Laman

Senin, 26 Desember 2011

Sejarah Agama Islam Di Maumere - Flores


Nama Ata Goan yang mengandung pengertian Umat Islam, sudah membudaya dikalangan masyarakat Krowe dan Krowin, diperkirakan sejak abad ke-XVI. Nama Ata Goan mulai tergusur pada tahun 1990 yang tercatat dalam buku SIKKA KROWE I, tulisan Oscar P.Mandalangi. pembagian wilayah budaya dalam buku Sikka Krowe I ini, mengandung 3 kelainan sejarah nama wilayah Etnis yaitu Sikka Krowe, Ata Sikka Muhang, dan Ata Tidung Bajo. Sejak tahun 1990 para penulis dan Peneliti di kabupaten Sikka sudah terseret menggunakan nama-nama etnis yang mengandung kelainan sejarah ini. Dan karena nama-nama yang berasal dari sebuah pembelokan fakta sejarah, maka terjadilah kesimpangsiuran pembagian wilayah budaya, paling kurang sudah tercatat sebanyak 8 versi pembagian wilayah budaya di kabupaten Sikka. Masyarakat adat kabupaten Sikka sepertinya sudah kehilangan jati diri.
Kelainan sejarah nama 3 wilayah etnis tersebut di atas akan dijelaskan sebagai berikut 


Pertama : Nama Ata Sikka Krowe
Nama Sikka Krowe berasal dari nama dua etnis, yaitu Ata Sikka dan Ata Krowe, yang memiliki latar belakang sejarah yang sangat jauh berbeda. Ata Sikka adalah sebuah etnis yang berasal dari campuran rupa-rupa bangsa (Bdk. Hikayat Kerajaan Sikka Hal.129-134). Sedangkan Ata Krowe adalah penduduk asli di Nuhan Ular Tanah Laran (Kabupaten Sikka). Nama Sikka Krowe merupakan sebuah pembelokan fakta sejarah yang memberangus keberadaan etnis Krowe sebagai sebuah nama keaslian budaya.
Kedua : Nama Ata Sikka Muhang
Etnis Sikka Muhang disebutkan adalah masyrakat adat dari Wilayah Heak Hewer Klinga dan Werang. Maka nama Sikka Muhang merupakan sebuah pembelokan fakta sejarah, yang hendak memberangus keberadaan Etnis Krowin, yang adalah nama keaslian wilayah budaya. Ata Sikka adalah sebuah etnis yang berasal dari rupa-rupa bangsa. Ata Muhan ( Muhang ) adalah salah satu sub etnis dari etnis Lamaholot. Kerajaan Larantuka ( onder afdeling Flores Timur ). Baik Ata Sikka ,maupun Ata Muhang tidak mempunyai kaitan sejarah asal-usulnya. Ata Krowin adalah sebuah etnis keturunan Dua Krowe asal Meken Detun. Ata Krowin artinya orang yang berasal dari Krowe.
Ketiga : Nama Ata Tidung Bajo
Nama Ata Tidung Bajo merupakan penggabungan nama dari dua suku pendatang yaitu Ata Tidung adalah serapan nama dari orang yang berasal dari Tidore / Kerajaan Ternate / Maluku, dengan Ata Bajo adalah serapan nama dari orang yang berasal dari Wajo / Sulawesi Selatan. Munculnya nama etnis Tidung Bajo pada tahun 1990, merupakan sebuah pemberagusan keberadaan nama etnis Goan, yang sudah membudaya sejak tahun 1600-an. Nama Tidung Bajo adalah sebuah pembelokan fakta sejarah.


Pada tahun 2010 ini Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka mempunyai versi pembagian wilayah budaya, yaitu Ata Sikka Krowe, Ata Muhang-Tana Ai, Ata Lio, Ata Palue, dan Ata Tidng Bajo. Tersirat Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka mengutip versi Oscar namun etnis Sikka Muhan ( Krowin ) dan etnis Muhang digabung menjadi Etnis Muhang – Tana Ai. Penamaan etnis Muhan-Tana Ai adalah sebuah pembelokan fakta sejarah.

