyak daerah kemiringan, semakin terjal, teraseringnya juga makin tinggi. Terasering selain berguna untuk mencegah erosi juga menyiapkan media tanam,” kata Karel.
Padi sawah dengan model terasering juga dapat dijumpai di sejumlah titik di wilayah Kabupaten Ngada, Flores, antara lain di Desa Nabelena, Kecamatan Bajawa Utara. Total padi sawah di Ngada sekitar 5.000 hektar.
Menurut Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Ngada Laurensius Ngiso Godja, terasering banyak dibuat di Kecamatan Golewa. Arealnya mencapai 400 hektar sebab di daerah itu tersedia cukup air meski berada di kemiringan. Memang ada pula di tempat lain, seperti Riung, Soa, dan Bajawa Utara, tapi tidak seluas yang di Golewa,” kata Laurensius.
Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Manggarai Vinsen Marung mengemukakan, penerapan terasering di Manggarai difokuskan pada lahan untuk pengembangan tanaman sayur dan buah-buahan atau hortikultura.
Kepala Desa Wologai Blasius Don Bosco Satu juga mengungkapkan, selama di desa itu menerapkan terasering, sampai saat ini masyarakat setempat dapat terhindar dari bencana banjir dan longsor.
Mereka panen padi dua kali setahun, yakni pada bulan Desember-Februari dan bulan Juli-Agustus. Tingkat produksi rata-rata 6,3 ton per hektar. Masa panen padi lokal jenis ini memang relatif lama, yakni 5-6 bulan. Ada empat macam varietas Mbongawani Ekoleta, yakni yang putih besar, putih kecil, merah besar (beras merah), dan merah kecil.
Beras dari Wologai yang dikenal dengan beras ekoleta itu sudah terkenal di wilayah NTT, dan karena citarasanya yang khas, harganya pun relatif lebih mahal dibandingkan beras jenis lain, yakni antara Rp 7.000 per kilogram dan Rp 7.500 per kilogram di tingkat petani.
Warga Wologai sampai saat ini dapat menikmati kesejahteraan dari hasil panen padi sawah. Mereka juga hidup tenang dan aman dari bencana banjir dan longsor dengan model terasering yang diterapkan selama ini. Alam yang dijaga dengan baik akan memberi hasil yang baik pula bagi kehidupan warga sekitar. Sebaliknya, alam akan murka jika manusia mengeksploitasinya secara serampangan.... 


Sumber :  Kompas,09-09-2011

Menjelajah Awal Peradaban Manusia di Sulteng


Ini bukan sekadar konon, tapi fakta yang juga berdasarkan berbagai hasil penelitian. Katanya, untuk melihat awal peradaban manusia di Sulawesi Tengah, datanglah ke tiga lembah, yakni Lembah Besoa, Bada, dan Napu yang ada di Kabupaten Poso.
Tiga lembah ini meliputi enam kecamatan, yakni Lore Utara, Lore Tengah, Lore Selatan, Lore Barat, Lore Timur, dan Lore Peore. Wilayah ini berada di sekitar Taman Nasional Lore Lindu.
Apa yang disebut sebagai awal peradaban ini adalah peninggalan purbakala berupa situs megalitik. Setidaknya ada lebih dari 30 situs megalitik di tiga lembah ini, di mana setiap situs berisi satu sampai 30-an arca. Data Dinas Pariwisata Sulteng mencatat, sebanyak 1.451 arca dengan berbagai bentuk dan ukuran ada di tiga lembah ini.
Di tiga lembah itu arca-arca ini terletak secara alami di sekitar persawahan, dataran tinggi, hutan, permukiman warga, dan padang rumput. Letaknya di alam terbuka dengan pemandangan sekeliling yang indah, seperti gunung, hutan, maupun lembah, atau di antara persawahan penduduk, membuat situs megalitik ini selalu menarik dikunjungi tak hanya wisatawan, tapi juga peneliti.
Sebagai contoh adalah situs Pokekea di Desa Hangira, Kecamatan Lore Tengah, yang berada di lembah Besoa. Dari Doda, ibu kota Kecamatan Lore Tengah, Situs Pokekea berjarak sekitar 8 kilometer. Situs Pokekea berada di lembah yang dikelilingi pegunungan. Di Situs ini sedikitnya ada 30 arca. Ada patung manusia berbentuk pipih dengan bagian depan berukir bentuk wajah dan bagian tubuh yang menunjuk jenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Ukurannya beragam, dengan tinggi 100 cm-160 cm dan lebar 25 cm-50 cm.
Banyak pula benda berbentuk loyang raksasa atau sebutan setempat kalamba, dengan ukuran beragam, mulai dari tinggi satu meter-dua meter dengan diameter 100-250 cm. Benda-benda ini lengkap dengan penutupnya yang juga terbuat dari batu, tapi umumnya terletak di tanah. Bentuknya seperti penutup panci dengan tonjolan di tengah-tengah, tebalnya 30 cm-50 cm dan diameter 100-200 cm. Sebagian pinggirannya ada yang dihiasi patung monyet dalam posisi telapak tangan, lutut, dan telapak kaki bagian depan menyentuh bagian atas penutup.
Ada lagi yang berbentuk seperti dulang, batu datar dengan ukiran dan simbol-simbol di bagian atasnya yang menyerupai tempat penyembahan, lesung, serta bentuk lain. Letak antara satu benda dan benda lain di Situs Pokekea adalah 100-300 meter. Tapi, jarak antara satu situs dan situs lainnya dalam satu kecamatan adalah 1 kilometer hingga lebih dari 10 kilometer. Umumnya harus ditempuh dengan berjalan kaki.
Atau coba ke Desa Bariri, tempat arca batu Tadulako berada. Sebuah patung batu berbentuk lonjong berukuran tinggi sekitar 2 meter dengan diameter 1 meter. Melihat ukiran wajah dan tubuhnya, patung ini berjenis kelamin laki-laki. Terletak di ketinggian, menghadap ke arah barat. Jauh di sekitar lembah adalah hamparan pegunungan dan sawah bak permadani.


