Laman

Kamis, 08 November 2012

Budaya Belis : sekilas tentang Belis ( I )


Oleh : Walterius Window
Budaya belis sering dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat. Belis dinilai sebagai penghalang cinta pria dan wanita karena pihak orangtua gadis sering memasang target besarnya belis berdasarkan status sosial, status seorang gadis, maupun karena gengsi orangtua semata. Permainan belis seperti ini tentu menimbulkan pertanyaan, apakah pembelisan harus dilewati setiap pasangan untuk membangun mahligai perkawinan? Di ambang batas ini belis kadang sebagai kekuatan yang menakutkan bagi generasi kemudian. Apalagi Pergaulan bebas mengantar generasi sekarang untuk melangkahi belis yang dilihat sebagai produk usang yang tidak sesuai zaman. Apakah ini sebuah pilihan yang terbaik di tengah carut-marut budaya belis?
Sekilas Tentang Belis
Belis (bridewealth) merupakan sejumlah harta kekayaan yang diserahkan oleh keluarga pihak lelaki kepada keluarga pihak perempuan sebagai syarat bagi mereka untuk memperoleh hak atas gadis dari pihak perempuan. Dalam arti yang lebih luas termasuk harta yang diberikan pihak wanita sebagai imbalan atas pemberian pihak laki-laki. Philipus Tule (2004: 179) mengartikan belis (bridewealth) sebagai: “an act of transaction of property and counter-property which takes place not only at the time of marriage but also on various other occasions, including mortuary rites.
Dengan demikian belis dipandang sebagai tindakan memberi (giving), menerima (receiving), dan membalas (reciprocating) antara kedua keluarga perempuan dan laki-laki sepanjang masa.
Koetnjaraningrat (1985: 101) sebaliknya mengartikan belis (mas kawin) lebih sebagai sarana pengganti kerugian ekonomis. Perempuan yang diambil pria sebagai isteri merupakan tenaga potensial untuk menopang kehidupan keluarga, seperti bercocok tanam, menenun, dan sebagainya. Kepergian sang gadis akan menimbulkan kerugian dan kesengsaraan bagi keluarga yang bersangkutan karena sang gadis akan tinggal dengan suaminya, maka belis dipandang sebagai sarana stabilitas yang memulihkan keadaan. Belis dipercayakan dapat menggantikan kerugian yang diderita  oleh pihak perempuan oleh karena kehilangan tenaga kerja. Namun, dalam suku-suku di tempat tertentu (khususnya Toto) pemberian belis pihak laki-laki (ngawu) juga diikuti pemberian balasan dari pihak perempuan (sunda bhando). Pemberian pihak lelaki berupa: kerbau, sapi, kuda, gading, mas, uang, ayam, domba, dan kambing. Sedangkan, balasan dari pihak perempuan: pakaian, babi, beras, kue-kue, pisang, peralatan rumah tangga, dan lain-lain.
Hampir secara keseluruhan adat istiadat (belis) di seluruh dunia mempunyai kesamaan sebagai syarat untuk menikah. Pertama adalah bride-price atau harta kekayaan yang diberikan pihak pria kepada kerabat gadis. Orang Toto melihat belis sebagai simbol cinta dan keseriusan dari lelaki kepada gadis yang akan dipinangnya. Cinta tidak cukup diungkapkan lewat kata-kata, tetapi lebih dari itu butuh pengorbanan yang harus juga diketahui oleh keluarga perempuan. Barang bawaan sebagai buah tangan dari pria sejak pada masa pacaran diperhitungkan untuk menilai apakah lelaki memiliki tanggung jawab dan seterusnya memberi sinyal kepada kerabat perempuan yang lain bahwa anak perempuan mereka hendak dipinang. Orang Toto mempunyai ungkapan, ana weta ata mona ngodho bhodo, né’e wedi,  anak perempuan orang tidak gratis, ada harganya.