Dalam upaya menggali, mengembangkan, dan melestarikan sejarah dan nilai tradisional, yang nantinya menjadi warisan sejarah dan budaya bagi generasi berikutnya, kebenaran sejarah dan keaslian nilai budaya harus dijunjung tinggi.
Sebagai upaya mendukung Dinas Pariwisata dalam usaha melestarikan wilayah budaya yang kontekstual dan mengandung keaslian budaya, dengan ini saya menguraikan sebuah topik yang berjudul NAMA ATA GOAN SEBUAH BUKTI SEJARAH PENGARUH ISLAM DI KABUPATEN SIKKA. Dengan susunan : (1) Asal Usul Ata Goan. (2) Asal Usul Ata Bajo. (3) Asal Usul Ata Tidung.

1) Asal Usul Ata Goan
Nama Ata Goan sebuah nama yang sudah membudaya dalam masyarakat Kabupaten Sikka, kurang lebih sejak tahun 1600-an. Pada mulanya hanya mengandung pengertian orang yang berasal dari Gowa sebuah kerajaan di Sulawesi Selatan, yang menanamkan pengaruh agama Islam di Nuhan Ular Tana Laran ( Kabupaten Sikka ). Kemudian seputar tahun 1860-an nama Ata Goan meluas pengertiannya menjadi umat Islam yang berdatangan dari Gowa, Wajo, Bugis, Makasar, Bonerate, Buton dan Tidora.
Sejarah daerah NTT, mencatat adanya 3 kerajaan Islam yang berperan mengembangkan kekuasaan Islam di Indonesia Timur yaitu Kerajaan Gowa ( Sulawesi Selatan ), kerajaan Bima (Sumbawa) dan Kerajaan Ternate (Maluku). Flores Barat dipengaruhi Kerajaan Bima, Flores Tengah, dipengaruhi Kerajaan Gowa, serta Flores Timur, Alor, dan Pantar, dipengaruhi Kerajaan Ternate ( Bdk.Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah NTT Hal.7-8 ).
Wilayah Nuhan Ular Tana Loran (Kabupaten Sikka) masuk dalam pulau Flores Tengah, maka dapat dipastikan Ata Goan berasal dari Gowa, dan selanjutnya berarti umat Islam. Beberapa fakta sejarah memperkuat nama Ata Goan sebagai nama etnis campuran dari umat beragama Islam.