Simbol peradaban
Berbagai penelitian menyebutkan, situs megalitik di tiga lembah ini diperkirakan sudah berusia ribuan tahun atau sejak 2.000-2.500 tahun sebelum Masehi, tepatnya pada permulaan zaman megalitik—masuknya zaman bercocok tanam. Keberadaan situs-situs ini adalah simbol masuknya manusia pertama ke Sulteng, sekaligus awal peradaban di wilayah ini.
Tanwir La Maming, arkeolog Sulteng yang cukup lama melakukan penelitian pada situs-situs di tiga lembah ini, mengatakan, di Indonesia bahkan di dunia, situs megalitik di tiga lembah ini punya keunikan dan ciri khas yang tidak dimiliki situs di tempat lain.
”Keunikan dan ciri khasnya antara lain setiap situs merupakan satu kesatuan yang melambangkan kepercayaan, rumpun etnis atau tempat tinggal, serta pola hidup masyarakat setempat pada masa itu. Misalnya, dalam satu situs ada tempat pemujaannya, tempat mandi, arca manusia yang jadi simbol nenek moyang, alat bermain, kuburan, alat bercocok tanam, dan lainnya. Arah hadap mata angin arca-arca dalam setiap situs yang berbeda antara satu situs dengan situs lainnya melambangkan adanya kepercayaan yang berbeda-beda pada setiap rumpun,” kata Tanwir.
Menurut dia, keberadaan situs ini juga menunjukkan bahwa lembah Napu, Bada, dan Besoa bukan hanya sebagai tempat awal keberadaan manusia atau peradaban di Sulteng, tapi juga menunjukkan bahwa dahulu wilayah ini adalah pusat peradaban besar.
”Soal mengapa situs-situs ini berada di lembah, Tanwir mengatakan, berdasarkan penelitian, dahulu semua wilayah ini adalah hutan. Datangnya manusia dalam jumlah besar pada masa itu membuat kawasan hutan dan gunung ini kemudian dijadikan tempat tinggal, areal sawah dan kebun. Karena itulah semua situs berada dan tersebar di tiga lembah besar.
Adapun Desa Bariri dan Hanggira di Kecamatan Lore Tengah diduga adalah pusat pembuatan arca. ”Jadi masyarakat di wilayah ini dulunya adalah pembuat arca. Ini bisa dilihat dari banyaknya arca di dua desa ini dengan beragam bentuk serta ukuran besar-besar dibanding yang ada di situs-situs lainnya. Arca-arca ini diperkirakan ada yang belum diambil oleh pemesannya, atau tertinggal, hingga peradaban pada masa itu berakhir,” jelasnya.
Siapa pun yang pernah berkunjung ke tiga lembah ini tak memungkiri keindahan panorama dan kekayaan peninggalan bersejarah tersebut. Situs megalitik di Sulteng diperkirakan adalah yang terluas di Indonesia. Situs megalitik besar dengan jumlah banyak, selain di Lembah Besoa, Napu, dan Bada, juga bisa disaksikan di Marquies Island, Amerika Latin.
”Kami senang perjalanan ke tempat ini. Situsnya, kehidupan masyarakatnya, berjalan kaki, dan tidur di hutan. Semuanya menjadi perjalanan yang menyenangkan dan menantang,” ujar Hobnier, wisatawan asal Belanda.
Memang, berada di antara hutan, lembah, dan pegunungan di sekitar Taman Nasional Lore Lindu membuat wisatawan atau peneliti lebih memilih menjelajah situs dengan berjalan kaki dan menginap di tenda-tenda di hutan atau lembah. Apalagi di sekitar hutan Taman Nasional Lore Lindu pengunjung juga bisa menikmati suara burung dari beragam spesies yang menghuni hutan. Di permukiman-permukiman warga di sekitar situs sebenarnya tersedia penginapan, bahkan rumah warga juga bisa dipakai untuk menginap. Tapi nyatanya, menginap di tenda-tenda lebih dipilih wisatawan dan peneliti.
Kehidupan warga sekitar yang masih kental dengan budaya juga menjadi salah satu yang membuat pengunjung tertarik. Menari dero, mendengarkan musik khas dataran tinggi, yakni musik bambu, melihat pembuatan pakaian dari kulit kayu, adalah sebagian kekayaan budaya masyarakat yang melengkapi penjelajahan peradaban ini.
Untuk sampai ke Lembah Napu, Besoa, dan Bada, ada beberapa rute. Misalnya untuk ke Bada, bisa melalui Palu-Poso-Tentena dan melanjutkan ke Lembah Bada. Biasanya wisatawan dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan, melanjutkan perjalanan ke Tentena dan berkunjung ke Lembah Bada.
Untuk ke Lembah Besoa dan Napu, pengunjung bisa mengambil rute Palu-Palolo (Sigi) dan terus ke Lembah Napu dan Besoa. Sebenarnya tiga lembah ini berdekatan walaupun akses masuknya bisa dari Poso maupun Sigi. Biasanya wisatawan dan peneliti yang masuk ke Lembah Napu dan Besoa via Sigi akan mengambil jalur jalan kaki melanjutkan ke Lembah Bada, begitu juga sebaliknya. Umumnya kendaraan roda empat menjangkau hingga wilayah ibu kota kecamatan. Selanjutnya ada yang tetap bisa dijangkau dengan kendaraan roda empat, ada yang harus dengan kendaraan roda dua, sebagian lagi dengan jalan kaki.
Untuk urusan makan, di permukiman warga banyak terdapat warung makan dengan menu dan harga bervariasi. Jadi, jika ingin berwisata sejarah, melihat awal peradaban manusia yang langka di dunia, sekaligus menikmati panorama alam, silakan berkunjung ke Sulawesi Tengah.
Bagaimana menjangkau Lembah Bada, Lembah Besoa, dan Lembah Napu? Tiket Jakarta-Palu Rp 800.000-Rp 1.500.000, Palu-Poso-Tentena via darat bisa menggunakan angkutan umum Rp 130.000. Dari Tentena ke Bada via darat dengan mobil angkutan khusus (gardan ganda) Rp 150.000.
Dari Palu, Palolo, menuju Napu lewat darat dengan kendaraan roda empat Rp 80.000. Selanjutnya ke Lembah Besoa, tepatnya di Dado, ibu kota Kecamatan Lore Tengah, Rp 50.000. Penginapan beragam tarif, berkisar Rp 150.000-Rp 250.000. Tersedia ojek untuk menjangkau sejumlah situs. Ongkosnya bervariasi tergantung jauh dekat, berkisar Rp 20.000-Rp 50.000


