Laman

Selasa, 17 Januari 2012

Sejarah Orang Sabu Dan Rote


Dalam syair-syair adat masyarakat Sawu diceritakan tentang asal usul nenek moyangnya yang berasal dari suatu tempat yang bernama Jawa Ae, atau disebut Jawa Dida, Kadang-kadang orang Sawu menyebut nama pulaunya dengan Jawa Wawa. Bahkan ada desa diwilayah Mesara yang bernama, Tanah Jawa, Nama Majapahit juga disebut sebagai kerajaan Jawa yang pernah berpengaruh di pulau Raijua dengan adanya wilayah yang disebut Negeri Maja, dan para pemimpinnya disebut dengan Niki Maja.(Kaho, 2005: 8-14)
Ada hal yang menarik untuk diketahui dari filosofi yang dimiliki oleh orang Sawu. Mereka menganggap pulaunya, Rai Hawu seperti makhluk hidup yang membujur dengan kepala di barat yaitu Mahara, perut di tengah pulau, yaitu daerah Haba dan Liae, sedangkan Dimu adalah ekor yang terletak di timur. Namun mereka juga menganggap pulau Sawu sebagai perahu, wilayah Mahara di bagian barat yang bergunung-gunung disebut anjungan tanah (duru rai) sedangkan di daerah Dimu yang merupakan dataran rendah dianggap buritan (wui rai).(Kana, 1983: 31)
Filosofi dan aturan perahu juga terlihat dalam pengaturan bagian kampung. Nama sebutan kampung secara lengkap disebut kampung perahu (rae kowa). Bagian kampung yang lebih tinggi disebut anjungan perahu (duru rae), sedangkan bagian yang lebih rendah adalah buritan (wui rae). Di bagian buritan kampung disebut kemudi kampung (uli rae). Bahkan mereka menyebut tiang dalam loteng rumah sebagai gela, yang juga sebutan bagi tiang layar.(Kana, 1983: 32-33) Rumah adat Sabu ini dikenal dengan Emmu Hawu yang berbentuk rumah panggung dengan arsitektur seperti perahu yang terbalik.(Kaho, 2005: 49) Mereka juga mengadakan upacara menyambut kedatangan dan mengantar keberangkatan perahu Talo Nawa. Menurut kepercayaan orang Sawu perahu Talo Nawa ini adalah perahu gaib yang dianggap datang ke Mahara (Sawu barat) untuk mengantarkan nira sebagai bahan makanan pokok pada musim kemarau, sehingga pohon lontar menghasilkan nira. Upacara ini berlangsung bulan pertama musim kemarau, yang juga menandai awal musim memasak gula dari nira lontar.(Kana, 1983: 40,42)
Dilihat dari makna pemberian nama kampung dan bagian rumah seperti halnya bagian-bagian perahu menunjukkan bahwa tradisi bahari masyarakat Sawu sangat kuat melekat dalam kebudayaan mereka. Meski tradisi bahari mereka tidak terlalu kuat seperti halnya masyarakat Bugis dan Makassar. Namun posisi geografis Sawu sudah menggambarkan bahwa sistem mata pencaharian orang Sawu adalah nelayan yang mengantungkan hidupnya pada hasil-hasil yang diperoleh dari laut. Di samping mereka bercocok tanam di tanah tegalan mereka.
Pulau Roti terletak di bagian ujung barat daya Pulau Timor yang memiliki panjang 80 km dan lebar 25 km. Pulau ini termasuk dataran yang rendah dan kering. Penduduknya hidup dari perkebunan, menyadap nira, peternakan, dan perikanan di lepas pantai. Sejak pertengahan abad ke-17 masyarakat Pulau Roti sudah menjalin hubungan dengan VOC. Dalam tradisi lisan yang dikenal oleh masyarakat Roti, mereka mengenal apa yang disebut dengan tutui teteek (kisah nyata). Dikisahkan adanya seorang nusak di Tola Manu yang melawan kompeni Belanda dan juga dikisahkan adanya keterangan tentang ramainya pelabuhan dagang di Tola Manu. Kisahnya sebagai berikut:
Pulau Roti menamakan Nusak Tola Manu, „Nusak yang membantai kompeni‟ (Nusa Manatati Koponi). Sebelumnya nusak Tola Manu disebut Koli Oe do Buna Oe, kemudian dipendekkan menjadi Koli do Buna…….Dikatakan bahwa ketika Koli do Buna masih merupakan pelabuhan besar, perahu dagang tidak pernah berhenti berdagang mengunjungi Roti dan mereka biasanya berlabuh di kota Leleuk; orang Buton, Makssar, Solor, Sawu, dan Ndau pergi dan datang.(Fox, 1986: 14,26,28)
Dengan demikian dari cerita tutui teteek tersebut digambarkan juga adanya pelayaran dan perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang Buton, Makassar, Solor, Sawu dengan menyinggahi pelabuhan di Pulau Roti.
Sama seperti masyarakat Sawu, masyarakat Sumba juga membagi-bagi wilayah desa seperti bagian sebuah perahu. Di bagian ujung desa terdapat daerah buritan (kiku kemudi), bagian tengah (kani kadua) dan bagian haluan (tundu kambata), disamping itu ada derah yang diberi nama huru kandhu (dayung). (Adams, 1974:332)



Sumber :
Migrasi, Asal Usul Nenek Moyang dan Sumber
Sejarah: Menguak Sejarah Migrasi Berdasarkan
Cerita Lisan Maritim Masyarakat Suku-Suku di
Kawasan Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur
Karangan : Didik Pradjoko.MHum