Pertama : Lagu rakyat “ KOKO GANU GOAN SORA”
Di kabupaten Sikka adalah lagu rakyat yang berjudul “ Koko Ganu Goan Sora ( kokoknya bagi orang Goan bernyanyi ). Syair-syairnya berbunyi sebagai berikut :
MANU-MANU LAU KANTOR
KOKO GANU GOAN SORA
RATA UTA KAMPUNG BERU
GETOR GANU JAWA DENDANG
yang artinya :
AYAM-AYAM DI KANTOR
KOKOKNYA BAGAI ORANG GOAN BERNYANYI
BERKISAR DI KAMPUNG BERU
KOTEKNYA BAGAI ORANG JAWA BERDENDANG
Syair lagu tersebut mengandung makna simbolik yang memberi arti kurang lebih sebagai berikut :
a. Ayam-ayam di kantor mengandung arti Laskar Goa yang berada di markasnya (di kampung Beru).
b. Kokoknya bagai orang Goan bernyanyi, mengandung arti lantunan suaranya bagai orang Islam bersholat subuh.
c. Berkisar di kampung Beru, mengandung arti Laskar pembantu yang tinggal di kampung Beru.
d. Koteknya bagai orang Jawa berdendang, mengandung arti para Laskar pembantu dari Jawa (Larantuka- yang umumnya berasal dari Solor) selalu berdendang diiringi gambus di malam hari.
Laskar Gowa seputar tahun 1860 telah menyinggahi Nuba Nanga Wair Otang, sebuah wilayah ulayat dari Hoak Hewer Nele. Wair Otang menjadi pelabuhan, markas berkarang , dan tempat upacar menolak bala (SISA SOBA). Kemudian orang Gowa itu memberi nama Kampung Beru.
Kedua : Pernyataan Bapak Abdul Rasieq Wahab.
Bapak Abdul Rasieq Wahab seorang toko Islam di kampung Beru, mantan anggota BPH dan Camat Maumere. Ketika diwawancarai tentang hubungan orang Islam dengan masyarakat Kabupaten Sikka oleh Paulus Nong Susar ( Penulis buku Mengarung Samudera Bangsa atau MSB ) seputar tahun 2003 menjelaskan, “ sejak abad 17 pelaut-pelaut dari Gowa ( Sulawesi Selatan) sudah singgah di Sikka, untuk memperbaiki perahu motor atau kapal dan juga untuk mengambil air minum. Kemudian ada yang mulai menetap, sehingga saat ini, orang menyebutkan ATA GOAN artinya orang yang berasal dari GOWA (Bdk. MSB Hal.81)
Ketiga : Pernyataan Bapak Modestus Nidi
Bapak Modestus Nidi adalah seorang mantan anggota DPRD II Sikka. Beliau juga menjelaskan kepada Paulus Nong Susar bahwa Ata Goan artinya Kaum Muslim. “…ketika Don Yuan dan Don Alesu bersama rombongan tiba di Solor, disana sudah ada pasukan tentara Goa = Ata Goan, yang artinya kaum Muslim, asal dari kerajaan Goa (MSB Hal.108).
Keempat : Pernyataan Bapak Paulus Nong Susar.
Bapak Paulus Nong Susar adalah anggota Divisi Litbang Yayasan Flores Sejahtera dan Penulis Buku Mengarung Samudera Bangsa, sekarang anggota DPRD II Sikka. Beliau merombak total pembagian wilayah udaya versi Oscar P. Mandalangi. Beliau menghapus hilangkan nama Ata Sikka Krowe, Sikka Mohang, dan Tidung Bajo. Ata Sikka Krowe menjadi Ata Sikka-Lela dan Ata Krowe. Ata Sikka Muhang, menjadi Ata Krowin-Tana Ai dan Ata Tidung Bajo jadi Ata Goan (Bdk. MSB Hal. 30-31).
Dengan demikian terlihat jelas bahwa masyarakat Nuhan Ular Tana Loran (Kabupaten Sikka), hanya mengenal nama Ata Goan sebagai kelompok etnis yang beragama Islam di kabupaten Sikka sejak tahun 1600-an. Sedangkan nama etnis Tidung Bajo baru muncul pada tahun 1990, atas nama perorangan yakni bapak Oscar P. Mandalangi.

2) Asal Usul Ata Bajo
Dari catatan sejarah daerah NTT dapat kita ketahui bahwa perkembangan agama Islam di pulau Timor, Sumba, dan Flores dipelopori oleh Amir Bahren dan Hamzah Bahren dari Bangka. Di pulau Flores yaitu di pulau Pemana, pulau Babi dan pantai pulau Flores, peranan suku Bugis, Makasar, Wajo dan Buton cukup besar. Di daerah tersebut terdapat kampung-kampung Bugis, Wajo, Makasar dan Buton, yang merupakan kampung-kampung Islam. (Bdk. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah NTT Hal.21).
Di kabupaten Sikka di desa Geliting, kecamatan Kewapante ada nama Kampung BAJO yang berasal dari nama WAJO, sebuah kerajaan Islam di Sulawesi Selatan yang mengembangkan agama Islam di Nuhan Ular Tana Loran. Nama kampung Bajo telah berubah menjadi kampung Geliting pada tahun 1905. Nama Bajo masih terus dikenang dalam nama Dusun Bajo, di seputar Pasar Geliting sekarang ini.
Seputar tahun 1860, pala Laskar dari Wajo-Sulawesi Selatan menyinggahi Nuba Nanga Ban Bihan, wilayah ulayat dari masyarakat Wolon Dobo, Hoak Hewer Hewokloang, Kerajaan Kangae. Wilayah Nuba Nanga adalah pelabuhan, markas untuk berkarang, dan tempat upacara menolak bala. Tempat itu diberi nama Ban Bihan karena aliran air (banjir) telah merobek-robek batu karang dipinggir pantai itu. Dari bongkah-bongkah batu karang itu, keluar mata air, karena itu Ban Bihan disinggahi para pelaut untuk mengambil air minum.