(Kompas: 16-08-2011,Reny Sri Ayu)

Kayu Lukis Tanah Papua


LUKISAN kulit kayu dari Pulau Asei Besar, Jayapura, digemari wisatawan mancanegara. Kerajinan ini awet dibuat dari pohon khombouw yang hanya hidup di hutan belantara tanah Papua.Martha Ohee mencoba memperkenalkan kerajinan kebanggaan Danau Sentani itu melalui pameran di Jakarta Convention Center, pekan lalu. Martha kewalahan karena sebagian hasil kerajinan yang dibawanya langsung diborong oleh wisatawan dari Jerman.
”Saya mempertahankan kerajinan lukis kulit kayu karena itu adalah budaya kami. Saya ajar ke generasi penerus agar mereka melanjutkan. Ini talenta turun-temurun,” ujar Martha ketika dijumpai di Jakarta.
Dalam upaya menghidupkan tradisi melukis kayu, Martha tidak sendirian. Sekitar 200 penduduk yang menghuni 30 rumah di pulau yang terletak di tengah Danau Sentani itu seluruhnya piawai membuat lukisan kulit kayu. Di masa lampau, khombouw hanya digunakan untuk bahan pembuat pakaian. Seiring berjalannya waktu, kulit dari pohon yang batangnya mirip dengan pohon randu ini mulai dimanfaatkan sebagai kanvas lukisan.


