Laman

Sabtu, 07 Juli 2012

Makna Cinta dalam Legenda Gunung Meja di Ende

 
 Ende merupakan sebuah kabupaten sekaligus ibukota kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Letaknya persis di Pulau Flores bagian tengah. Sebuah kabupaten dengan luas wilayah 2.046,60 km2 ini memiliki banyak obyek wisata alam yang menarik. Danau tiga warna Kelimutu terdapat di sana. Pemandangan pesisir pantai yang menakjub memiliki daya tarik tersendiri. Satu pesona yang tak bisa dilupakan adalah gunung Meja yang berdiri perkasa. Pemandangan saat mendarat di bandara H. Hasan Aroeboesman Ende dari sisi kiri sangat menakjubkan. Kita dapat melihat semenanjung Ende, dengan Gunung Meja yang menjadi ciri khas Kota Ende. Disebut Gunung Meja karena puncaknya yang rata seperti meja. Gunung ini memiliki legenda yang menyedihkan, cinta yang tidak bersambut. 

Legenda Gunung Meja
Alkisah, terdapat dua pemuda bernama Meja dan Wongge. Meja adalah pemuda rupawan dan baik hati, sedangkan Wongge berpenampilan buruk , baik fisik maupun watak. Kedua pemuda ini mencintai seorang pemudi bernama Iya, kembang desa di kota Ende. Pinangan Meja disambut dengan tangan terbuka oleh Iya, sedangkan pinangan Wongge ditolak. Wongge marah besar. Sakit hati karena cintanya ditolak, Wongge berencana untuk membunuh Meja. Pikirnya, Meja tidak boleh menikah dengan Iya. Maka di suatu malam ketika Meja sedang tidur lelap, Wongge mengendap dan memenggal kepalanya dengan parang. Pulau Koa yang berada di timur Ende adalah pulau karang yang tidak berpenghuni dan berbentuk mirip seperti kepala, yang diyakini sebagai potongan kepala dari Meja. Sedangkan Pulau Ende yang berada di barat Ende dan berbentuk seperti parang jika tampak dari atas, diyakini sebagai perwujudan dari parang yang dibuang oleh Wongge. Gunung Ia adalah gunung berapi yang masih aktif. Jika dia mengeluarkan asap atau mengeluarkan semburan, maka masyarakat Ende meyakini bahwa Ia sedang menangis sedih karena ditinggal mati oleh Meja.

Analisis Antropologis
Legenda tiga gunung, yakni gunung Meja, gunung Wongge dan gunung Iya di atas tidak terlepas dari budaya dan kearifan lokal yang telah menjadi denyut jantung masyarakat Ende. Kebersamaan dan gotong royong di antara sesama masyarakat sangat dijunjung tinggi. Hal ini sangat jelas terekspresikan dalam tarian Gawi. Tarian ini memaknai masyarakat Ende yang sangat plural. Semua bergandengan tangan, bahu – membahu dan gotong royong membangun “tana watu – nua ola” (kampung halaman) tercinta. Budaya gotong royong, kebersamaan, toleransi dan menghargai orang lain ini pula terimplikasi dalam hubungan personal antarlawan jenis.
Masyarakat Ende memaknai kehidupan ini adalah bagian dari membantu dan menghargai sesama. Sikap menghormati sesama, termasuk lawan jenis tidak boleh dicerai-beraikan atas dasar perbedaan apapun. Namun tak dapat dipungkiri seperti dalam kehidupan masyarakat pada umumnya perselisihan selalu sering terjadi. Entah itu alas an cemburu, iri hati dan dendam. Kisah dalam legenda gunung Meja menampilkan sosok Meja, Wongge dan Iya. Meja adalah seorang baik hati dan tidak sombong. Wongge adalah seorang yang berwatak kurang baik. Sedangkan Iya adalah primadona cantik dan baik hati. Kecantikan fisik dan hatinya menjadi daya tarik maha dasyat bagi Meja dan Wongge. Tokoh Meja dalam legenda di atas mau menampilkan sosok orang yang baik hati, jujur, tidak sombong dan kerendahan hati masyarakat Ende. Adapun sosok Wongge mau menampilkan orang yang sombong dan tidak mau bekerja sama. Ia selalu mau menang sendiri, menaruh dendam dan cemburu kepada orang lain. Sementara masyarakat Ende sangat menjunjung tinggi kebersamaan dan pluralitas, anti terhadap cemburu dan dendam. Sikap hidup yang demikian berlaku juga dalam urusan cinta. Seorang pemuda yang apabila pinangannya terhadap seorang gadis tidak diterima, maka ia harus rendah hati dan menerima dengan lapang dada. Ia tidak boleh benci dan dendam. Memakai istilah yang lebih keren, ia harus menjunjung tinggi sportivitas. Artinya menerima dengan rendah hati segala kekurangannya. Dengan menyadari kekurangannya, ia dapat merefleksikan dan mampu menemukan kebaikan. Di sinilah letak sportivitas cinta yang harus dimaknai bagi masyarakat Ende.