KAMPUNG WURING saat ini
Kemudian orang-orang Wajo mulai menetap di Ban Bihan, dan membangun rumah tinggal diseputar Ban Bihan, lalu tersebutlah Natar Bajo atau kampung Bajo. Pada setiap hari Jumat terjadi pertemuan jual beli dan tukar menukar barang antara Ata Krowe dan Ata Bajo. Maka tempat pertemuan jual beli itu disebut Regang Bajo. Regang bajo ( Pasar Bajo) terus berlangsung dari tahun 1860 sampai tahun 1905.
Pada tahun 1905 Raja Nai Juje / Raja Kangae ke- 39 (1902-1925) mulai mengembangkan Pasar Bajo dengan membangun toko-toko. Toko-toko itu dikontrakkannya kepada orang Cina. Dengan ini Ata Bajo lalu berpindah ke Wuring, lalu Kampung Bajo berubah nama menjadi Kampung Geliting dan Regang Bajo (Pasar Bajo) berubah nama menjadi Pasar Geliting, yang dipakai sampai dengan sekarang. Nama Geliting diduga kuat berasal dari nama orang Cina pertama yang datang ke Bajo yaitu GO LIE TING. Karena ada orang Cina di Geliting, ada yang bernama GO TI TI, GO A PANG, Go Hon Tjui, dan Baba Ting.
Demikianlah sejarah asal-usul Ata Bajo, yang berasal dari Wajo (Sulawesi Selatan) dan menetap di Kabupaten Sikka ini sejak tahun 1860. Ata Bajo adalah salah satu unsur dari Etnis Ata Goan atau Etnis yang beragama Islam di Kabupaten Sikka.

3) Asal Usul Ata Tidung
Kedatangan Ata Tidung ke Nuhan Ular Tana Loran ( Kabupaten Sikka ) hampir bersamaan dengan kedatangan Ata Wajo. Ata Tidung adalah orang yang berasal dari Tidore, kerajaan Ternate di kepulauan Maluku. Sejarah daerah NTT mencatat bahwa kerajaan Ternate mempunyai peranan cukup besar dalam pengembangan agama Islam di Flores Timur, Alor dan Pantar. Karena itu orang Tidore juga termasuk di dalamnya, dan datang juga ke pasar Bajo untuk tukar menukar barang. Mereka membawa ikan, garam, kapur untuk dipertukarkan dengan jagung, kacang hijau dan kacang-kacangan lainnya, buah-buah, umbi-umbian, kapas, dan lain-lain.
Mereka biasanya datang ke pasar Bajo sejak hari Kamis pagi yaitu sehari sebelum pasar. Pada hari Kamis pagi buta, Ata Krowe sudah menunggui orang Tidore yang disebutnya Ata Tidung. Karena itu hari Kamis ini disebutlah Aban Tidung. Menjelang terbitnya matahari pada hari Kamis itu, beriring-iringan “ SOPE TIDUNG” yang datang dari Timur menuju Pasar Bajo ketika itu Ata Tidung hanya sekedar menyinggahi untuk berpasar. Di Natar Bajo dikenal nama Aban Tidung dan di Wuring ada nama Mage Tidung.
Ata Tidung berasal dari Tidore, Kerajaan Ternate-Maluku. Ata Tidung merupakan salah satu unsur dari etnis Ata Goan, karena mereka juga beragama Islam.
Dari uraian tersebut di atas, sudah cukup jelas membuktikan bahwa nama Etnis dari kelompok sosial masyarakat yang beragama Islam adalah ETNIS GOAN ata ATA GOAN. Sedangkan nama ETNIS TIDUNG BAJO, hanyalah sebuah pembelokan fakta sejarah, yang memberangus kebenaran sejarah dan keaslian budaya.
Semoga pengembangan dan pelestarian sejarah dan nilai tradisional di Kabupaten Sikka, bertumpu pada kebenaran sejarah dan keaslian budaya.