Laman

Senin, 05 November 2012

Menelisik Tradisi Perang Adonara



 Lewo Nara dan Lewo Bunga, Dua Desa yang terletak di pesisir Timur pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT  ini berbatasan langsung. Layaknya kehidupan bertetangga pada Desa-desa umumnya, kedua desa ini menjalani hidup berdampingan dan selalu bersama-sama.
Tidak mengherankan, warga kedua desa tersebut saling kenal karena interaksi sosial yang dibangun sejak tahun 1930, saat nenek moyang Desa Lewo Bunga memutuskan bermigrasi dari kampung asalnya, Kiwang Ona, kampung yang letaknya persis di tengah badan gunung Ile Boleng, ke wilayah yang disebut-sebut sebagai ulayat Desa Lewo Nara.
Aktifitas menonjol sehari-hari seperti iris tuak, menyabung ayam, mengerjakan kebun, menjual ternak di pasar, hingga urusan keagamaan maupun pemerintahan, dilakukan secara bersama-sama dalam suasana keakraban.
Bahkan dari hasil interaksi, warga kedua Desa ini juga terikat hubungan kekeluargaan karena kawin-mawin. Tidak sedikit perempuan asal Desa Lewo Bunga diperistri orang Lewo Nara. Demikian sebaliknya.
Perang adat, adalah langkah terakhir menyelesaikan sengketa antar desa, maka tidak ada cara lain, seluruh warga laki-laki bangkit dan berperang membantai lawan. Warga dua desa yang memiliki hubungan kawin-mawinpun harus saling membunuh, atas nama ritual adat perang tanding antar kampung. Pertalian kekerabatan karena kawin mawin antar kampungpun tidak memupus perang tanding tersebut.
Secara kasat mata, pembangunan di dua Desa tetangga itu berbeda. Pembangunan secara fisik lebih menonjol di desa Lewo Bunga. Jalan raya yang menghubungkan Waiwerang sebagai pusat perekonomian di Adonara, dalam kondisi baik hanya mencapai desa Lewo Bunga tetapi kondisi jalan mulai menyempit dan berlubang-lubang ketika memasuki desa Lewo Nara.Demikian pula fasilitas publik seperti Sekolah, rumah ibadat dan fasilitas kesehatan dibangun di Desa Lewo Bunga.
Kondisi ini menurut sejumlah pengamat di Flores Timur sedikit banyak memicu kecemburuan sosial. Apalagi, wilayah desa Lewobunga menjadi ulayat orang Lewonara. Kondisi ini ternyata sudah berlangsung sejak 1930 an. Protes yang dilancarkan    pihak Desa Lewonara, disebut-sebut bertujuan agar Desa Lewobunga mengakui kepemilikan ulayat Desa Lewonara. Pengakuan tersebut ditandai orang Lewobunga harus menyebutkan Lewonara dalam setiap ritual adat, bentuk penghormatan terhadap pemilik ulayat adalah setiap rahang hewan yang dipotong, harus dipersembahkan kepada pihak Lewonara.
Perang kedua Desa bertetangga tersebut bukan baru kali ini. Tercatat, perang tanding pertama dimulai tahun 1933, 1947, 1958, 1972, 1978, 1996, dan 1912. Hingga saat ini kedua belah pihak masih bersikeras pada pendirian masing-masing.
Peran Pranata Sosial Tradisional Dalam Perang Tanding
Pulau Adonara awalnya disebut  Ado Wayo, namun kemudian  diganti nama menjadi Adonaran oleh seorang pastor SVD asal Cina, tahun 1512, karena pulau tersebut kerap beradu darah (ado: adu, Nara: darah).
Dalam buku “Lensa Flotim” yang diterbitkan pemerintah Kabupaten Flores Timur, disebutkan, Saat ini, pulau Adonara terdiri dari 8 Kecamatan, yakni Kecamatan Adonara Timur, Klubagolit, Witihama, Adonara, Adonara Barat, Adonara Tengah, Wotan Ulu Mado dan Ile Boleng, dengan jumlah penduduk 169 ribu jiwa.
Meliput perang saudara di Adonara, mau tidak mau, pranata sosial yang dipegang teguh di Adonara disebutkan, meski warga Adonara sangat berhati-hati berkisah tentang perang dan bagaimana peran pranata sosial warisan nenek moyang mereka itu berfungsi.
Pada umumnya, orang Adonara sangat memegang teguh tradisi adat-istiadat. Mereka sangat patuh dan taat kepada tradisi adat, hingga pranata sosial warisan nenek moyang sejak dahulu kala, masih dipertahankan dan berlaku hingga saat ini, terutama saat masyarakat setempat menghadapi masalah tanah dan kekerasan terhadap perempuan.
Dandim 1624 Flores Timur, Letkol Inf. R.Beni K. Arifin kepada awak media ini menjelaskan, Dua Desa di pesisir Adonara Timur itu sangat dipengaruhi tiga Raja, yakni Raja Terong, Raja Adonara berdomisili di Sagu dan Raja Larantuka. Ketiga raja ini memiliki Kapitan Pulo Pegawe Lema (kepala suku) yang ada di masing-masing Desa. Dibawah Kapitan Pulo Pegawe Lema, ada Ana Koda (semacam dukun, berperan melakukan ritual adat), di bawah Ana Koda ada panglima perang (eksekutor hasil ritual adat di medan perang).