Pesan Moral
Aristoteles (384 – 322 SM), seorang filsuf Yunani kuno pernah mencetuskan istilah zoon politikon, bahwa manusia selalu ingin bergaul dan hidup bersama serta selalu berkumpul bersama. Manusia adalah makhluk yang bermasyarakat. Kehidupan bermasyarakat yang ideal menurut Aristoteles, adalah masyarakat yang peka dengan kebutuhan sesamanya. Masyarakat yang saling bekerja sama. Tidak saling iri hati dan cemburu. Singkatnya kita mendambakan masyarakat yang harmonis. Potret masyarakat yang demikian pula yang menjadi dambaan masyarakat Ende.
Legenda Gunung Meja, Gunung Wongge dan Iya di atas sekiranya mau memberikan pesan moral bagi masyarakat Ende khususnya. Masyarakat Ende mendambakan kehidupan yang harmonis dan saling bergandengan tangan satu sama lain. Tidak cemburu dengan kelebihan (kekayaan) orang lain dan menerima kekurangan dengan rendah hati. Tidak memandang sesama sebagai saingan melainkan sebagai sahabat. Masyarakat Ende menerima perbedaan setiap orang dan menerapkan pluralitas sebagaimana manusia yang merupakan makhluk social. Dengan demikian terbentuklah masyarakat ideal yang harmonis dan saling menghargai. Inilah pesan moral yang mau disampaikan dalam legenda Gunung Meja.

Catatan Kritis
Sebagaimana adanya sebuah legenda diciptakan untuk menyampaikan pesan tertentu kepada masyarakatnya. Biasanya pesan itu mengandung moral, etika dan etis-religius. Terlepas benar terjadi atau tidaknya, kisah gunung Meja, gunung Wongge dan gunung Iya memberikan pendidikan nilai tersendiri bagi putra – putri Ende. Cerita itu selalu didongengkan oleh orang tua ketika kecil. Di bangku Sekolah Dasar pun selalu disampaikan sebagai contoh dongeng saat pelajaran Bahasa Indonesia.  Maksudnya jelas, agar generasi muda Ende mewujudkan tana watu – nua ola Ende sare - kampung halaman yang aman dan damai.
Terpaan gelombang globalisasi dan pengaruh iklim ilmu dan teknologi yang kian berkembang cepat memberikan dampak yang negatif bagi media penyampaian pesan moral bagi generasi kita. Pesan moral, etika dan etis-religius kehilangan tempat ketika kita berselanjar di dunia informasi. Sangat mudah kita memperoleh gambar dan video porno di internet ketimbang gambar mengandung pesan moral. Juga sangat mudah kita menemukan gambar orang saling membunuh dan berkelahi ketimbang gambar orang bergandengan tangan dan bekerja sama. Di sisi lain, cerita dongeng dan legenda dipandang irrasional dan abstrak. Seorang anak lebih memilih menonton sinetron daripada mendengar cerita dongeng. Fenomena ini menjadi titik kesadaran baru bagi kita generasi muda, bahwa dongeng dan cerita legenda sangat penting. Bukan karena rasional atau tidaknya, melainkan karena dongeng adalah media penyampaian pesan moral yang masih sangat relevan dan sesuai dengan kearifan lokal masyarakat kita.

 Sumber : FloresNews.com