Kedua, belis menjadi legitimasi adat untuk mempersatukan dan mengukuhkan kedua keluarga ine ame(pemberi isteri)  dan ana weta (penerima isteri). Pihak lelaki membawa belis (ngawu) untuk keluarga perempuan, sebaliknya dari keluarga perempuan memberikan sunda bhando kepada keluarga laki-laki. Pembelisan menjadi ajang pertemuan dan saling memberi (membalas) di antara  kedua keluarga, kemudian mulai saat itu hubungan tua éca  daki wai diikat oleh adat. Yang dilihat dalam pembelisan bukan nilai ekonomis, melainkan nilai komunal serta perhormatan atas harkat dan martabat pihak pria dan wanita. Pertemuan kedua keluarga besar sebagai tanda bahwa hukum perkawinan adat Toto tidak terlepas dari dukungan dan keterlibatan kedua pihak ini. Perkawinan yang tidak melibatkan ine amedan ana weta atau hanya menjadi urusan pria dan wanita yang bersangkutan adalah perkawinan yang melanggar hukum adat.
Ketiga, belis sebagai penghargaan terhadap martabat manusia. Dalam budaya patriarkat salah satu fungsi belis adalah sebagai syarat beralihnya gadis dari matrilineal (suku orang tua gadis) kepada patrilineal. Belis menjadi syarat legitimasi perpindahan kedudukan tersebut. Perempuan meninggalkan orangtuanya sekaligus melepaskan keanggotaan suku kepada anggota suku suami. Perpindahan tersebut membutuhkan “ongkos” karena martabat yang melekat pada perempuan. Apabila tidak ada pembelisan, sedangkan pria dan wanita sudah hidup bersama dan memiliki anak, maka anak-anak tersebut menjadi bagian dari keluarga perempuan.
Keempat, belis sebagai ungkapan sakralitas dan institusionalitas perkawinan. Dalam budaya Toto tidak ada perkawinan tanpa belis. Setelah menikah seseorang mendapatkan status baru dalam kehidupan sosial sebagai suami-isteri dan ayah-ibu dari anak-anak mereka. Fungsi-fungsi institusi keluarga, yakni prokreasi, regeneratif, dan edukatif menjadi tanggung jawab baru yang diembankan atas mereka. Lewat belis, nilai luhur perkawinan ditegaskan. Perkawinan tidak saja urusan duniawi semata, soal hubungan seksual suami-isteri, tetapi mengandung aspek transendental yang membutuhkan pertanggung jawaban kepada Yang Illahi, Dewa Yeta Ga’e Yade. Hal ini terungkap dalam doa-doa adat dari keluarga untuk kedua mempelai.
Kelima, adat belis merestui hubungan seksual suami-isteri. Hukum adat hanya merestui hubungan seksual terjadi setelah urusan belis yang disimbolkan dengan pemberian ti’i té’e pati dani (tikar & bantal) oleh orang tua kepada pasangan pengantin baru. Apabila melanggar hukum adat ini, maka pihak lelaki harus membayar dengan mata barang (sapi atau kuda) kepada pihak perempuan.
Aturan seperti ini menjadi pagar adat untuk menghindari hubungan seksual di luar nikah dan sebagai ungkapan pengormatan terhadap martabat perempuan. Di lain pihak juga, hukum adat ini sebagai upaya meminimalisir perceraian dan poligami baik poligini (lebih dari satu isteri) maupun poliandri (lebih dari satu suami). Dari pihak isteri akan menyadari perjuangan dan pengorbanan suaminya yang mengorbankan sesuatu untuk mendapatkannya sebagai teman hidup, sebaliknya suami akan merasa bangga karena cinta yang besar dari isteri sehingga isterinya berani meninggalkan rumah dan keanggotaan dalam suku orang tuanya sendiri kepada keanggotaan sukunya. (Bersambung)
Penulis adalah Guru SMA Bhaktiarsa Maumere. Tulisan ini merupakan hasil observasi partisipatif penulis Tentang Belis di wilayah Toto