Laman

Rabu, 28 Desember 2011

Pasar Boru,Pasar Tradisional Mingguan Yang Semakin Menggeliat

Sejak dahulu kala pasar Boru menjadi agenda rutin bagi para petani dalam memasarkan hasil panenan dan ajang kumpul para pedagang dari berbagai pelosok di flores Timur khususnya di Kecamatan Wulanggitang dan daerah sekitar di kabupaten sikka.Tahun 80-an pasar Boru masih menempati areal kantor desa sekarang dan BPR.
Pasar yang selalu diadakan setiap hari senin tersebut mulai bergeliat dan didatangi pedagang dari daerah yang jauh sejak minggu soreh atau malam.Mereka bermalam di areal pasar yang terkesan seadanya atau di rumah-rumah kerabat atau masyarakat sekitar pasar.Truk kayu yang dimodifikasi dan diberi bangku untuk duduk penumpang hilir mudik mengantar pedagang dari pelosok kecamatan Wullanggitang.

Ajang Petani Memasarkan Hasil Kebun
Berbagai hasil pertanian dipasarkan disini.Petani dan Nelayan dari pelosok desa menempuh jarak yang jauh yang kadang harus ditempuh  dengan berjalan kaki hanya untuk bisa menjual barang dagangan dan membeli kebutuhan hidup lainnya.Petani Lamika terkenal dengan garam yang dijajakan di dalam soka ( semacam termos,bulat lonjong,yang dianyam dari daun aren/tuak). Nelayan Nobo atau watabuku membawa ikan hasil tangkapan atau ikan asin.Ikan sembe menjadi favorit diantara ikan asin yang dijajakan.Beberapa petani dari Hokeng dan sekitarnya menjajakan ubi ( ubi cerati ) yang berwarna merah,kuning dan ungu.Banyak yang membawa kopi,kopra dan tembakau.Sistem barter masih kental dilakukan sekitar tahun 80-an.Kesepakatan ini terjalin antar sesama  penjual dengan didahului oleh kesepakatan yang dilakukan dua orang tersebut.Waktu itu kopra menjadi andalan petani.Truck pengangkut kopra berjejer sepanjang pasar,setelah ditimbang kopra segera diangkut ke truck kayu tersebut.Kebutuhan pokok seperti sandang dipasarkan pedagang dari Maumere dengan membawa muatan di truck miliknya.Intinya,pasar tradisonal ini menjadi ajang kumpul penjual dan pembeli,petani dan pengepul hasil pertanian.


Kondisi Pasar saat Ini
Kini pasar Boru sudah berpindah ke sisi selatan ( ke arah menuju desa podor,± 600 meter dari tempat dahulu) dengan bangunan yang sedikit lumayan.Los beratap seng dengan kios-kios dan lapak bongkar pasang yang terbuat dari kayu memenuhi areal utama pasar.Di depan dan belakangnya dijumpai kios-kios yang dibuat sederhana dari bambu (keneka) untuk berjualan kebutuhan sekunder.Pedagan kecil dari desa masih setia seperti dulu duduk berderet di sekitar jalan dengan menjajakan hasil kebun seadanya.Mereka hanya mengandalkan uang yang didapat untuk membeli berbagai kebutuhan hidup yang tentunya lebih murah bila dibandingkan dengan berbelanja di kios desa mereka.Sejak pagi  pedagang dan pembeli tumpah ruah di areal pasar. Jam 7 pagi,keriuhan pasar mulai terdengar.Penjual pakaian beradu kencang suara dengan penjual obat tradisional.Penjual VCD atau DVD memperdengarkan lagu lewat speaker.Suply listrik PLN yang Cuma melayani di atas pukul 18.00 wita,membuat kegaduhan pasar bertambah dengan suara generator-generator listrik milik pedagang.
Tidak tertampungnya pedagang kecil di dalam areal pasar membuat mereka harus menjajakan dagangan disisi kiri-kanan jalan aspal sekitar pasar.Kadang mereka harus menggeser dagangan karena mobil yang lewat terhalang barang dagangan.Pedagang pendatang menguasai pasar.Dengan modal yang besar mereka menempati los-los utama dan menjual kebutuhan sandang kwalitas seadanya dengan harga selangit.Ketika beberapa kali berkunjung ke pasar ini ketika berlibur ke kampung,saya sedih melihat kondisi pedagang kita yang terpinggirkan.Tidak adanya pilihan membuat mereka terpaksa membeli kebutuhan sandang dengan opsi diatas.


Saatnya Kembali
Soreh hari sekitar jam 15.00 wita satu persatu pedagang dan pembeli mulai bersiap beranjak pulang.Truck dan bus dari Maumere bersiap mengankut penumpan g.begitu pula truck kayu dan angkot antar desa dan kecamatan sudah dipenuhi barang dan penunpang.Bagai angkot penuh dengan berbagai barang belanjaan yang diikat tinggi menjulang.Banyak pembeli yang membeli hasil kebun untuk dijual lagi esok hari di pasar Oka di larantuka.Pedagang yang lainpun rata-rata akan ke Larantuka dan bermalam di areal pasar Oka menanti hari pasar esok harinya.Senyum terlihat dari wajah-wajah lusu.Kaum Ibu dari kabupataen Sikka yang bisa dikenali dari pemakaian sarung khas daerahnya dengan konde yang melingkar ke atas bersiap di dalam mobil kayu.Pedagang dari desa sekitar berjalan kaki berombongan sambil memikul barang belanjaan.Pedagang anatar daerah dan distributor (pengumpul dan pedagang) menaikan barang ke atas mobil sewaan dan bersiap ke Larantuka.Mereka membeli hasil pertanian dan akan dijual lagi ke Larantuka.Gerobak kayu sewaan hilir mudik mengangkut barang belanjaan untuk di bawa ke desa terdekat.Menjelang senja yang tersisa hanyalah sampah yang dibereskan petugas pasar.Mereka kembali ke tempat masing-masing dan kembali bertemu minggu depan di hari senin di pasar yang sama.
Sebagai pasar mingguan,pasar ini menjadi sebuah oase bagi warga kecamatan sekitanya terutama pedagang dan petani. Ramainya aktifitas dan pedagang yang ada memberi kesan pasar ini sudah melebih daya tampung.Sudah saatnya pasar ini diperluas sehingga bisa memberi ruang bagi pedagang kecil untuk tertampung di dalamnya.Perlu dibuat los-los sesuai jenis dagangan dan dikenakan retribusi yang tidak memberatkan bagi petani yang hanya menjual hasil kebun seadanya.Sentuhan tangan pemerintah diperlukan sehingga denyut ekonomi sekala besar yang terjadi seminggu sekali lebih tertata rapih dan tidak semrawut.Pembeli akan lebih leluasa dan nyaman bila memang ini dibutuhkan.

Boru pun kembali sunyi,terlelap dalam dingin.Ketika petang hampir setiap rumah mengalun lagu yang diputar dari VCD dan DVD.Jam 20.00 wita semua terdiam,sepi,terlelap dalam tidur,didekap dinginya malam.

Jakarta,29-12-2011