Pemerintah Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai dalam Aneka Persona dan
Peluang Investasi, Pemerintah Kabupaten Manggarai, Manggarai, 2000, 
Wilayah Cibal termasuk daerah yang terkenal dengan tenunannya. Katanya
tradisi tenun dibawa ke NTT oleh pedagang Islam kira-kira pada abad ke-16.
Tenunan songke adalah tenunan khas daerah Manggarai. Cara
pembuatannya mirip tenunan songket dari Sumatra. Karakteristik tenunan
songke itu lain daripada tenunan ikat yang terkenal yang berasal dari  Flores
Timur dan Pulau Sumba. Warna dasar kain songke hitam sedangkan
motifnya berwarna-warni. Walaupun Cibal terkenal dengan kerajinan
tenunannya, tetapi tidak semua desa di kecamatan Cibal merupakan daerah
tenunan. Hanya beberapa desa di  sana  yang terkenal dengan tenunan
songke. Banyak desa di Kecamatan Cibal di mana penduduknya tidak tahu
sama sekali menenun. Namun desa-desa di daerah penelitian saya, seperti
Bea Mese, Perak, Golo dan Barang semuanya termasuk daerah tenun.
Secara tradisional, hanya kaum perempuan yang boleh menenun. Mereka
baru boleh belajar menenun kalau sudah mendapat menstruasi pertamanya.
Kebanyakan belajar dari ibunya atau kakak perempuannya yang sudah tahu
menenun. Dulu, kaum perempuan menenun untuk mengisi waktu luang saja.
Mereka membutuhkan waktu kira-kira enam bulan untuk membuat benang,
mencelup benang dengan pewarna dan lain sebagainya. Kemudian mereka
mulai menenun selama ‘musim tenun’, dari bulan Mei sampai Oktober,
setelah musim panen, karena pada musim panen kaum perempuan sibuk
membantu di kebun. Kalau mereka bekerja dengan cepat mereka bisa
menyelesaikan dua lembar kain dalam satu tahun. Kain itu dipakai sendiri
atau untuk upacara adat seperti pernikahan. Memang situasi ini sudah
berubah.

Komerialisasi Tenunan Songke

Secara tradisional, penduduk Manggarai hidup dari hasil perkebunan dan
pertanian saja. Kira-kira 15 tahun yang lalu mulai ada perubahan. Tenunan
songke mulai menjadi barang komersial, maksudnya masyarakat Manggarai
di daerah tenun mulai membuat tenunan songke khusus untuk dijual.
Saat ini, hampir semua hasil tenunan songke di wilayah Cibal dibuat untuk
dijual. Yang disimpan sedikit sekali dan biasanya hanya dipakai untuk
upacara adat. Sarung tradisional jarang dipakai lagi untuk pakaian seharihari.
Pada masa kini hampir semua perempuan di daerah penelitian yang di
atas umur 13 tahun tahu cara menenun. Menenun menjadi pekerjaan pokok
bagi kaum perempuan. Tidak ada ‘musim tenun’ lagi karena para penenun
menenun sepanjang tahun. Yang ditenun untuk dijual biasanya sarung
tradisional dan selendang.
Baru-baru ini, kelihatanya sejak krisis moneter, ada beberapa laki-laki yang
mulai menenun juga. Namun jumlahnya masih sedikit sekali karena
pekerjaan ini masih dianggap pekerjaan kaum perempuan.
Para penenun cenderung menenun secara rutin sepanjang hari maksudnya
mereka duduk di bawah mulai pagi sampai malam. Biasanya mereka mulai
bekerja kira-kira jam 8 pagi, setelah menyelesaikan kesibukan menyediakan
makan pagi untuk keluarganya, sampai kira-kira jam 6 sore (waktu matahari
mulai terbenam). Biasanya mereka bangun dari posisi duduknya beberapa
kali untuk beristirahat, mengurus anak-anak, menyediakan makanan atau
melakukan tugas rumah tangga lain. Dalam waktu satu jam, mereka bisa
menghasilkan tenunan selebar kurang lebih empat sampai enam cm. Kalau
dikerjakan dengan cara seperti ini mereka bisa menghasilkan rata-rata
selembar kain setiap dua bulan, atau enam lembar kain setahun. Pada masa
kini para penenun cenderung meningkatkan kreativitas mereka untuk
membuat jenis tenun yang akan menarik minat pembeli daripada menenun
dengan motif tradisional.
Para penenun lebih suka menenun bersama-sama sambil bercakap-cakap
supaya pekerjaan mereka tidak terlalu membosankan. Walaupun demikian
mereka juga harus berkonsentrasi pada pekerjaan mereka karena motif dan
desain yang mereka kerjakan sering rumit dan kompleks.