Motif unik
Tiap mata rumah atau suku di Pulau Asei Besar memiliki motif unik masing-masing yang dilukis di lembaran-lembaran kulit kayu. Mata rumah Ohee, misalnya, memiliki simbol khusus bernama rasindale yang merupakan lambang kemakmuran.
Rasindale hanya boleh dipahat di tiang rumah kepala suku (ondoavi) dan dipakai oleh istrinya. Dari motif rasindale, orang-orang akan mengenali istri sang kepala suku. Selain dipahat di tiang rumah, simbol khusus ini juga dipakai di dayung kole-kole (perahu).
Motif lainnya disebut yoniki yang dipakai oleh semua kepala suku di Pulau Asei Besar. Yoniki ini berupa simbol berbentuk bulat yang melambangkan kebersamaan.
Sampai sekarang, peran kepala suku di Pulau Asei Besar sangat besar. Kepala suku, antara lain, harus mengayomi keluarga. Dalam hal pembayaran mas kawin, misalnya, kepala suku bertugas mengantar makanan dan menerima mas kawin dari pengantin pria.
Seluruh warga Pulau Asei Besar pasti memiliki dayung kole-kole karena mata pencarian utama mereka adalah nelayan di Danau Sentani. Rumah mereka pun masih tradisional dengan tiang-tiang dari kayu. ”Ada darah melukis yang diwariskan. Sesibuk apa pun, kami tetap harus melukis di kulit kayu,” ujar Martha.
Martha dan perajin lain di Pulau Asei Besar mempertahankan pembuatan lukisan dengan cara tradisional. Tangkai buah kelapa digunakan sebagai kuas lukis. Pewarnaan alami antara lain memanfaatkan perasan daun untuk warna hijau, arang periuk untuk warna hitam, dan kunyit untuk warna kuning.
Selain simbol suku-suku di Pulau Asei Besar, lukisan kulit kayu juga dipercantik dengan gambar burung cendrawasih atau cicak. Mempekerjakan tujuh pegawai, Martha juga mulai memodifikasi produk lukisan kulit kayu yang dijual di kios miliknya.
Dari hanya berupa hiasan lembaran kulit kayu lukis, Martha berinisiatif membuat sarung telepon seluler, dompet, topi, dan tas dari kulit kayu. Produk baru ini terbukti digemari turis asing yang mencari kerajinan kulit kayu langsung ke Kampung Asei Besar.
Sebelum dilukis, kulit khombouw harus dicuci untuk menghilangkan getahnya, digetok, lalu dijemur. Proses ini memakan waktu satu hari. ”Tak perlu bahan pengawet, kulit khombouw bisa awet sampai yang memakainya bosan. Kulit khombouw juga tidak bisa dimakan rayap,” kata suami Martha, Jackson Kere.


Pohon langka
Menurut Jackson, kendala utama yang dihadapi perajin lukisan kulit kayu adalah makin langkanya bahan baku. Pohon khombouw di Pulau Asei Besar sudah habis ditebang. Kulit tersebut harus diambil dari pohon liar di hutan. Jika dibudidayakan, kualitas kulit khombouw akan turun.
Perajin akhirnya harus mencari kulit khombouw di hutan-hutan yang jaraknya sekitar 50 kilometer dari Asei Besar. Perajin antara lain mendatangkan bahan kulit khombouw dari Geryem, Lereh, Senggi, dan Obhec. ”Jauh sekali. Mereka antar kulit khombouw ke kami,” kata Jackson.
Kulit khombouw tak tergantikan pohon lain karena kulitnya bisa melar seperti karet ketika ditarik. Jackson lalu menunjukkan bagaimana kulit khombouw bisa melar hingga tiga kali lipat ukuran asli setelah digetok dengan menggunakan bilah besi.
Dalam sehari, perajin bisa membuat satu hingga dua lembar lukisan kulit kayu berukuran masing-masing 30 x 60 cm. Ada lebih dari 20 ragam motif simbol lukisan yang ditawarkan. Harga lukisan kulit kayu beragam dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah per lembar.
Penduduk Pulau Asei Besar akan menggelar dagangan kerajinan kulit kayu ini di halaman muka rumah mereka begitu wisatawan asing berdatangan. Terletak di tengah Danau Sentani, Kampung Asei Besar memang menjadi destinasi utama wisatawan mancanegara.
Setiap pesawat yang mendarat di Bandara Sentani pasti melintas di atas Kampung Asei Besar. Dari bandara, wisatawan hanya perlu mengeluarkan ongkos naik perahu Rp 3.000. Martha lalu menunjukkan gambar Pulau Asei Besar yang tercetak di balik kartu namanya.
Luas Pulau Asei Besar, lanjut Jackson, tak lebih besar dari ruang pamer di JCC. Rumah-rumah di pulau ini masih mempertahankan bentuk tradisional dengan tiang. Selain Asei Besar, terdapat beberapa pulau lain di tengah Danau Sentani, seperti Pulau Ajau, Pulau Yobeh, dan Pulau Yonokom.
Asisten Manajer Bisnis Mikro Kantor BRI Cabang Sentani Erys Parlin Saragih yang mendampingi Martha dan Jackson ke Jakarta berharap perajin lukis kulit kayu bisa merambah pasar lokal. Selama ini, mereka hanya mengandalkan kunjungan wisatawan asing. 