Bernadus Nara,45, warga Adonara di Desa Wato One, menyebutkan, perang tanding adalah tradisi penyelesaian sengketa ulayat yang dipercaya akan membuktikan kebenaran sejarah. “Warga yang menjadi korban di medan perang, dipercaya memiliki kesalahan secara adat istiadat”,kata Nara.
David Kopong Lawe, Warga Adonara menyebutkan, Dalam tradisi perang, pranata tradisional sangat kental dan berfungsi hingga saat ini. Pranata sosial tradisional tersebut bahkan mengalahkan pengaruh struktur pemerintahan di desa.
“Orang Adonara sangat patuh terhadap hukum adat karena memiliki konsekwensi yang tegas jika dilanggar. jika konsekwensi dari pelanggaran itu tidak dirasakan saat ini, maka akan dirasakan turunannya dikemudian hari. Biasanya, Melanggar adat, konsekwensinya kena penyakit atau mati tiba-tiba, sakit berat, dikucilkan dari kampung bahkan dibunuh”,kata David Ola.
Struktur pemerintahan tradisional orang Adonara dikenal sebagai Asa atau Kemuha. Struktur ini disebut Kapitan Pulo Pegawe Lema, diwariskan secara turun temurun dimulai dengan Lewo Alap yang bertugas menjalankan pemerintahan kampung, dibantu Kenewang bertugas menjalankan roda perekonomian (penentu musim bertani), Leba Beahe bertugas menjalankan pembangunan kampung, Reket Leu bertugas mempersiapkan senjata untuk berperang, Molang Pati Daeng Beda, Dukun mengobati luka dan sakit, Kdang Knere bertugas menjembatani hubungan manusia dengan alam bawah tanah dan alam nirwana.
“Sebelum memutuskan untuk berperang, orang Adonara harus melewati proses ritual Gahin Koda eddatau menganalisis sebab akibat memulai perang. Ritual ini biasanya dipimpin oleh Ata Mua (Ata Mukin Mua Wadan),  setelah itu, dilakukan ritual Leda atau Neren yakni membicarakan akibat jika perang dimulai. Bisa dikatakan, perang di Adonara berpatokan pada mimpi yang dilakukan oleh pelaku  Kdang Knere. Setelah itu dilakukan ritual bubuk muhuk atau pembagian jahe merah untuk dimakan bala tentara perang, setelah itu baru bala tentara akan turun ke medan perang atau disebut Kuan Lagan”, kata Kopong Lawe.
David menjelaskan, di medan perang, sebuah bala tentara dipimpin oleh panglima perang yang disebut Pehen Muhuk Saga Wangun, yang dibantu pemimpin pasukan yang disebut Pehen Raran Reket Leu Dopi Lati dan spionase yang disebut Temeek.
Perang tanding biasanya dimulai pukul 06.00 sampai 09.00. Diatas jam 09.00 sampai pukul 15.00 disebut masa Knema Tepo atau batas waktu perang, jika perang tetap dilanjutkan pada jam ini, diyakini akan jatuh lebih banyak korban. Perang akan dilanjutkan pada pukul 15.00 sampai pukul 18.00.
Uniknya, tidak ada pembunuhan atau tindakan main hakim sendiri diluar arena perang tanding. “Meski selalu ada dendam di antara kedua belah pihak, namun tidak ada main hakim sendiri diluar arena perang tanding. Jika, dendam itu memuncak maka pranata sosial tradisional dalam bidang peperangan tersebut memainkan peran dan menyatakan perang tanding”,kata David.
Seruan Damai
Pastor Paroki Kristus Raja Waiwerang, Rm. Bene Koban,  menyerukan langkah damai dalam penyelesaian sengketa tanah dan masalah kekerasan terhadap perempuan di Adonara.
“Pihak gereja terus menyerukan damai kepada umat yang berada di stasi Lewobunga dan stasi Lewonara. Kebetulan, pemimpin adat di kedua desa adalah pemimpin dewan stasi di bidang rohani juga, maka kami terus menghimbau adanya langkah persuasif dalam penyelesaian masalah di Adonara”, ujar pastor Paroki asal Lembata ini.
Menurutnya, sekeras apapun konsekwensi adat yang diterima, semuanya juga ada jalan keluar. “Adat dibuat manusia, maka manusia juga mampu mengendalikan konsekwensi adat, selama manusia memiliki kemauan besar untuk menyelesaikan masalah, pasti Tuhan akan memberikan jalan keluar terbaik atas nama damai dan cinta kasih,”ujar Romo Beni.
Dikatakan, pihaknya tidak berhenti menyuarakan pesan perdamaian di bumi Adonara dalam berbagai kesempatan, baik melalui mimbar gereja, maupun sembayang di tingkat umat basis. “Saya percaya akan ada jalan penyelesaian secara damai di Adonara,” katanya.
(Floresbangkit.com/Yogi Making)