 1.Penyebab Timbulnya Komersialisasi Tenunan Songke
Ada beberapa alasan yang menjelaskan fenomena komersialisasi tenunan
songke.
Yang pertama, harga hasil panen tidak stabil dan cenderung turun,
tergantung harga komoditas di pasar dunia. Petani di daerah penelitian saya
menyebutkan bahwa zaman dulu harga kemiri bisa mencapai Rp. 7000/kilo
atau kira-kira hampir US$1.50 (sekarang Rp. 5000/kilo = US$ 1.00) dan harga
kopi masih Rp. 20000/kilo atau US$4.00 (sekarang hanya Rp. 3500/kilo =
US$0.50). Perubahan harga komoditas tersebut sangat terasa petani di daerah
penelitian.
Yang kedua, tanah di daerah Manggarai tidak begitu subur lagi akibat banyak
penanaman yang dilakukan hanya untuk hasil bumi untuk perdagangan
(cash-cropping).  Ada  juga dampak el nino yang baru-baru ini membuat
kemarau panjang sehingga hasil panen berkurang yang menyebabkan
pendapatan petani turun juga.
Yang ketiga, biaya hidup yang naik terus-menerus karena keadaan
perekonomian negara yang kurang baik.
Yang terakhir adalah munculnya kebutuhan baru akibat kehidupan modern
yang tidak terhindarkan, misalnya uang yang dibutuhkan untuk pakaian dan
kosmetik. Masa kini kebanyakan warga kampung memakai pakaian barat
yang harus dibeli daripada pakaian tradisional yang bisa dibuat sendiri. Di
samping itu ada kebutuhan untuk biaya pendidikan (sekarang ada harapan
bahwa semua anak akan bisa bersekolah) dan juga uang transportasi (baru
ada kendaraan yang masuk ke kampung. Dulu warga kampung terpaksa
berjalan kaki tetapi sekarang bisa naik truk.) Semua ini yang merupakan hasil
modernitas memerlukan uang.
Empat alasan ini membuat hasil pertanian tidak dapat lagi mencukupi
kebutuhan ekonomi orang Cibal. Penduduknya terpaksa mencari cara lain
untuk menghasilkan uang dan menambah pendapatan keluarganya. Kalau
hanya menunggu panen, mereka akan mendapatkan uang dua kali setahun,
tetapi kalau menenun, mereka bisa mendapatkan uang setiap dua bulan.
Karena alasan-alasan tersebut, mulai ada proses komersialisasi tenunan
songke.

2 . Dua Jenis Penenun
Secara umum, pada masa kini ada dua jenis penenun di daerah penelitian.
Ada yang menjadi anggota kelompok tenun dan ada yang bekerja menenun
sendiri. Secara umum, keadaan warga di wilayah Cibal berbeda-beda
tergantung kalau penenun tersebut menjadi anggota kelompok tenun atau
tidak. Dampak komersialisasi terhadap orang-orang tersebut juga tergantung
kalau mereka menjadi anggota kelompok tenun atau tidak. Karena itu,
penting sekali membedakan dua jenis penenun ini.

i)  Para  Penenun Bukan Anggota Kelompok Tenun
Kebanyakan penenun di daerah penelitian bekerja menenun sendiri.  Para
penenun dari grup ini harus membeli benangnya dari toko, (tersedia di
Ruteng, Pagal dan di kios kecil di setiap kampung), harganya kira-kira Rp. 70
000 (A$14.00) untuk satu sarung (4 meter).  Saya menyadari beberapa LSM di Ruteng, misalnya Yayasan Tunas Jaya, yang mengatur program-program untuk membina ketrampilan para penenun dari kampung, misalnya kursus penenunan, penjahitan dan sulaman. Yang mengikuti kursus-kursus tersebut mungkin merupakan satu jenis penenun lain. Namun LSM-LSM ini di luar daerah penelitian dan tidaktermasuk dalam laporan ini.
Kemudian seorang penenun menyiapkan benangnya
dan mulai menenun. Waktu yang dibutuhkan kira-kira dua bulan untuk menyelesaikan satu sarung. Kalau sarung itu dipesan oleh teman atau saudara (yang biasanya tinggal di kota), seorang penenun mengantarkan kain itu dan menerima uang hasil penjualan yang telah disetujui oleh kedua pihak. Kalau pesanan, biasanya ada batasan waktu dan harganya lebih mahal. Kalau tidak ada pesanan, hasil tenun itu harus dibawa ke pasar Ruteng untuk dijual atau dijual kepada penjual keliling yang melewati kampung. Biasanya seorang penenun mendapat uang sekitar Rp. 100 000 (US$20) sampai Rp. 150 000 (US$30) untuk satu sarung, tergantung desainnya dan banyaknya tenunan yang dipasarkan (demand and supply). Untuk penenun yang membutuhkan uang segera dan harus menjual hasil tenunannya secepat mungkin, harganya pasti lebih
rendah. Kalau sarungnya sudah dijual, seorang penenun akan membeli benang lagi
dan prosesnya mulai dari awal lagi. Untuk pekerjaan selama dua bulan seorang penenun akan mendapat sekitar Rp. 20 000 (US$4.00) sampai Rp. 70 000 (US$14.00) saja untuk dia sendiri. Biasanya untuk yang bukan anggota kelompok tenun, para penenun jarang mendapakan untung yang nyata karena uang penjualan hasil tenunnya hanya cukup untuk membeli benang kembali.