(Kompas,18-Maret-2012,Mawar Kusuma)

“Pillar” Batu di Warloka, Manggarai Barat


Desa Warloka di Manggarai Barat, ujung barat pulau Flores,  mungkin kini tidak banyak disebutkan orang. Padahal menurut yang punya ceritra, Warloka yang berada di wilayah manggarai Barat, merupakan tempat di Flores yang pertama dikunjungi orang luar sekitar abad 10.
Sejak ditemukan harta karun terpendam dalam kuburan di dekat desa ini pada tahun 1960, banyak pihak memberikan tafsiran tentang awal mula datangnnya benda-benda itu. Orang menduga dulu telah ada pionir kerajaan bangsa Cina untuk menguasai perdagangan rempah-rempah untuk Indonesia Timur. Sementara ada yang menduga tempat ini adalah  tempat bersenang-senang waktu luang Raja Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-14.
Untuk hubungan dengan kerajaan Mahapahit terutama Raja Hayam Wuruk, beberapa temuan mengatakan nama asali dari Warloka adalah Wuruk loka (”tempat miliknya/kepunyaan wuruk”).
Di Warloka, penduduk lokal masih menemukan  benda-benda peninggalan tempo dulu seperti  kalung dari emas, gelang-gelang dan piring-piring porselin. Ada porselen orang Cina dahulu kala baik dari dinasti Sung (960-1279), Yun (1260-1386) dan Ming (1368-1644).
Tidak jauh dari desa Warloka, di atas bukit di Manggarai bagian barat, penduduk masih menemukan pecahan benda-benda dari  Vietnam dan Thailand abad ke-14 dan ke-15 yang terletak di dekat gua. Bagai bersambut gayung, kekayaan harta benda ini sungguh bergandengan dengan penemuan yang menarik dekat Warloka.
Sungguh menarik jika datang dan mengalami hidup di desa Warloka. Warloka tidak hanya sebagai tempat bersejarah, tetapi juga karea  misteri dan pesona yang ditampilkan dalam hidup penduduk lokal. Di sini, kita menemukan banyak ’pillar’ – bentuk batu yang tersebar disana-sini mengitari pemandangan alam, bersama dengan sejumlah meja-meja batu pada puncak bukit dari desa ini.
Tiang-tiang dan balok-balok batu ini, berada dalam wilayah seluas kurang lebih 3 km2. Dua tiang dari batu, berbentuk seperti tiang kayu, yang berdiri miring, tumbuh kokoh di atas tanah kerikil yang keras. Keempat sisinya masing-masing licin bagaikan diskap. Bagian atas masing-masing berbentuk seperti ujung sebuah tiang kayu persegi empat. Posisi tiang-tiang dan balok-balok yang berserakan di sini memberikan kesan seolah sedang ada persiapan membangun rumah baru.
Saat ini penduduk desa Waraloka ber mata pencaharian sebagai nelayan dengan latar belakang asal yang berbeda. Orang Bugis, orang Ende, orang Bima, Sape dan Bajo, memilih tinggal dan  hidup berdampingan di desa Warloka.
Sebagai desa nelayan, jika malam tiba, laut yang gelap selalau diterangi  cahaya lampu petromax dari puluhan bagan yang menunggui laut. 


 (Sumber : floresbangkit.com/Beny Kasman)