Laman

Rabu, 12 September 2012

Kemelut Gunung Kelud


KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT
Aktivitas penambangan pasir di Kali Badak di sebelah barat Gunung Kelud, Kecamatan Nglegok, Blitar, Jawa Timur, Sabtu (5/11/2011). Kali ini merupakan aliran terbesar lahar Gunung kelud.

OLEH BAMBANG SETIAWAN/Litbang Kompas

 ”Tahun 2007, dari bisikan yang saya peroleh, katanya belum akan meletus. Maka, saya menyatakan belum. Kalau Pak Surono (Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) dari Bandung menyatakan akan mbledos (meletus),” kata Mbah Ronggo, yang dikenal masyarakat setempat sebagai juru kunci Gunung Kelud.

Kemelut dalam soal penentuan apakah Gunung Kelud akan meletus atau tidak memberi warna tersendiri menjelang erupsi tahun 2007. Pergumulan antara pengetahuan ilmiah dan kekuatan supernatural berimbas pada persoalan mitigasi dan ikatan sosial.

Aktivitas Kelud memang meningkat sejak 10 September 2007, yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi gempa vulkanik, naiknya suhu air kawah, dan perubahan warna danau kawah dari hijau menjadi putih keruh. Pada 16 September 2007, status Awas (tertinggi) dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Sejak itu, Tim Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Kabupaten Kediri berupaya mengungsikan masyarakat yang tinggal di sekitar zona bahaya Gunung Kelud, radius 10 kilometer dari kawah. Namun, masyarakat, khususnya yang tinggal di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, enggan mengungsi.

Mereka masih menunggu kepastian dari Mbah Ronggo, yang pada letusan Gunung Kelud tahun 1990, dianggap mampu meramalkan kapan terjadinya letusan. Mbah Ronggo yang memiliki nama asli Parjito saat itu menyatakan bahwa Gunung Kelud, berdasarkan bisikan yang ia terima dari leluhurnya, belum akan meletus.

”Lantas saya dibujuk sama Bapak Kapolres disuruh mengungsi supaya orang-orang mau mengungsi,” cerita Mbah Ronggo. Akhirnya, petang itu, 18 September 2007, ia pun meninggalkan Dusun Margomulyo ke tempat pengungsian di Balai Desa Tawang, Kecamatan Wates. Walau demikian, ia tetap mempertahankan keyakinannya. Di pengungsian ia meminta pengungsi segera dikembalikan ke dusunnya masing-masing karena Gunung Kelud belum akan meletus.

Status ”kuncen” atau juru kunci Gunung Kelud memang berbeda dibandingkan daerah lain, seperti Gunung Merapi atau Rinjani. Jika di Merapi juru kunci memiliki kekuatan legalitas dari Sultan Yogyakarta, serta di Rinjani dikuatkan kekuatan adat dan keturunan, di Kelud hanya diakui masyarakat sekitar dan perangkat setingkat desa.

Ikatan sosial yang berporos pada juru kunci tercipta karena kekuatan supernaturalnya. Meskipun nama Mbah Ronggo sudah dikenal luas dan kerap dimintai nasihat mengenai kapan sebaiknya dilaksanakan ritual sesaji untuk Gunung Kelud, tidak membuatnya diakui sebagai juru kunci yang sah oleh pemerintah daerah. Tampaknya, pengalaman kejadian tahun 2007 dan peristiwa tewasnya Mbah Maridjan oleh letusan Gunung Merapi tahun 2010 turut memengaruhi pandangan tentang juru kunci.

Sejak peristiwa 2007, posisi Mbah Ronggo dirasakan menjadi serba sulit. Sekarang, ia terlihat sangat hati-hati untuk terlibat dalam persoalan terkait Gunung Kelud. Sikap pemda ataupun pengelola pariwisata Gunung Kelud pun dirasakan menjaga jarak dengannya. ”Jadi, kalau ada ritual, ada kegiatan, saya tidak tahu. Sudah empat tahun saya tidak mengikuti (acara) yang diselenggarakan dinas pariwisata,” ungkapnya.

Letusan yang unik

Terlepas dari benar atau salahnya ramalan Mbah Ronggo, letusan besar memang tidak terjadi di Kelud pada tahun 2007. Padahal, 3 November 2007 suhu air danau sempat mencapai 74 derajat celsius, jauh di atas normal gejala letusan (umumnya berkisar 40 derajat celsius), dan terjadi getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35 mm).

Dua hari kemudian, terjadi gejala unik dengan munculnya kubah lava di tengah-tengah danau kawah. Kubah lava yang terus membesar itu kini menutup kawasan danau yang luasnya 109.000 meter persegi dan mengeringkan 2,5 juta meter kubik air yang tadinya menggenang di sana.

Keunikan dari Gunung Kelud, yang kerap juga disebut Gunung Kelut (1.731 m dpl), sebenarnya memang terletak pada sulitnya memperkirakan kapan gunung itu akan meletus. Gunung Kelud, berdasarkan survei Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, merupakan gunung api tipe stratovolcano.

Peningkatan aktivitas Kelud biasanya dilihat gejalanya melalui peningkatan suhu danau, kandungan CO2, gas belerang, dan perubahan warna air danau. Gunung Kelud akan meletus secara alami bila sudah terkumpul energi endogen cukup besar sehingga energi alam tersebut mampu menembus atau melontarkan material penyumbat. Dengan kondisi seperti ini, justru dapat terjadi ledakan yang dahsyat dan tiba-tiba.

Ledakan dahsyat Gunung Kelud sudah terbukti dalam peristiwa tahun 1919, yang menewaskan sekitar 5.000 orang.

Upaya mitigasi

Melihat bahaya dari sifat letusan Gunung Kelud, upaya mitigasi sudah mulai dilakukan sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda. Usaha mengurangi air danau kawah merupakan upaya pertama yang dilakukan. Hugo Cool tahun 1907 memimpin usaha penggalian saluran melalui pematang atau dinding kawah bagian barat. Usaha itu berhasil mengeluarkan air 4,3 juta meter kubik.

Setelah letusan tahun 1919, upaya pengurangan air danau kawah terus dilakukan HG Von Steiger (1919-1923), Hettinga Tromp (1923-1928), dan MJ Van Yzendroom (1953-1955). Ahli tambang Indonesia, Adeli Ayub (1966-1967), memimpin penggalian meneruskan terowongan Ampera yang dirintis Yzendroom dan merehabilitasi terowongan Ganesya.

Selain terowongan, upaya pengendalian aliran lahar juga dirintis dengan membangun Dam Badak tahun 1951 meski dam ini kini sudah hancur.

Sikap terhadap bahaya gunung api aktif ini sayangnya kurang mendapat perhatian pemda. Walaupun sebagian kawasan Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang rentan terdampak langsung erupsi Kelud, kesiapan organisasi mitigasi masih lemah.

Selain minim data, sistem keorganisasian juga belum ada. Karena itu, masyarakat tak bisa banyak berharap kepada pemda....

Sumber : kompas.com/cincinapi