ii) Para Penenun Anggota Kelompok Tenun ‘Sinar Kencana’
Salah satu bukti adanya proses komersialisasi tenunan songke adalah
perkembangan beberapa kelompok tenun yang mulai bermunculan di
Kecamatan Cibal. Di setiap kelompok tenun, ada ketua yang mengurus
administrasi dan mencari langganan, serta beberapa anggota kelompok yang
menenun. Ketua kelompok menerima pesanan dan memberikan instruksi
kepada penenun di kampung.
Di daerah penelitian ada sebuah kelompok tenun, namanya Kelompok Tenun
‘Sinar Kencana’.  Ada  kurang-lebih 50 perempuan penenun di daerah.
Sisir yang merupakan bagian perkakas tenun juga harus diganti setiap dua tahun.
penelitian yang menjadi anggota kelompok tenun ini. Kelompok ini, yang
pusatnya di Pagal, didirikan Tante Nela pada tahun 1990. Tante Nela sudah
lama tertarik pada masalah kesetaraan gender, khususnya keadaan
perempuan di Manggarai. Tujuannya membentuk kelompok tenun ini adalah
untuk memperdayakan kaum perempuan di Kabupaten Manggarai dan pada
waktu yang sama juga melestarikan pengetahuan tenunan tradisional.
Di kelompok ini, Tante Nela menerima pesanan, biasanya dari orang
Manggarai yang cukup kaya yang tinggal di Ruteng,  Jakarta  atau Kupang.
Sering dia menerima pesanan untuk sarung serta kain yang akan dijahit
dibuat pakaian. Tante Nela sendiri yang membuat desain yang unik, lalu
menentukan warnanya. Kemudian desain bersama dengan benangnya
dikirim ke kampung dan diberikan kepada seorang anggota kelompok yang
mempunyai waktu untuk menenunnya. Kalau sudah selesai, hasil tenunnya
diambil Tante Nela dan penenun tersebut menerima uang untuk kerjanya.
Kelompok Tenun ‘Sinar Kencana’ merupakan kelompok tenun yang
‘eksklusif’ karena anggota-anggotanya mempunyai ketrampilan yang
istemewa yaitu mereka bisa membaca gambar motif. Mereka membuat kain
yang berkualitas tinggi dan unik motifnya. Mereka memakai benang yang
cukup mahal, bahkan tiga kali lebih mahal dari benang yang biasanya dipakai
para penenun di kampung. Tante Nela selalu memberikan batasan waktu
untuk menyelesaikan tenunan pesanan. Karena hal-hal tersebut Tante Nela
bisa mendapatkan harga yang cukup baik untuk hasil tenunnya.
Tante Nela yang menyediakan benang kepada anggota kelompoknya dan
mendapat pesanan untuk mereka. Ini berarti mereka tidak perlu membeli
benang sendiri atau pergi menjual hasil tenunnya di pasar. Mereka dibayar
untuk kerja menenun mereka saja, lain dengan para penenun bukan anggota
kelompok tenun. Karena itu, jelas bahwa anggota kelompok tenun lebih
berhasil dalam pekerjaannya dibandingkan dengan para penenun yang
bekerja menenun sendiri.

2.3 Pasaran untuk Tenunan Songke
Secara umum, kelihatannya ada tiga kelompok orang yang membeli songke.
Yang pertama, orang Manggarai yang tinggal di Ruteng, yang cukup kaya. Di
sana songke itu cukup laku karena digunakan sebagai busana sehari-hari
(fashion item). Yang kedua, orang Manggarai dari kampung yang bukan
daerah tenun yang memerlukan sarung songke untuk upacara adat. Yang
ketiga, turis yang datang ke Ruteng. Tiga kelompok ini merupakan pasaran
untuk tenunan songke.
Terlihat jelas bahwa pasaran untuk tenunan songke sangat terbatas. Hampir
semua tenunan songke dijual di Ruteng atau di daerah lain di Manggarai
yang bukan daerah tenun. Pasarannya masih terbatas pada pasar lokal saja
yang belum diperluas. Belum ada tenunan Manggarai yang dijual di toko-toko
di Jakarta atau Bali apalagi di luar  Indonesia .
Ternyata ada lebih banyak penenun daripada pembeli kain songke. Karena
itu harga kain songke cenderung tetap rendah. Kadang-kadang selembar
kain bisa mencapai harga jual yang cukup baik, misalnya tenunan yang
dihasilkan oleh Kelompok Tenun ‘Sinar Kencana’. Penyebabnya adalah
bahwa kain tersebut berkualitas tinggi dan unik motifnya. Namun pasaran
untuk kain tersebut juga sangat terbatas karena hanya orang kaya dari
Manggarai yang mampu dan ingin membelinya. Pada umumnya, para
penenun mendapatkan uang sedikit sekali untuk hasil tenun mereka.