Laman

Rabu, 07 Desember 2011

Jenis Fauna Langka Yang Ada di Nusa Tenggara Timur ( I )


Komodo
Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanus komodoensis), adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora.
Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup.
Komodo ditemukan oleh peneliti barat tahun 1910. Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat mereka populer di kebun binatang. Habitat komodo di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas manusia dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, didirikan untuk melindungi mereka.


Kuda Sumba
Kuda Sandel, atau lebih lengkap kuda Sandalwood pony, adalah kuda pacu asli Indonesia yang dikembangkkan di Pulau Sumba. Konon kuda ini memiliki moyang kuda arab yang disilangkan dengan kuda poni lokal (grading up) untuk memperbaiki sejumlah penampilannya. Nama "sandalwood" sendiri dikaitkan dengan cendana ("sandalwood") yang pada masa lampau merupakan komoditas ekspor dari Pulau Sumba dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya.
Menurut catatan J. de Roo pada tahun 1890, kuda telah menjadi komoditi perdagangan orang Sumba ke daerah lain di Nusantara paling tidak sejak 1840 melalui Waingapu yang kebanyakan dilakukan oleh bangsawan setempat.. Populasinya sempat menurun menjelang pertengahan abad ke-20 akibat meluasnya penyakit dan juga persaingan dari ternak sapi ongole Sumba. Pada masa kini, perbaikan mutu dan penampilan kuda sandel telah menjadi program nasional, dilakukan melalui program pemuliaan murni dan grading up dengan persilangan terhadap kuda "thoroughbred" asal Australia untuk kecepatan dan tenaga.


Kuda sandel memiliki postur rendah bila dibandingkan kuda-kuda ras dari Australia atau Amerika. Tinggi punggung kuda antara 130 - 142 Cm. Banyak dipakai orang untuk kuda tarik, kuda tunggang dan bahkan kuda pacu. Keistimewaannya terletak pada kaki dan kukunya yang kuat dan leher besar. Ia juga memiliki daya tahan (endurance) yang istimewa. Warna rambutnya bervariasi: hitam, putih, merah, dragem, hitam maid (brownish black), bopong (krem), abu-abu (dawuk), atau juga belang (plongko).
Kuda ini sampai sekarang masih merupakan kuda yang diternakkan di Pulau Sumba dan dikirim ke pulau-pulau lain seperti Jawa, Madura, dan Bali untuk dipergunakan sebagai kuda tarik, kuda tunggang serta kuda pacu. Lomba pacuan kuda Sandel masih bisa dinikmati di berbagai daerah di Indonesia terutama di Jawa, Madura, dan, tentu saja, Sumba.
Kabupaten Sumba Timur memasukkan kuda sandel pada lambang daerahnya.


Timor Monitor
Monitor Timor atau Spotted Pohon Monitor (Varanus timorensis) adalah spesies kadal monitor kecil asli pulau Timor barat dan timur.

 TimorMonitor umumnya hijau gelap atau hampir berwarna hitam, dengan bercak emas kuning terang sepanjang punggungnya dan pewarna kuning jerami ringan pada bagian bawahnya. Mereka memiliki hidung runcing, penglihatan sangat baik, pendengaran yang sangat baik, gigi tajam, dan ekor panjang. Mereka juga sudah sejak lama, cakar yang tajam sangat cocok untuk memanjat. Spesies ini tumbuh dengan panjang 2-2/12ft (61-68cm lingkar).

Timor Monitor hidup di pepohonan, kadal siang hari. Makanan mereka terdiri dari berbagai hal, termasuk: serangga, kalajengking, tikus kecil, dan reptil lainnya, seperti tokek dan ular kecil. Pembiakan berlangsung dari Desember hingga Maret, dan mengeram  hingga 11 telur yang diletakkan dan menetas selama tiga sampai empat bulan, tergantung pada suhu rata-rata. Ukuran panjang anaknya  sekitar 5 inci , namun tumbuh dengan cepat.
Monitor Timor ditemukan di Indonesia, khususnya pulau Timor, Rote dan Sawu, di Timor Timur.

Timor monitor termasuk dalam kelompok biawak jenis Odatria (Dwarves Monitor) Species group: V. timorensis
  • V. timorensis (Timor Monitor) --> Timor
  • V. auffenbergi (Peacock Monitor) --> Rote
  • V. similis (Grey-spotted Tree Monitor) --> Papua
Sumber : Wikipedia Indonesia