Laman

Kamis, 08 November 2012

Budaya Belis ( II ) : Martabat Manusia


Oleh : Walterius Window
Adat belis merupakan suatu unsur kebudayaan yang mengatur pola relasi antarmanusia dalam suatu masyarakat tertentu. Pola relasi tentunya dibatasi oleh hukum, aturan, dan norma adat yang niscaya mengantar masyarakat kepada keharmonisan dan penghargaan atas manusia itu sendiri. Adat belis dan proses pembelisan adalah perayaan simbolik cinta kedua pasangan dan persatuan kedua keluarga besar, yakni pengambil isteri (ana weta) dan pemberi isteri (ine ame) (wife taking group & wife giving group). Cinta suami-isteri sebagai fondasi perkawinan mengalami sakralisasi dan institusionalisasi. Sedangkan, persatuan kedua keluarga besar diikat dan mendapat legitimasi hukum adat.
Belis dan balasannya sebenarnya dapat dilihat sebagai perayaan perjumpaan dan pemberian kedua belah pihak (bridewealth & counter-gift). Pihak laki-laki (wife taker) berusaha untuk mendapatkan gadis dengan mengantar belis kepada pihak perempuan (wife giver) sehingga gadis masuk anggota keluarga dan suku laki-laki. Laki-laki mencari tambatan hatinya, menemukan, mengakui, dan mempertanggungjawabkannya kepada keluarga perempuan melalui adat belis. Namun sebaliknya, keluarga perempuan harus memberikan balasan kepada keluarga laki-laki (counter-gift). Dengan demikian, belis semestinya mendapat tempat istimewa demi mengukuhkan relasi di antara kedua keluarga. Ada dua hal yang mesti diperhatikan:
Belis Sebagai Simbol, Bukan Pasar Belis
Secara etimologi, kata simbol berasal dari kata Yunani sumballein (Niko Hayon, 1986: 20) yang berarti menghubungkan kembali. Awalnya kata sumballein berarti upaya menghubungkan kembali dua bagian dari bahan yang sama untuk mengingat kembali sesuatu yang disampaikan oleh kedua bahan tersebut. Secara sederhana sumballein merupakan sebuah kata atau barang yang mewakili atau mengingatkan kepada sesuatu entitas yang lebih besar. Upaya atau tindakan menghubungkan itu hanya bisa dilakukan oleh manusia. Dengan demikian simbol mempunyai makna apabila diberi arti oleh manusia.
Ernst Cassier membuat konstruksi paradigma atas kebudayaan berdasarkan pengakuannya bahwa manusia hanya mampu mencapai potensi dan tujuan hidup yang tertinggi dengan menggunakan simbol-simbol (animal symbolicum). Dari segi fungsi organis tubuh manusia, menurutnya, manusia memiliki sistem reseptor dan efektor yang sama dengan mahkluk hidup yang lain. Namun, di sisi lain manusia memiliki kemampuan yang luar biasa untuk memasukkan di antara kedua sistem itu suatu sistem simbol untuk menghasilkan bentuk-bentuk kebudayaan. Sistem simbolis yang Cassier sebutkan sebagai “hubungan ketiga”, dengannya manusia hidup dalam realitas baru yang melebihi binatang (F.W. Dillistone, 2002: 120-121).  Hal ini karena simbol mampu menyentuh daya intelektual manusia, daya imaginasi, pancaindera, pengalaman dan perasaan manusia. Singkatnya, simbol berbicara kepada seluruh pribadi manusia.
Belis mempunyai makna kultural-simbolik, bukan karena tradisi yang diwariskan turun-temurun kepada generasi sesudahnya. Ia dipertahankan dan ditradisikan karena belis itu sendiri mengangkat dan memperkuat tali sosialitas dalam kekerabatan. Belis menjadi tali yang mengikat cinta pria & wanita secara adat dan jembatan yang kokoh untuk mempertemukan kedua keluarga besar pria dan wanita. Yang diperhitungkan bukan aspek ekonomisnya, melainkan kebersamaan dan kekeluargaan atas dasar saling mengormati dan menghargai.
Martabat Manusia Sebagai Substansi Dasar Dari Belis
Secara sederhana martabat manusia merupakan harga diri atau harkat kemanusiaan. Setiap orang mesti dihormati dan dihargai oleh karena harkat dan martabat yang melekat pada diri manusia. Tidak ada manusia yang menginginkan martabatnya diinjak-injak atau dilecehkan oleh orang lain. Persoalan tentang martabat manusia merupakan sesuatu yang mendasar dan penting karena menyentuh personalitas manusia.
Iman Katolik mengajarkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah menurut gambar-Nya sendiri. Keberadaan manusia merupakan kehadiran Allah yang tidak kelihatan. Atas dasar ini Gereja menekan bahwa kebudayaan di manapun dan apapun bentuknya harus mengarahkan manusia kepada kesempurnaan pribadi yang utuh. Budaya sebagai hasil kreativitas akal budi  harus menempatkan manusia sebagai subyek dari kebudayaan. Subyek yang memiliki martabat personal, bukan sebagai obyek determinatif. Apresiasi atas martabat tersebut datang dari manusia yang berbudaya. Dengan ini jelas, budaya belis mesti mengarahkan orang untuk mengormati martabat manusia sebagai gambar dan citra Allah sendiri.
Apreasiasi budaya belis atas martabat manusia nampak dalam tindakan “memberi” dan “menerima”  harta benda. Setiap pemberian (ine ame & ana weta) tidak mempunyai faedah apabila tidak didasarkan pada penghargaan dan pengormatan kepada pihak lain yang mana kita memberikan barang. Apa yang kita berikan merupakan hasil usaha dan lambang status kita dalam budaya setempat. Hasil usaha adalah juga representasi dari keseluruhan pribadi kita sebab merupakan hasil kreativitas kita sendiri. Dengan memberi manusia sebenarnya memberi apa yang ada dalam diri. Memberi dengan penuh penghargaan berarti manusia telah mengormati orang yang menerima dan pribadi yang memberi oleh karena pemberian sebagai hasil usaha sendiri.
Penutup
Budaya belis harus kembali kepada originalitasnya yakni sebagai tata cara “memberi’ dan ‘menerima’ dari pihak pria (wife taker) kepada  pihak perempuan (wife giver) begitu juga sebaliknya demi mengukuhkan kedua keluarga besar. Martabat manusia mendapat tempat di sini ketika peralihan seorang gadis kepada suku suami disaksikan oleh kedua keluarga besar dalam suasana saling menghargai dan menghormati. Dalam pembelisan kadang kala martabat seseorang diakui sejauh orang tersebut memiliki sesuatu untuk bisa “mengangkat” muka dalam ruang omong adat. Ini menjadi problem yang perlu dipecahkan bersama dalam pembelisan. Carut-marut pembelisan membuat belis dipandang sebelah mata. Untuk itu diharapkan peran serta semua orang untuk menyelamatkan budaya belis dari anggapan bahwa belis membuat orang tidak berbudaya dengan melegitimasi kekerasan dan perkawinan paksa demi belis yang sudah dibuat terlebih dahulu. (Habis)
Penulis adalah Guru SMA Bhaktiarsa Maumere. Tulisan ini merupakan hasil observasi partisipatif penulis Tentang Belis di wilayah Toto